Bagian 2 – 7. Naskah² Kaldea Tidak Mengandung Catatan tentang Mekah di Abad 6 dan 7 SM

Bagian II – 7. Catatan Sejarah Bangsa Kaldea Juga Tidak Mencantumkan Keterangan Apapun tentang Mekah di Abad ke-7 dan 6 SM.

Bangsa Kaldea adalah bangsa keturunan Afrika yang tinggal di daerah Babylonia. Setelah kematian Assurbanipal, Raja Babylonia keterunan Kaldea yakni Nabopolassar menyatakan kedaulatannya di tahun 625 SM. Nabopolassar menguasai propinsi² Assyria dan menghancurkan Niniveh di tahun 605 SM untuk menolong Manda, suku nomad dari Kurdistan, yang dianggap banyak sejarawan sebagai suku Medes. Dinasti Assryia yakni Harran memohon pertolongan pada Firaun Necho II, penguasa Mesir yang mengontrol Syria di jaman itu. Nabopolassar menunjuk putranya, Nebukadnezar, untuk memimpin pasukan tentara Babylonia. Mereka bertarung dan berhasil mengalahkan tentara Mesir di kota tua Hittite yakni Karkhemish di tahun 604 SM. Ketika Nebukadnezar mendengar bahwa ayahnya wafat, dia kembali ke Babylonia dan jadi raja yang menguasai salah satu kekaisaran terbesar di Timur Tengah. Di tahun 586 SM, Nebukadnezar menguasai dan menghancurkan Yerusalem, memaksa umat Yahudi untuk melarikan diri.

Ketika Nebuchadnezzar menguasai daerah Kaldea, dia berperang melawan banyak negara² Arab. Keterangan tentang periode Kaldea dapat dilihat di Tawarikh Babylonia, dan juga sumber² lain. Menurut Tawarikh Babylonia, Nebukadnezar menyerang bangsa Arab beberapa kali di tahun 599-598 SM. Gaung peperangan ini tercatat dalam Alkitab oleh Nabi Yeremia. Yeremia 49:28 menyatakan:

Mengenai Kedar dan mengenai kerajaan-kerajaan Hazor yang dipukul kalah oleh Nebukadnezar, raja Babel. Beginilah firman TUHAN: “Bersiaplah, majulah melawan Kedar, binasakanlah orang-orang di sebelah timur!

Penyerangan Nebukadnezar lainnya ditulis di kitab nubuat Judith, yang ditulis di abad ke-4 SM. Di bab II buku tersebut, Midian disebut diantara suku². [138] Ini keterangannya:

Dia mengambil semua anak² Midian dan membakar tenda mereka, dan merampas ternak mereka.
[138] Judith 2:26

Sebagian sejarawan memperkirakan Nebukadnezar menyerang daerah lebih jauh daripada Midian, sampai ke Teima. [139]
[139] Arabia and the Bible, James Montgomery, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 64

Image
Raja Babylonia yang terakhir, Nabonidus, 556-539 SM.

Raja terakhir Babylonia adalah Nabonidus. Raja Nabonidus juga melakukan banyak penyerangan ke Arabia. Dia berkuasa di tahun 556-539 SM, dan menguasai kota Arab Teima, dan lalu tinggal di situ. Nabonidus berasal dari Harran dan ibunya, Addagoppe, merupakan pendeta wanita bagi dewa bulan mereka yakni Sin. Addagoppe tampaknya punya hubungan istimewa dengan Nebukadnezar. Mungkin inilah sebabnya mengapa Nabonidus meninggalkan takhtanya di Babylon setelah cucu Nebukadnezar, Labasi-Marduk, terbunuh di istananya dalam usaha penggulingan kekuasaan.

Addagoppe lahir di tahun 649 SM dan hidup selama 102 tahun, wafat di tahun 547 SM. Prasasti Nabonidus menjelaskan bahwa Addagoppe ditangisi sebagai ratu besar. Kejadian ini dan juga detail keterangan lainnya menunjukkan bahwa dia tampaknya menikah dengan Nebukadnezar.

Prasasti Harran menerangkan bahwa Addagoppe dibawa ke istana Babylonia di tahun 610 SM, dan dia jadi sangat berpengaruh di sana. Ketika Labasi-Marduk dibunuh, dan tampuk kekuasaan jadi kosong, Addagoppe menempati posisi sebagai penunjuk akhli waris, karena dialah janda Nebukadnezar. Dia mengangkat putranya, Nabonidus, untuk menjadi raja. Beberapa sejarawan beranggapan Nabonidus menikah dengan putri Nebukadnezar. Jika ini benar, maka Nebukadnezar adalah ayah tiri Nabonidus dan kakek tiri putra Nabonidus yakni Belshazzar, dan mungkin juga adalah mertua Nabonidus pula. Belshazzar dan ayahnya merupakan anggota keluarga besar Raja Nebukadnezar. Karena itulah mereka ditunjuk sebagai raja² Babylonia.

Nabonidus, yang menguasai daerah Arabia utara dan barat tengah, termasuk lokasi di mana Mekah kelak dibangun, menyebutkan nama² semua kota di situ, tapi tak menyebut nama Mekah sama sekali.

Nabonidus menyerahkan urusan kerajaan pada putranya, Belshazzar, dan pergi ke Arabia untuk menguasai Arabia utara dan barat tengah. Dia pergi ke Edom di sebelah selatan Yordania, dan lalu ke Teima. Dia membunuh raja Teima, menundukkan masyarakatnya, dan membangun istana bagi dirinya sendiri. Setelah berkuasa di Teima, Nabonidus melancarkan berbagai penyerangan untuk memastikan bahwa dia menguasai semua bagian Arabia utara dan barat tengah. Dia akhirnya menaklukkan kota² Dedan, Fadak, Khaybar, Yadi, dan Yathrib (yang nantinya diganti nama jadi Medinah). (Lihat Peta nomer 4.)

Image
Raja Babylonia Belshazzar, dilukis oleh Rembrand di tahun 1635, berdasarkan keterangan kitab Daniel 5:1-4.

Prasasti bertanggal abad ke-6 SM ditemukan di Teima. Prasasti ini menerangkan perang² antara Teima dan Dedan. [140] Kemungkinan orang² Teima dipergunakan oleh Nabonidus dalam penyerangannya terhadap Dedan dan kota² lain di daerah itu. Sejarawan berpendapat kota² seperti Khaybar dan Yathrib telah dibangun di abad ke-6 SM. Sebelum jaman Nabonidus, kota Qedar telah ditaklukkan oleh Nebukadnezar. Nabonidus kemudian menaklukkan semua kota² yang ada di daerah itu. Dia mengontrol semua jalur jalan ke kota² Yathrib, Teima dan Dedan; ke timur dengan jalur jalan Yathrib-Hail; dan ke selatan kota Yathrib, yang berarti hanya sekitar 200 mil dari tempat di mana Mekah kelak dibangun. [141]
[140] Prasasti² ditemukan Jabal Ghunaym, sekitar 10 mil dari Teima. Lihat F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 29
[141] Prasasti² Haran Nab. H2 I 26 and Nab. H2 I 24-25; dikutip oleh Eph’al, pages 180 and 181

Karena Nabonidus ingin menguasai semua daerah, Mekah tentunya akan jadi salah satu sasaran utamanya, jika Mekah memang sudah dibangun saat itu. Nabonidus tinggal di daerah itu untuk waktu yang lama. Kegiatan militernya tidak hanya satu penyerangan yang berlangsung beberapa hari dan bulan saja. Nabonidus menjelajahi daerah itu selama sepuluh tahun. Semua daerah Arabia utara dan barat tengah merupakan propinsinya. Dia begitu lama tinggal di tempat itu, sehingga dia tidak mungkin luput memperhatikan Mekah, jika Mekah memang sudah dibangun di jamannya.

Kita lihat bahwa Mekah tidak disebut sama sekali di jaman Kaldea, meskipun Nabonidus telah menguasai semua daerah Arabia utara dan barat tengah, termasuk daerah di mana Mekah kelak dibangun, sebagai bagian dari kekaisarannya. Hal ini tentunya penting, karena kota² lain yang kurang penting dibandingkan Mekah telah disebutunya sebagi bagian propinsi tersebut, tapi Mekah tak pernah disebut.

This entry was posted in BAGIAN 2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s