Bagian 2 – 5. Tiadanya keterangan tentang Mekah

5. Tiadanya keterangan tentang Mekah di berbagai catatan sejarah Negara² yang Menguasai Arabia

Tiadanya kota Mekah sebelum abad ke-4 M merupakan fakta tak terbantahkan berdasarkan catatan sejarah dan peninggalan berbagai kebudayaan kuno yang tinggal di Arabia utara dan barat tengah, daerah di mana Mekah kelak dibangun. Arabia utara dan barat tengah dijajah oleh banyak negara besar di sepanjang sejarah, tapi tak ada satu pun dari tawarikh mereka yang meninggalkan penemuan prasasti atau arkeologi yang menyebut tentang kota Mekah.

Penyerangan Kerajaan Ma’in

Kerajaan Ma’in menyerang ke utara, menguasai berbagai daerah dan suku, tapi tidak menyebut kota Mekah dalam prasasti mereka, meskipun lokasi Mekah sebenarnya terdekat dengan daerah mereka.

Ma’in adalah salah satu negara² yang menjajah Arabia utara. Negara ini berkembang dari Yaman, di baratdaya Arabia, ke utara melalui koloni² perdagangan mereka. Daerah jajahan ini memberi fasilitas bagi Ma’in untuk berdagang dengan Syria dan Palestina. Daerah jajahan Ma’in di Arabia utara telah ada sejak jaman Achaemenid, yang dimulai tahun 559 SM. Di sebelah utara, orang² Minaian (orang² Ma’in) menduduki kota Dedan. Dedan memiliki dinasti raja² Minaian dan meninggalkan banyak prasasti sejarah yang bertebaran di berbagai daerah Arabia utara, seperti di lokasi al-Jawf dekat perbatasan dengan Iraq. [95] Prasasti mereka juga terdapat di koloni² dagang yang didirikan orang² Minaian di Tran-Jordan, dan juga di Jabal Ramm, sekitar 20 mil dari Aqaba. [96] Terdapat koloni terkenal di kota Maan, yang nama kotanya mengandung nama bangsa Minaian, yang terletak di Yordania selatan. Ini menjelaskan bahwa bangsa Minaian berkuasa di Hijaz (Arabia utara dan barat tengah) untuk waktu yang lama. Jika demikian, apakah mungkin bahwa bangsa Minaian di Hijaz tidak mempedulikan kota Mekah, padahal kota itu terletak pada jalur perjalanan antara Yaman dan Arabia utara? Jika Mekah sudah ada di jaman bangsa Minaian menguasai kota² Arabia utara, maka tentunya penting untuk menaklukkan Mekah untuk melindungi jalur perdagangan mereka di Arabia tengah. Mekah bisa mereka pakai untuk tempat istirahat dalam perjalanan mengarungi padang pasir, dari Yaman ke kota² Arabia utara. Tapi nyatanya kafilah² Minaia tidak menemukan tempat tinggal apapun di daerah di mana Mekah kelak dibangun. Mereka malahan melalui rute perjalanan yang lebih panjang lewat Arabia tengah ke Yathrib, dan lalu kota Dedan.
[95] F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 75
[96] Revue Biblique, 43 (1934) pp.578-9 and 590-1; dikutip oleh F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 75

Suku Lihyan Menguasai Daerah Arabia Barat Tengah Tanpa Menyebut Mekah

Lihyan adalah suku lain yang mengontrol Arabia baratlaut. Raja² mereka memerintah dari kota Dedan dan mengontrol jalur² dagang Arabia baratlaut. Lihyan juga mengontrol Hegra, yang juga disebut “Madain Salih,” sampai ke daerah² Arabia tengah barat. Tapi tiada prasasti Lihyan apapun yang menyebut tentang Mekah, padahal jumlah prasasti mereka sangatlah banyak.

Raja Mas’udu yang berkuasa di Dedan di tahun 120-100 SM adalah raja terakhir Lihyan, demikian menurut keterangan prasasti Dedan.

Kerajaan Nabasia

Kerajaan Nabasia menjajah sepanjang jalur dagang ke selatan termasuk gurun pasir Arabia tengah barat di mana Mekah kelak dibangun.

Kerajaan Nabasia bertambah besar kekuasaannya ke daerah selatan dan menjajah daerah yang dulu dikuasai oleh kerajaan Lihyan. Prasasti mereka di Arabia utara ditulis terus sampai awal abad ke-4 M. [97]
[97] F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, hal. 130

Bangsa Nabasia berperanan penting dalam sejarah Arabia. Dari Penyerangan Romawi ke Arabia di tahun 24 dan 23 SM, kita tahu bahwa kota kecil Leuce Come dekat Laut Merah dikuasai bangsa Nabasia di saat itu. [98] Strabo, geografer Yunani yang ikut dalam penyerangan itu, mencatat bahwa Nabasia menguasai sampai bagian selatan Leuce Come. Malah dia menyebut daerah lain yang diperintah oleh Aretas yang merupakan saudar Obodas, Raja Nabasia. [99] Pengaruh kerajaan Nabasia tidak berhenti di situ. Strabo menyebut tentang “desa di daerah yang dikontrol Obodas,” dan desa itu adalah Egra, dekat Laut Merah, sekitar 62 mil dari Malathan. [100] Obodas adalah raja Nabasia, dan Malathan adalah pelabuhan yang sangat dekat dengan lokasi di mana Mekah kelak dibangun. Strabo juga melaporkan besarnya kafilah Nabasia yang datang dari Yaman, melewati Leuce Come menuju ke Petra, ibukota Nabasia. Strabo menulis bahwa kafilah ini bergerak dengan jumlah besar dan “orang² dan onta² tidak berbeda dengan pasukan tentara.” [101] Komentar Strabo ini menjelaskan bahwa orang² Nabasia yang mengontrol Arabia baratlaut dan barat tengah di jaman Penyerangan Romawi, selalu menjaga kafilah² mereka yang bergerak dari Yaman di sepanjang jalur Laut Merah.
[98] The Geography of Strabo, Buku XVI .4.23
The Geography of Strabo, Volume V, Harvard University Press, 1966, hal. 357
[99] The Geography of Strabo, Book XVI .4.24
The Geography of Strabo, Volume V, hal. 359
[100] The Geography of Strabo, Book XVI. 4 . 24
The Geography of Strabo, Volume V, hal. 363
[101] The Geography of Strabo, Buku XVI .4.23
The Geography of Strabo, Volume VII, hal. 357

Sejarawan kuno lainnya, Pliny, menjelaskan bagaimana bangsa Nabasia mengontrol jalur “melalui Troglodytae (berbagai daerah) Nabasia, yang dikuasai bangsa Nabasia.” [102] Daerah gurun pasir di Arabia utara dan tengah terletak berseberangan dengan Daerah Troglodytae di seberang Laut Merah di pantai Afrika, dan hal ini membenarkan bahwa orang² Nabasia menguasai tanah jalur dagang ke selatan. Mereka mengontrol gurun pasir Arabia barat tengah, termasuk daerah di mana Mekah kelak dibangun.
[102] Pliny XII, 44

Mekah dibangun di jalur jalan yang sering dilampaui selama beratus-ratus tahun oleh bangsa Nabasia, tapi mereka tak pernah menyebut Mekah, meskipun menyebut berbagai kota kecil di daerah kekuasaan mereka.

Dari banyaknya peninggalan prasasti Nabasia dan arkeologi lainnya, mengapa orang² Nabasia bisa luput menyebut kota Mekah? Apalagi karena Mekah dibangun di jalur ramai di daerah kekuasaan Nabasia. Karena orang² Nabasia menulis daerah² yang paling kecil dan paling penting di daerah kekuasaan mereka, maka bagaimana mungkin mereka luput menulis tentang Mekah? Hal ini jelas karena Mekah saat itu memang belum ada.

Kinda mengontrol Arabia barat tengah. Penelitian terhadap prasasti mereka menunjukkan bahwa mereka tak menyebut Mekah di abad ke-2 dan 3 Masehi.

Tidak hanya orang² Nabasia saja yang mengontrol Hijaz, tapi juga beberapa kerajaan lainnya di Arabia, di lain waktu mengontrol daerah Arabia baratlaut dan tengah, di mana Mekah nantinya dibangun. Salah satu negara dari kerajaan² adalah Kinda, yang membentuk persekutuan di Arabia tengah. Di saat itu, Kinda mendominasi Hijza, termasuk gurun² pasir di mana Mekah kelak dibangun. Prasasti mereka menerangkan bahwa Kinda sudah ada sejak abad ke-2 M. Ibu kota mereka adalah Qaryat al-Fau, terletak 500 mil timur Mekah, dekat kota Yamama. Tak ada keterangan tentang Mekah dalam prasasti mereka, dan ini menunjang kesimpulan kita bahwa Mekah memang belum ada di abad ke-2 dan 3 Masehi.

Prasasti² Himyarti yang menguasai daerah di mana Mekah kelak dibangun, tidak menyebut Mekah di abad ke-3 M.

Kerajaan lain yang menguasai Hijaz adalah kerajaan Himyar dari Yaman, yang sudah ada sejak tahun 115 SM. Di tahun 275 M, Himyar menguasai Saba, setelah itu memperluas kekuasaan ke utara, tanah masyarakat Karnait. [103]. Himyar mengontrol jalur perdagangan darat, lalu menguasai hampir seluruh daerah Hijaz.
[103] D. H. Mullar dalam artikelnya Yemen, Encyclopaedia Brittanic, 9th edition;
Weber, Arabien vor dem Islam in Der alte Orient, III, Leipzig, 1901; dikutip oleh Wilfred Schoff, The Periplus of the Erythraean Sea, Munshiram Manoharial Publishers Pvt Ltd., 1995, hal. 109

Meskipun prasasti² Himyarit melimpah, tak ada satu pun keterangan tentang Mekah, dan ini mempertegas kesimpulan bahwa Mekah memang belum ada di akhir abad ke-3 M, atau akhir abad ke-4 M.

Tidaklah mungkin bahwasanya negara² yang menguasai Arabia barat tengah tidak menyebut Mekah sama sekali, jika Mekah saat itu sudah ada.
Jika kita mengamati fakta sejarah ini, kita akan menemui kesimpulab yang sama seperti jika kita mengamati laporan² sejarah orang² Ethiopia, Koptik, dan Kristen. Mekah tidak disebut dalam seluruh prasasti dan peninggalan arkeologi negara² Arabia yang menguasai Hijaz, atau mengontrol jalur darat di mana Mekah kelak dibangun. Hal ini berarti Mekah tidak ada sebelum abad ke-4 M. Ini merupakan fakta yang sangat jelas. Semua negara yang menguasai daerah Arabia barat tengah terkenal dengan peninggalan prasasti mereka yang sangat banyak. Tak ada satu pun dari mereka yang gagal mencatat kota² di daerah kekuasaan mereka, bahkan desa terkecil sekali pun. Jadi bagaimana mungkin semua negara² ini luput menyebut Mekah, yang letaknya lebih dekat pada mereka daripada desa² kecil yang mereka catat? Ini sama seperti semua kerajaan² di tanah Mesopotamia luput mencatat tentang kota Babel. Tiada seorang pun yang akan menerima keterangan seperti ini, karena kota kuno yang penting akan tampak nyata, dan tak mungkin negara² penjajahnya luput menyebut kota tersebut. Jika Mekah sudah ada, maka semua negara penjajahnya, atau negara² yang pernah kontak dengannya, akan menyebutnya ratusan kali.

Karena itulah, para Muslim seharusnya belajar dari arkeologi negara² sekitar Arabia, atau bahkan arkeologi dunia. Berapa banyak sih bukti yang dibutuhkan untuk mendukung pernyataan bahwa sebuah kota sudah ada 2000 tahun sebelum jaman Kristus? Kondisi arkeologikal apakah yang diperlukan untuk mengakui kebenaran pernyataan seperti itu? Terutama di kondisi seperti Arabia, di mana daerah Mekah dikelilingi oleh berbagai kerajaan yang menguasai Hijaz di berbagai jaman, yang sejarah dan peninggalan arkeologinya mencatat sejarah mereka sendiri dengan lengkap, dan bahkan negara² di sekitar Timur Tengah juga mencatat tentang mereka. Jika Mekah sudah ada, tentunya akan disebut berkali-kali dalam catatan sejarah mereka. Tapi faktanya tak ada keterangan tentang Mekah dalam prasasti mereka.

Catatan² Sejarah Negara² Besar yang Menjajah Arabia Barat Tengah, dan Keterangan Islam tentang Keberadaan Kota Mekah

Bangsa² Assyria, Babylonia, Persia, dan Romawi telah pernah menjajah Arabia utara dan barat tengah. Tak ada satu pun dari mereka yang menyebut keberadaan kota Mekah.

Banyak kekaisaran² besar di sepanjan sejarah yang menjajah bagian² Arabia, terutama Arabia baratlaut dan barat tengah. Ketertarikan menguasai daerah terasing ini karena lokasinya yang strategis pada jalur² dagang antara Timur Jauh dan daerah Mediterania. Perdagangan dari Timur Jauh menyeberangi Samudra India ke pelabuhan² di Arabia tenggara. Jalur² dagang berlanjut menyebrangi Arabia barat ke negara² Timur Tengah yang terletak di sekitar laut Mediterania. Dari situ, perdagangan mencapai daerah² Mediterania lainnya. Inilah sebabnya mengapa mengontrol daerah tersebut merupakan hal yang penting bagi kekaisaran² kuno.

Alasan lain adalah bagi keamanan kekaisaran² itu sendiri. Suku² Arabia utara dan sekitarnya sering melakukan serangan ke tetangga²nya. Dengan menguasai daerah itu, kekaisaran² dapat lebih dengan mudah menghadapi serangan² suku² Arabia yang memusuhi mereka.

Alasan ketiga adalah karena adanya emas dan mineral yang penting di daerah tersebut. Daerah Arabia tengah yakni Yamama, sekitar 500 mil sebelah timur dari tempat di mana Mekah kelak dibangun, terkenal akan tambang emas dan tembaganya. Daerah Oman Arabia terkenal pula akan tambang² tembaganya.

Kekuasaan Assyria

Glaser, sejarawan Arabia terkemuka, menyatakan bahwa kekaisaran Assyria memperlebar kekuasaan mereka ke Yamama di abad ke-8 dan 7 SM. Dia menyebut lokasi² yang tertulis di prasasti² Assyria tentang peperangan mereka melawan suku² Arabia. Salah satu keterangan menarik adalah tentang Raja Assurbanipal di daerah selatan dari kota² Teima dan Khaybar. [104]
[104] See I. Eph’al, E.J.Brill, The Ancient Arabs, Leiden, 1982, hal. 161, catatan 161

Prasasti² Assyria menjelaskan tentang berbagai suku Arabia, para penguasa dan kota²nya. Peninggalan ini sangat penting karena menyampaikan secara langsung dari yang bersangkutan tentang daerah kekuasaan Assyria di abad ke-8 dan 7 SM. Diperkirakan bahwa daerah kekuasaan Assyria mencapai Arabia selatan, dekat daerah Mekah kelak dibangun; akan tetapi prasasti Assyria tidak menyebut tentang Mekah atau suku²nya, seperti suku Jurhum, yang disebut hadis Islam menghuni Mekah di jaman Abraham.

Prasasti² Assyria menyebut lebih dari satu raja Saba yang menguasai Yaman. Para raja Saba itu memberi upeti kepada raja² Assyria sebagai simbol persekutuan di tanah jalur dagang yang mencapai daerah Bulan Sabit Subur, termasuk: Mesopotamia, Syria, Lebanon, Palestina dan Trans-Yordania, meluas sampai ke perbatasan Iraq dan Iran ke Laut Mediterania.

Sekali lagi, karena prasasti Assyria tidak menyebut Mekah, kita bisa menyimpulkan bahwa Mekah tidak ada di abad ke 9 sampai 7 SM.

Babylonia Menguasai Hijaz

Nabonidus menguasai kota² di daerah dekat lokasi Mekah kelak dibangun. Meskipun dia hidup sepuluh tahun di Teima, dia tidak pernah menyinggung tentang Mekah.

Tidak hanya Assyria saja yang menguasai Arabia utara dan tengah, tapi juga Babylonia. Mereka menguasai bagian Arabia ini di masa kekuasaan raja Babylon yakni Nabonidus, yang berkuasa di tahun 556-539 SM. Keterangan tentang raja ini dan daerah jajahannya ditemukan di Prasasti Harran (dikenal dengan nama H2), Nabonidus dan Tawarikh Kerajaan, dan Ayat² Nabonidus.

Nabonidus meninggalkan kekaisarannya kepada putranya Belshazzar, dan Nabonidus lalu pergi ke kota Teima di Arabia. Setibanya di kota itu, dia membunuh rajanya, menguasai kotanya, dan membuat Teima tempat tinggalnya, dan dia lalu membangun istananya di situ. [105] Dari Prasasti Harran tentang Nabonidus kita ketahui bahwa selama tinggal di Teima, dia menyerang ke arah selatan dan menaklukkan kota² Dedan, Fadak, Khaybar, Yadi, dan Yathrib (yang nantinya diganti nama jadi Medina). [106] Kota Yathrib berjarak 200 mil dari tempat di mana Mekah kelak dibangun, dan nantinya akan berperang penting dalam kebangkitan Islam.
[105] For “Verse Account of Nabonidus,” lihat Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, ed. J.B. Pritchard, 2nd edition, Princeton, 1955, hal. 313; Sidney Smith, Babylonian Historical Texts, London, 1924, Bagian III, hal.. 27-97 ; dikutip oleh F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 89
[106] Lihat C.J. Gadd “The Harran Inscriptions of Nabonidus,” Anatolian Studies, 8 ( 1958) hal. 59; dikutip oleh F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, page 91; Bagian ini persis seperti yang tercantum di Prasasti Harran (Nab. H2 I 26; ii 11) lihat I. Eph’al, The Ancient Arabs, 180

Sejak Nabonidus menguasai seluruh daerah itu, dia sudah jelas mendominasi ketiga jalur dagang dari Yathrib. Dia tidak pernah menyinggung apapun tentang Mekah dalam seluruh prasastinya. Jika Mekah memang sudah ada di jamannya, maka sudah tentu kota itu akan diserangnya pula, karena kota Mekah merupakan satu²nya kota di daerah sekitar Yathrib yang tidak dikuasainya. (lihat Fig. 4).

Jika Mekah adalah kota berpengaruh seperti yang dikatakan Islam, maka Mekah tentunya akan jadi target utama dalam penaklukan yang dilakukan Nabonidus. Dengan demikan, mengapa dia menaklukkan semua kota² di daerah itu, yang kebanyakan tak sepenting Mekah, tapi luput menyebut tentang Mekah? Seharusnya ada keterangan tentang Mekah, sebab dia berkuasa di daerah itu selama sepuluh tahun dan mengunjungi berbagai kota di sekitar Teima. Hal ini menegaskan bahwa Mekah memang belum ada di abad ke-6 SM.

Penjajahan Persia

Kekaisaran Persia menguasai banyak bagian Arabia dan punya persekutuan dengan berbagai suku dan negara Arabia, tapi Mekah tak disebut dalam catatan² sejarah mereka.

Setelah Babylon, daerah yang sama lalu dikuasai oleh kekaisaran Persia. Penelitian prasasti di Dedan menunjukkan mereka menaklukkan Arabia utara di periode Akhaemenid di akhir abad ke-6 SM. Kekaisaran Persia lalu menunjuk seorang gubernur untuk memerintah Dedan. Hal ini terjadi sebelum raja² Lihyan mendominasi kota² Qedar dan Dedan, dan beberapa daerah di Arabia baratlaut.

Di abad ke-5 SM, Herodotues, sejarawan Yunani, memberitahu kita bahwa masyarakat Persia membentuk persekutuan dengan masyarakat Arabia. Berabad-abad kemudian, bangsa Persia menguasai daerah Oman di jaman penulisan buku Penjelajahan Laut Erythrea (The Periplus of the Erythraean Sea). [107] Sebelumnya, aku menjelaskan bahwa tahun penulisan buku Periplus adalah sekitar tahun 62 M. Di abad ke-1 M, seluruh daerah Teluk Persia, termasuk Oman, dikuasai kekaisaran Parthian, dinasti penguasa Iran Kuno (Persia). [108] Tanah Jerra yang terletak dekat Teluk Persia, dikuasai Persia sekitar tahun 320 M. Hari ini, Jerra dikenal sebagai al-Qatif. [109] Bangsa Persia bersekutu dengan berbagai suku Arab, salah satunya adalah suku Kinda yang daerah kekuasaannya mencapari seluruh Arabia tengah dan sebagia Hadramaut, Yaman selatan, di Arabia Selatan. [110] Bangsa Persia menguasai pertambangan di Yamama, bahkan sampai di jaman Muhammad. Yamama merupakan daerah di mana ibukukota Kinda terletak, sekitar 500 mil dari Mekah di jaman sekarang. Hal ini menunjukkan berapa jauhnya Persia memasuki dan mempengaruhi daerah itu. Bangsa Persia menggunakan suku Lakhmid di al-Hira, dekat perbatasan dengan Mesopotamia, untuk melindungi daerah perbatasan. Bangsa Lakhmid menjadi kaki tangan gubernur² di periode Sasania. Al-Tabari mengatakan bahwa suku² Arabia tinggal di daerah Hira di jaman Ardashir, putra Papak. [111] Ardashir adalah pendiri Kerajaan Sassania. Dia juga terkenal dengan julukan “Artaxerxes.” Dia berkuasa di tahun 226-240 M. Melalui suku Lakhmid, bangsa Persia membentuk hubungan erat dengan suku² dan kota² Arabia selatan dan baratdaya. Usaha ini dilakukan dalam memperkuat pengaruh mereka di Arabia tengah.
[107] The Periplus of the Erythraean Sea, 33;The Periplus of the Erythraean Sea, Diterjemahkan oleh Wilfred Schoff, Munshiram Manoharial Publishers Pvt Ltd, 1995, hal. 35
[108] Wilfred Schoff, in his introduction to The Periplus of the Erythraean Sea, hal. 16
[109] Hirschfeld, New Researches, 6. Frankel, Aramaisch. Fremdworter; quoted by De Lacy O’Leary, Arabia before Muhammed, D.D., London, New York: Dutton & CO., 1927, hal. 181
[110] De Lacy O’Leary, Arabia Before Muhammed, hal.19
[111] Tarikh al-Tabari, I, hal. 360

Jika Mekah sudah ada di abad ke-3 M, catatan sejarah Persia tentunya akan menyebutkan hal itu. Meskipun Persia menembus banyak bagian Arabia, kita tak temukan catatan atau literatur Persia apapun tentang Mekah. Hal ini penting karena bangsa Persia berencana untuk mengontrol semua rute jalan antara Arabia Selatan dan Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent), dan Mekah akhirnya dibangun di salah satu jalur jalan terpenting. Hal lain yang penting adalah usaha Persia untuk mempengaruhi seluruh daerah Arabia, melalui penyerangan maupun persekutuan degan negara² Arabia. Tak ada keterangan tentang Mekah dalam catatan sejarah Persia menyerang Arabia. Hal ini menunjukkan bahwa Mekah belum dibangun di awal abad ke-4 M.

Penyerangan Romawi ke Arabia Barat

Sewaktu Romaw menyerang Arabia barat, mereka mencatat dengan tepat semua desa² dan kota² di daerah itu. Catatan mereka menunjukkan bahwa Mekah belum ada di sekitar jaman Kristen dan abad ke-1 M.

Kita telah menulis tentang kekaisaran Assyria, Babylonia, dan Persia. Sekarang kita amati kekaisaran terakhir yang menduduki Arabia utara dan barat tengah, yakni kekaisaran Romawi. Bangsa Romawi menaklukkan daerah Arabi ini dalam penyerangan yang dipimpin oleh Gallus di tahun 23 SM. Aku telah menjelaskan penyerangan ini secara detail bagaimana Gallus menguasai terlebih dahulu daerah Arabia baratdaya, dan lalu semua kota² di Arabia barat tengah sampai ke daerah selatan di mana kota Najran terletak, dan sampai perbatasan Yaman. Dari sini Gallus mengalahkan kota² Yaman sampai dia mencapai Ma’rib. Semua penyerangan ini ditulis secara terperinci oleh Strabo, sejarawan dan geografer terkemuka di jamannya. Strabo menulis semua kota² dan desa² di Arabia baratdaya dan barat tengah, di mana Mekah kelak dibangun. Tapi laporan Strabo tidak menyebut tentang Mekah sama sekali.

Selain laporan Strabo, kita pun punya catatan Romawi yang ditulis Pliny dalam surveynya ke Arabia baratdaya dan barat tengah. Sama seperti tulisan Strabo, Mekah juga tak disebut di catatan Pliny. Bangsa Romawi terkenal akan ketepatannya dalam mencatat laporan tentang suatu daerah, kota, dan desa yang mereka kalahkan atau kunjungi. Tulisan² mereka menegaskan bahwa Mekah memang belum ada di abad ke-1 SM di jaman Strabo dan Pliny.

Kekaisaran² besar yang berkuasa selama ribuan tahun, menguasai Arabia barat tengah, dan menulis tentang desa² kecil tanpa menyebut tentang Mekah. Bagaimana mungkin Muslim tidak peduli dengan laporan² kekaisaran² besar ini?

Kita telah mengamati catatan² kekaisaran² besar kuno yang menguasai bagian Arabia utara dan baratdaya selama bertahun-tahun. Kita mencoba menemukan keterangan tentang keberadaan Mekah di dalam prasasti Assyria, Babylonia, Persia, dan Romawi, tapi hasilnya kosong.

Meskipun Mekah memiliki letak strategis diantara kota² Arabia utara dan Yaman di Arabia selatan, kita tak menemukan keterangan tentangnya. Daerah² ini dikenal berbagai kekaisaran kuno tersebut. Jika Mekah sudah ada, tentunya kota ini merupakan kota strategis bagi jalur datang dan kafilah dari Yaman ke daerah Mediterrania, tapi kita tak menemukan keterangan tentang Mekah. Yaman adalah tempat strategis bagi perdagangan laut dengan Timur Jauh, terutama India. Sukar dipercaya bahwasanya keempat kekaisaran besar kuno akan melewatkan begitu saja kota seperti Mekah, apalagi mereka sangat berambisi mengontrol perdagangan di situ. Tak mempelajari catatan kekaisaran² kuno ini berarti melupakan begitu saja fakta sejarah penting yang tersedia. Jika kita menetapkan keputusan tanpa mengindahkan keterangan² dari kekaisaran² besar ini, tentunya kita bisa salah menentukan. Dengan kriteria apa lalu Muslim mengatakan bahwa Mekah sudah ada di jaman pemerintahan kekaisaran² tersebut yang berkuasa di Timur Tengah selama ribuan tahun? Bukti apakah yang dimiliki Muslim sehingga bisa mengatakan Mekah sudah ada? Jawabannya sederhana: Muslim tak punya catatan sejarah apapun dari jaman kuno yang menunjukkan Mekah sudah ada sejak jaman kuno, tapi mereka tetap ngotot beriman pada ajaran salah tersebut.

This entry was posted in BAGIAN 2. Bookmark the permalink.

3 Responses to Bagian 2 – 5. Tiadanya keterangan tentang Mekah

  1. hakkullah says:

    maaf kate, sejarah sebelum kedatangan baginda Nabi Muhammad saw, Allah mengutus Rasulullah saw di tempat yang tepat dan strategis.begitulah Allah mengutus Rasulullah saw ditengah-tengah kebodohan, berfoya, kezhaliman dll, kalau kita sebut zaman jahiliah..nah, zaman sekarang kembali lagi zaman jahiliah, bahkan lebih parah zaman sekarang..krn ini adalah zaman akhir kemenangan yang dibawa oleh imam mahdi (bukan sebagai seorang nabi tp beliau sebagai pelurus aqidah islam dan menyatukan semua dunia islam yang selama ini mereka bermusuhan)..jika anda masih hidup zaman itu, silahkan anda saksikan..zaman imam mahdi banyak peperangan yang terjadi..kpn imam mahdi datang?, pada saat zaman ini tidak memiliki keadailan dan banyak terjadi kezhaliman…smg anda mengerti..
    tambahan: walaupun sekalipun citra islam dikotori oleh manusia yang tidak bertanggung jawab, tetap islam akan berkembang terus menerus tiap harinya..beda dengan agama kristen, baik citranya kotor atau tidak itu sama sj, tidak mempengaruhi, kenapa?, kembali kepada kitab sucinya dan rasul-Nya..bukan kpd orangnya..sifat dan watak orangkan beda-beda..dasarnya keras kepala atau wataknya keras, tetap aj, mengamalkan ajarannya tidak berarti baginya.waallahu a’lam..tq

  2. ogi says:

    Kenapa islam dikatakan agama yang bodoh….? Itu tercermin dari cara berpikir penganutnya, dalam mem-buktikan kebenaran islam mereka selalu berdalil : kata al quran atau kata hadist, mereka tidak mau mencari sumber-sumber ilmiah yang independen seperti hasil riset atau bukti arkeologi ataupun sejarah dunia.
    Itulah “hebatnya” islam dalam mendogma pengikutnya, mereka hanya berfikir tentang pahala dan sorga, dalam bayangan mereka hidup di sorga itu indah dan menyenangkan, mereka rela hidup sengsara dan miskin di dunia yang penting bisa solat, mengaji, puasa kalau mati masuk sorga, pikiran mereka tidak kreatip makanya tidak heran jika semua penemuan yang berharga di dunia ini bukan oleh orang islam, karena pikiran mereka tidak nyampai kesana !! jika mereka dihina, dijelek-jelekan jawabanya pasti : ” semoga Alloh membalas perbuatan kalian yang keji atau laknat Alloh menunggu kalian di Neraka” sungguh sebuah jawaban yang sangat bodoh !!
    Mereka tidak sadar bahwa mereka telah di-bodohi oleh pemimpin agama-nya untuk kepentingan politik dan sebagainya, dalam otak mereka sudah dijejali oleh kata-kata “dosa dan masuk neraka” jika melanggar aturan-aturan agama yang dibuat pemimpin agamanya.
    Kenapa demikian…? Karena para pemimpin agama islam selalu mengatakan bahwa ajaran agama berasal dari Alloh dan Alloh maha menghukum kaum-Nya yang melanggar.
    Orang-orang islam tidak pernah mencari tau kebenaran dari ajaran agamanya, apakah berasal dari Alloh atau karangan pemimpinya, walaupun Alloh mengatakan “pakailah akalmu dalam ber-iman kepada-Ku”, karena mereka telah kenyang di-cekoki dengan kata-kata musrik…kafir dll……

  3. indra says:

    Allah telah bersumpah demi mekkah yang aman .. karena demikianlah Allah menyelamatkan Baitullah dan orang orang disekitarnya dari incaran raja raja agung yang zhalim ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s