Bagian 3 Ka’bah dan Allah sebagai Keluarga Tuhan/Bintang yg dipuja di Arab

1. KA’BAH sebagai Kuil dari Pemujaan Keluarga Tuhan

Kaabah di Mekah adalah satu dari banyak Kabah cabang dari Kabah Pusat di Taif; bentuk bangunannya sama dan juga punya fungsi religius pagan yang sama. Islam adalah sebuah bentuk Tradisi Pemujaan Keluarga Tuhannya Arab dijaman Muhammad. Tirai yg menyembunyikan kenyataan ini rubuh jika kita pelajari asal muasal ‘agama’ islam. Ibnu Abbas, sepupu Muhammad dan juga salah seorang penulis hadis, menceritakan dua rukun haji dari suku Quraish. Salah satu perjalanan rukun haji itu adalah ke kota Taif. [1]
[1. Ibn Abbas in Tabari, Jami’, xxx, 171. cited by Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page, 205]

Di Taif ini juga ada bangunan yg disebut Ka’bah Ellat atau Ka’bah Matahari. Ka’bah ini sangat penting dan lebih tua dari Ka’bah di Mekah. Semua orang arab, termasuk suku Quraish-nya Muhammad ikut ritual di Ka’bah ini. Ka’bah di Taif persis sama dengan Ka’bah di Mekah dan punya fungsi religius yg juga persis sama. Seperti Ka’bah yg di Mekah, yang di Taif juga punya lembah suci dimana tidak boleh ada pembunuhan (binatang/manusia). Ka’bah Taif juga melakukan ritual yang sama, yang ditiru oleh Ka’bah Mekah. Ka’bah Taif juga ditutupi oleh Ishtar, kain penutup seperti yang sekarang kita lihat di Ka’bah mekah. Keduanya punya ‘halaman’ atau area suci. Tak seorangpun boleh menebang pohon atau membunuh binatang yg ada disana.Siapapun yang masuk kesana sebagai pengungsi akan dilindungi. Keduanya juga punya sumur yang dipakai sebagai tempat menyimpan hadiah/kurban. [2]
[2. Ibn al-Kathir 4:253 quoted by Jawad Ali, vi, 228]

Dalam Hijaz, Arab area barat dan barat tengah dimana Mekah dibangun, terdapat banyak Ka’bah yang bergantung pada Ka’bah Pusat di Taif [Jawad Ali, vi, 228]. Apakah Ka’bah di Mekah juga adalah cabang dari Ka’bah Taif? Sangat mungkin, banyak faktor menunjukkan hal tersebut. Pertama, suku Tamim, yang menempati kota Taif dimana Kabah pusat ini dibangun, berasal dari keturunan Yaman.
Kedua, suku Tamim punya kuasa atas suku2 lain didaerah tsb, termasuk suku Quraish. Kita sudah melihat suku Tamim menjadi hakim jika ada pertengkaran diantara suku2 Arab disana. [3]
[3. “Mecca and Tamim,” Kister, page 145 ff, quoted by Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page 156].

Ketiga, pintu Utama Kabah di Mekah disebut dengan “Pintu pemuja matahari”, yang menandakan bahwa Kabah Mekah, khususnya dibangun utk didedikasikan dalam pemujaan matahari, seperti juga ka’bah di Taif. Tapi, ini tidak berarti bahwa Allah tidak dipuja sebagai Bintang, bersama-sama putri2nya, al’Uzza dan Manat.
Suku Quraish, khususnya, memuja Ellat, matahari. Mereka punya patung bagi Ellat di sebuah tempat yg disebut Nekhlah, yg menjadi bagian terluas di Suk Ukkath (atau Ukkaz), atau pasar Ukkath [4]. Ukkath adah tempat banyak orang datang, bukan hanya utk berdagang tapi juga utk melaksanakan Haji. Karena Ukkath tempat Patung Ellat berada dan Ukkath dekat ke Mekah, maka orang2 mengunjungi Mekah sepulangnya dari Ukkath. Di Ka’bah Mekah juga terdapat Patung Ellat [5], tapi kurang bagus dibanding patung Ellat di Ukkath.
[4.Tafsir al-Tabari 27; page 35; Al-Allusi, Ruh’ al-Maani 27:47]
[5. Al-Allusi, Ruh’ al-Maani 27: 47 ; Al-Khazen 4: 194, quoted by Jawad Ali vi, page 232]

Semua hal ini menandakan bahwa ada hubungan antara Ka’bah2 di Hijaz, meski dibangun olah suku Yemeni dan pemimpin2 lain diwaktu2 yg berbeda dalam sejarah. Kita mengasumsikan bahwa Kabah di Taif adalah pusat Kabah yang didedikasikan utk pemujaan Ellat, sang matahari. Ini menjelaskan kenapa suku Quraish membiarkan kabah di mekah dan malah ikut dalam ritual Haji dengan suku2 lain ke Ka’bah di Taif. ‘Tuhan2’ yg menjadi Anggota Kelompok Arab Pemujaan Bintang semuanya dimuliakan didalam Ka’bah2, seperti Allah dan putri2nya, al-‘Uzza dan Manat. Tapi sepertinya masing2 Ka’bah mengkhususkan pujaan pada satu saja dari ‘Tuhan2’ itu.
Seperti pada Ka’bah di Mekah, Ka’bah di Taif juga punya Batu Hitam besar yg diputari oleh para pemujanya [6]. Batu adalah elemen utama dalam pemujaan bangsa Arab.
[6. Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan 7, page 310; Taj al-Aruss 1, page 580; Tafsir al-Beithawi 1:199 ; al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925; Al-Lusi, Ruh’ al-Maani, 27, page 47; Azruqi, Akhbar Mecca, page 79]

Kaabah di Mekah bukan tempat penting, bahkan bagi suku Quraish sendiri, sampai Muhammad menetapkannya sebagai tempat eksklusif pemujaan para muslim.
Suku Quraish terus menerus melakukan dua perjalanan ritual. Salah satunya adalah ke Ka’bah di Utara, yang saya sebutkan sebelumnya, dan satunya lagi adalah ke Ka’bah di Taif. Ketika Muhammad menguasai Mekah, dia muncul dengan ayat Qur’an yg melarang para pengikutnya utk melakukan perjalanan ritual tsb. Qur’an memaksa mereka utk hanya memuja Ka’bah Mekah. Ayat tsb adalah Surah Quraish 106:1-3,

106 QURAISY
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
[106.1] Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
[106.2] (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
[106.3] Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah).

Jelaslah bahwa suku Quraish pernah melakukan dua ritual perjalanan, satu waktu musim dingin dan satu lagi musim panas. Kita tahu dari sumber2 tua islam bahwa perjalanan Quraish di Musim Panas adalah menuju Taif [7]. Tapi Qur’an melarang pengikut Muhammad utk memuja Tuhan Lain selain yg ada di Ka’bah mekah. Para pemuja harus mengungkapkan pemujaan mereka hanya pada Ka’bah di Mekah. Semua ini menunjukan bahwa diantara ka’bah2 yg didedikasikan pada ‘keluarga Tuhan’ di Arab, Kabah Mekah bukanlah ka’bah yg penting, sampai Muhammad memerintahkannya demikian. Malah, Ka’bah ini kabah yg tidak spesial, bahkan bagi suku Quraish yg menempati mekah setelah mengusir suku Khuzaa’h, yg membangun kota dan Ka’bah tsb.
[7.Crone cited Ibn Abbas in Tabari, Jami’, xxx, 171; Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, page 205].

Ka’bah di Mekah penting bagi suku Khuzaa’h dan Sufa (pecahan suku Khuzaa’h). Suku Sufa bertanggung jawab atas penyelenggaraan upacara Pagan yang belakangan diadopsi kedalam Islam oleh Muhammad dan menjadi bagian dari rukun Hajinya.
Bahkan suku Quraish sekalipun menganggap Ka’bah di Mekah tidak penting dan tidak relevan dengan Ka’bah lain. Mereka lebih suka pergi ke Ukkath utk memuja Ellat, sang Matahari, daripada membatasi diri mereka hanya memuja Ka’bah di Mekah. Mereka lebih menganggap Ka’bah di Utara dan Ka’bah Pusat di Taif utk memuja Ellat sebagai pusat Pemujaan yang sangat Penting.

Ka’bah di Mekaa juga tidak penting bagi suku Arab lain

Bukan hanya suku Quraish yg tidak menganggap penting Ka’bah Mekah dibanding ka’bah lain, tapi banyak suku Arab lain yang juga berpikiran sama. Kita lihat bahwa Thaqif, Suku yg menempati Taif, tidak tertarik utk melestarikan Ka’bah mekah. Ini terlihat ketika Abraha, orang Ethiopia yang menguasai Yemen sekitar tahun 570 M masuk utk menguasai Thaqif. Mereka meminta Abraha utk tidak menghancurkan Ka’bah mereka, tapi malah meminta utk menghancurkan Ka’bah Mekah, karena mereka tahu bahwa rencana selanjutnya Abraha setelah menguasai kota mereka adalah Mekah. [8] Sekali lagi ini menunjukkan bahwa Ka’bah Mekah tidaklah penting bagi suku2 Arab karena aslinya Ka’bah mekah hanya dimiliki oleh satu suku saja, yaitu suku Khuzaa’h, yg membangunnya.
[8. Tarikh al-Tabari, I, page 441]

Hubol adalah altar dalam Ka’bah yang melambangkan bulan. Hubol juga dipanggil “Allah” sebelum Venus mengambil alih gelar ‘Allah’ dari bulan.
Suku Quraish memuja patung kepunyaan suku lain, suku Kinaneh. Patung ini disebut “sahabat Kinaneh.” Kinaneh lalu memuja patung yang dipanggil “Sahabat Quraish.” [9] Dewa ini adalah Hubol. Hubol dipuja di Altar Utama Kabah Mekah. Para scholar berpendapat bahwa altar ini mewakili Allah, Kepala dari Tuhan2 orang2 Arab, istrinya Ellat, sang matahari. Tuhan ini, Hubol, ditemukan juga dalam prasasti2 Nabatean sebagai Dewa Bulan [10], dan bentuknya mirim manusia. [11]
[9. Ibn Habib, al-Mahbar, page 318]
[10. Jawad Ali,vi, 328; Rino’ Disu, al-Arab Fi Suryia Khabel al-Islam, page 116]
[11. Al-Tabarsi al-Fadl ibn al-Hasan, Majma’ al-Bayan fi tafsir al-Qur’an, (Beirut, 1954) 29, page 68]

Para Scholar sepakat bahwa Hubol, sebagai dewa Bulan, adalah Dewa yang menempati Kabah. Utk periode tertentu, dia juga adalah “Allah” yang menempati Ka’bah Mekah [12]. Ini sebelum Venus mendapat julukan Allah ‘Tuhan Terbesar’.
[12. Wellhausen, Reste Arabischen Heidentums, Berlin, 1927, S.73,221 ; Grohmann, S.87 cited by Jawad Ali, vi, page 252]

This entry was posted in BAGIAN 3. Bookmark the permalink.

One Response to Bagian 3 Ka’bah dan Allah sebagai Keluarga Tuhan/Bintang yg dipuja di Arab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s