Bagian V Haji, Okultisme Umra’, dan Ramadan

1. Ibadah Haji Besar Islam

Fakta sejarah tidak menunjukkan Mekah sebagai pusat Ibadah Haji di Jaman Sebelum Islam

Kegiatan ibadah ziarah atau Haji ke Mekah dan bukit²nya merupakan satu dari lima pilar Islam. Setiap Muslim wajib melakukan ibadah Haji sedikitnya sekali dalam seumur hidupnya. [1]
[1] Hadis Muslim, 9, hal. 100

Muhammad menjanjikan Muslim yang menunaikan ibadah haji dengan imbalan besar yang bersifat magis. Muhammad mengatakan ini dalam di dalam haditsnya, yang dianggap kedua terpenting dari Qur’an. Dia mengatakan:

Dia yang melaksanakan ibadah haji, kembali ke keadaan semula ketika ibunya melahirkan dia. [2]
[2] Hadis Sahih Bukhari, 2, hal. 141; Sahih Muslim 9, hal. 119

Dengan demikian, Muhammad mengatakan bahwa Muslim yang menunaikan ibadah haji menjadi tanpa dosa. Begitu banyak hal² di dalam Islam yang berporos pada ziarah Islam tersebut, dan bagian ini akan membahas ibadah haji dan akar pagannya.

Sebagian masyarakat Arab kuno ingin membuat ibadah haji di tempat² pagan terlihat penting dengan menyatakan tokoh² Alkitab juga naik haji di tempat yang sama.

Dalam sejarah, ibadah haji diketahui sebagai sebuah ritual pagan sekte tertentu di Timur Tengah. Salah satu dari sekte² tersebut yang melakukan ibadah haji adalah kaum Harran. Harran adalah sebuah kota di perbatasan antara Syaria, Irak dan Asia Kecil – Turki sekarang. Tuhan utama kaum Harran adalah bulan, tetapi mereka juga menyembah matahari, planet² dan makhluk² gaib yang lain seperti Jin. Mereka melakukan ibadah haji mereka di gunung² di sekitar Harran. Al-Hashimi, seorang sejarawan Arab, menyebutkan salah satu dari festival² mereka,” Festival dewa² untuk merayakan munculnya Bulan Baru.” [3] Harran menjadi sebuah kota yang terkenal dan sebuah tempat melaksanakan ibadah haji karena pemujaan Sin, dewa bulan. Ibn al-Nadim, sejarawan Arab lainnya, menyebutkan ibadah haji kaum Haranian ke beberapa tempat lain di mana mereka menyembah beberapa dewa, termasuk Sin, dewa bulan. Mereka juga menyembah planet² dan dewa² lainnya, seperti Hermes dan Jin. [4]
[3] Al-Biruni,op.cit., hal. 318 (dikutip oleh The Knowledge of Life, Sinasi Gunduz, Oxford University, 1994, hal. 183
[4] Ibn al-Nadim, al-Fahrisit, hal. 322

Kaum Harran berpengaruh besar pada Muhammad. Muhammad bergabung dengan sebuah kelompok di Mekah yang disebuh “al-Ahnaf” (Hanif), yang berhubungan dengan kaum Harran. Banyak anggota² kelompok tersebut pergi mengunjungi daerah al-Jazirah yang terletak di perbatasan di antara Timur Laut Syria, Irak dan Turki. Para sejarawan memberitahu kita bahwa para anggota kelompok ini, seperti Zayd Bin Amru, pergi ke sana untuk mencari pengetahuan agama. [5] Melalui hubungan ini, banyak tatacara ibadah kaum Harran yang diserap Islam. Zayd Bin Amru adalah salah satu pendiri Ahnaf/Hanif. Dia adalah kerabat Muhammad, dan Muhammad sering menemui Zayd di dalam gua² di Harra’, di mana para anggota Ahnaf kerap bertemu.[6]
[5] Ibn Kathir, Al Bidayah Wal Nihayah, Dar Al Hadith, (Cairo, 1992), 2 : 243
[6] Ibn Darid, Al-Ishtiqaq 84; Qastallani Ahmad ibn Muhammed, Irshad al-Sari, 6, page 171 ; Ibn Kathir, al-Bidayah Wal Nihayah 2, hal. 244; Ibn al-Atheer, Asad al-Ghabah Fi Maarifat al-Sahabah 2, hal. 231

Karena pengaruh kaum Harran pada Muhammad, Harran menjadi sebuah tempat yang penting di dalam Qur’an. Qur’an mengisahkan bahwa Sulaiman menundukkan angin dan menggunakannya untuk melakukan perjalanan ke sebuah tempat yang jauh. Qur’an mengatakan dalam ayat 21:81:

Kepada Sulaiman angin berhembus dengan ganas menuruti perintahnya menuju ke tanah yang kami berkati.

Banyak penulis Islam mengartikan ayat ini bahwa Sulaiman menggunakan angin untuk melakukan ibadah haji ke Harran. Harran pada waktu itu dianggap sebagai kota haji, [7] khususnya bagi kaum Harran, yang menyembah bulan. Banyak kelompok yang dipengaruhi oleh kaum Harran, yang membuat Harran menjadi tempat di mana masyarakat pergi untuk menyembah dewa kaum pagan seperti Sin, sang dewa bulan. Kelompok² ini ingin membuat kesan bahwa Harran merupakan kota kuno di mana masyarakat telah melakukan haji sejak jaman dahulu. Karena itulah mereka mengatakan tokoh² penting, seperti Sulaiman, juga beribadah haji di jaman dahulu di tempat mereka. Tempat ibadah mereka jadi tampak lebih penting andaikata para nabi dari Perjanjian Lama mengakuinya.
[7] M. A. al-Hamed, Saebat Harran Wa Ikhawan al-Safa, ( al-A’hali- Damascus, 1998), hal. 199

Hal serupa terjadi atas Mekah. Kepercayaan Islam mencari cara untuk membuat Mekah tampak seperti pusat ibadah haji kuno. Mereka menghubungkan Abraham dengan Mekah, dengan cara mengatakan Abraham naik seekor Bouraq, yakni unta bersayap, dan terbang ke Mekah. Sudah jadi kebiasaan berbagai kelompok agama untuk membuat kota² pagan mereka jadi tampak penting, dengan cara mencatut tokoh² Alkitab dan menghubungkan para tokoh ini dengan tempat ibadah mereka.

Qur’an dan penulis2 Islam menyatakan bahwa Abraham menyuruh semua orang untuk melaksanakan Ibadah Haji ke Mekah.

Qur’an dalam Surah 22, ayat 27, menyatakan bahwa Allah memerintahkan Abraham untuk menampilkan dirinya di dalam sebuah minaret, atau menara di mana kaum muslim yang beriman dipanggil untuk sholat. Abraham mengajak orang² untuk melaksanakan ibadah haji, yaitu berziarah ke Mekah. Kemudian masyarakat seluruh dunia melaksanakan ajakan itu dalam generasi Abraham. Ibn Abbas mengklaim bahwa ketika Abraham memanggil untuk beribadah haji ke Mekah, semua batu², bukit² dan pohon² yang mendengarkan dia, bahkan debu, pergi beribadah haji ke Mekah. [8]
[8] Tarikh al-Tabari, I, 156, 157

Ayat² Qur’an menyatakan Abraham menggunakan Athan آذان, atau suara yang keras, guna memanggil mayarakat untuk bersembahyang. Meneriakan dengan suara yang keras dari atas sebuah minaret masih merupakan cara kaum muslim memanggil masyarakat untuk bersembahyang. Metode ini dikenali dan dilakukan sepanjang sejarah jazirah Arab. Para pemuja dari berbagai sekte Jin pada masa Muhammad biasanya berteriak dari sebuah minaret guna memanggil masyarakat untuk bersembahyang. Cara ini terutama dilakukan oleh orang² yang mengklaim sebagai nabi di jazirah Arabia, dan mereka diketahui memiliki hubungan dengan Jin. Sebelum Muhammad, Musaylimeh Bin Habib mengaku dirinya adalah seorang nabi di kota Yamama. Dia memiliki seseorang yang berteriak kepada masyarakat dari minaret, memanggil mereka untuk bersembahyang, atau pergi beribadah haji ke sebuah kuil tertentu. Ritual semacam ini tidak dikenal di luar jazirah Arab, tidak diketahui juga apakah hal itu adalah hal yang biasa dilakukan berabad-abad sebelum jaman Muhammad.

Ayat yang menunjukkan Abraham berteriak dari minaret juga mengatakan suara Abraham didengar oleh semua makhluk manusia di atas bumi. Hal ini merupakan mitos yang tidak mungkin terjadi. Dalam sejarah, tidak seorangpun di atas bumi pernah mendengar suara Abraham memanggilnya untuk melakukan ibadah haji ke Mekah. Lebih jauh, kita melihat dalam sejarah bahwa Mekah belum ada sampai abad ke-4 Masehi, sedangkan Abraham hidup di abad ke-21 SM. Dengan begitu, bagaimana mungkin semua orang dari seluruh penjuru dunia bisa datang ke kota yang belum ada di gurun pasir di Arabia barat tengah, yang di jaman Abraham belum pernah diinjak siapapun?

Tiadanya padang rumput yang memadai dan kurangnya air, menyebabkan Mekah tidak bisa menjadi pusat ibadah Haji sebelum masa Islam

Mekah tidak mungkin menjadi sebuah tempat berziarah haji sebelum masa Islam. Mekah pada masa tersebut adalah sebuah kota miskin, dengan sedikit tempat untuk menggembalakan ternak. Bagaimana mungkin kota itu dapat menyediakan padang rumput bagi ribuan unta yang membawa orang² yang beribadah haji ? Sudah ada tempat² lain yang lebih memadai bagi lahan penggembalaan di jazirah Arab. Ka’bah² dari kota² ini telah disiapkan untuk menyelenggarakan ibadah haji.

Hal penting lain yang membuat Mekah tidak bisa menjadi pusat ibadah haji adalah kurangnya air. Mekah baru punya air setelah Abdel Mutaleb, kakek Muhammad, menggali sumur Zamzam, 50 – 75 tahun sebelum Muhammad. Mekah bahkan tidak mampu menyediakan air yang cukup bagi hanya sebuah suku kecil Khuzaa’h, yang pertama kali membangun dan menghuni kota dalam masa abad ke-4 M. Bagaimana kemudian, Mekah dapat menyediakan air yang cukup untuk ribuan peziarah yang akan membutuhkannya? Bagaimana mereka akan memberi minum unta² mereka, dan binatang² lainnya yang dibawa serta, untuk dikorbankan sebagai bagian dari ritual ibadah haji ?

Sebelum sumur Zamzam digali persis 50 atau 70 tahun sebelum masa Muhammad, adalah tidak mungkin bahwa Mekah dapat menjadi sebuah tempat melaksanakan ibadah haji untuk orang2 Arab, karena alasan² yang baru saja aku sebutkan.

Memang ada ibadah haji di daerah sekitar Mekah dalam masa sebelum Islam, tetapi Mekah bukan yang termasuk di antara tempat untuk beribadah haji.

Ber-tahun² sebelum Islam, ritual ibadah haji ala pagan sudah ada di berbagai bukit di luar Mekah, tetapi hal itu dilakukan oleh orang² Arab penyembah berhala dalam jumlah yang terbatas. Dibawah Muhammad, pelaksanaan ibadah haji ke Mekah kemudian menjadi sebuah pilar utama dalam agama Islam.

Dalam masa sebelum Islam, Mekah diketahui menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai ‘ibadah haji kecil’, tetapi ibadah merupakan ibadah okultisme sepenuhnya, dan bagian dari ritual agama Jin Arab. Aku akan bahas hal ini lebih jauh di sub bab berikut “Ibadah Haji Kecil (Umra’).

Sudah diakui secara umum bahwa orang² Arab terbiasa melakukan perdagangan ketika sedang beribadah haji, atau perziarahan keagamaan. Pada masa sebelum Islam, masyarakat yang datang ke daerah untuk beribadah haji tidak berdagang di Mekah, melainkan di Ukkaz dan daerah² lain di sekitarnya, seperti Majanna dan Dhul-Majaz. Penulis² Arab memberitahu kita bahwa Ukkaz adalah sebuah kota “Haram”, yang berarti tidak seorangpun boleh membunuh, atau melakukan hal² tertentu di sana, dalam bulan ibadah haji. Kita menemukan bahwa ketika kaum Quraish, suku dari mana Muhammad berasal, mengunjungi tempat² ini, mereka selalu mengunjunginya dengan kondisi Ihram atau suatu kondisi yang khusyuk. Ibn Habib memberitahu kita bahwa suku Quraish tidak pernah mengunjungi Dhul-Majaz kecuali dengan sebuah kondisi yang khusyuk atau Ihram. [9] Kita mengetahui bahwa suku Quraish berada dalam kondisi Ihram atau khusyuk, ketika mereka berada di Ukkaz, ketika perang Fujjar mulai berkobar. [10] Fujjar mempunyai arti “penyesat, kriminal atau pendosa”. Dalam perang Fujjar, suku² Quraish dan Kinaneh membentuk suatu persekutuan. Pada penghujung abad ke-6 Masehi, mereka berperang melawan suku² Arab lain yang menjadi musuh² mereka. Perang tersebut disebut Fujjar karena terjadi di dalam bulan² Haram, dalam masa di mana orang² Arab dilarang berperang. Al-Azruqi, seorang penulis Islam kuno yang menulis mengenai Mekah, juga mengatakan bahwa tidak seorangpun diperkenankan mengunjungi Ukkaz atau Dhul-Majaz kecuali dalam kondisi Ihram atau khusyuk. [11]
[9] Ibn Habib, Munammaq, hal. 275 ; dikutip oleh Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal., 173
[10] Muhammad Ibn Habib, Kitab al- Munammaq, hal. 196
[11] Azruqi, Akhbar Mecca, hal. 132

Saksi² sejarah ini menunjukkan bahwa ibadah haji sebelum masa Islam bermula di pusat² yang lain dari Mekah. Para peziarah berkumpul di tempat² ini untuk mengunjungi kuil² di sana, berdagang, dan mempersiapkan diri mereka untuk melakukan perziarahan ke tempat² yang disakralkan yaitu di bukit² Mina’, Arafah dan Muzdalifah. Tempat² ini adalah obyek² yang sesungguhnya dari ibadah haji, di mana akan kita lihat setelah ini. Mekah tidak termasuk dari peribadahan haji, karena ritual² resminya dimulai pada bukit yang disebut Arafah dan berakhir di Mina’, di mana kondisi Ihram selesai. Jelaslah bahwa ibadah haji dilakukan di bukit² tersebut di mana kaum Arab menyembah dewa² mereka dan mereka tidak memasukkan Mekah ke dalamnya. Fakta² ini menunjukkan pada kita bahwa Mekah tidak disinggahi dalam ibadah haji, tetapi bukti² tidak hanya berhenti sampai di sini. Kami melihat bahwa para pejabat kota Arafah adalah orang² dari suku Tamim bukan dari suku Quraish. [12] Hal ini juga memberitahu kita bahwa Mekah dan Quraish, suku yang berdiam di sana, tidak berkaitan apapun dengan ibadah haji.
[12] Wellhausen, Reste , hal. 83; dikutip oleh Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal. 174

Crone, seorang cendekiawan, dalam bukunya yang berjudul Meccan Trade (Perdagangan di Mekah dan Munculnya Islam) juga menegaskan bahwa perdagangan saat ibadah haji hanya terjadi di Arafah dan Mina’ saja, dan tidak termasuk Mekah. Ketika, menurut ritual keagamaan mereka, mereka akhirnya diizinkan untuk berdagang dalam masa peribadahan, mereka mulai berdagang di Arafah dan Mina’, tetapi tidak ada keterangan bahwa Mekah merupakan bagian dari ritual haji. [13] Jelaslah bahwa Arafah dan Mina’ adalah tempat yang sesungguhnya bagi kaum Arab beribadah haji, dan bahwa pada masa sebelum Islam, Mekah tidak dianggap sebagai pusat ibadah haji.
[13] Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal. 175

Setelah Muhammad gagal menyakinkan masyarakat untuk menjadi pemeluk agama baru Islam, dia mengubah strateginya, dan berusaha mencari sebuah suku yang bisa diajak berkompromi dan yang mau menerima dia sebagai seorang “nabi Allah”. Dia akan memimpin suku tersebut berperang melawan suku² Arab, membunuhi kaum lelakinya dan memberikan para wanita dan anak² perempuan orang² Arab dan Yahudi yang mereka taklukkan. Para wanita akan menjadi gundik² mereka, dan para anak laki akan dijual sebagai budak, dan rumah² dan milik pribadi akan menjadi jarahan bagi penakluk. Bertahun², Muhammad pergi ke Ukkaz, Majanna, Mina’ dan Dhul-Majaz, pusat² ibadah haji, untuk menawarkan program²nya. Tetapi ia hanya bertemu dengan suku² serupa dengan suku² Mekah.[14] Di tempat ini akhirnya dia bertemu dengan para wakil suku Oas dan Khazraj dari Medinah, yang menerima tawarannya. [15]
[14] Ibn Saad, Tabaqat 1, hal. hal. 216; Ibn Hisham, hal. 281 ; dikutip oleh Crone, hal. 175
[15] Ibn Hisham, hal. 286; Ibn Saad, Tabaqat 1, hal. 217; Dikutip oleh Crone, hal. 175

Walaupun Islam berusaha menghubungkan seremoni ibadah haji kaum pagan Arab dengan Abraham, fakta² sejarah dengan jelas berlawanan dengan pernyataan mereka. Umat Muslim secara sia² bersandar pada ibadah Arab pagan guna mendapatkan pengampunan illahi bagi dosa² mereka. Pengampunan dosa tak ada hubungannya dengan ibadah agama; karena jika begitu, maka hanya orang² kaya saja yang dapat pengampunan dosa karena, di jaman kuno, orang² pada umumnya tidak punya biaya untuk melakukan perjalanan panjang naik haji. Sebagai contoh, perjalanan dari Bangladesh sebelum penemuan modern transportasi bermotor sangatlah merepotkan dan sulit. Memutuskan untuk mengadakan perjalanan ini berarti menghabiskan waktu selama tujuh bulan dalam perjalanan ke Mekah, dan tujuh bulan berikutnya untuk pulang. Juga bahwa kemungkinan para peziarah tidak selamat dalam perjalanan. Melalui gurun² pasir Asia dan Jazirah Arab, dia akan menghadapi pelbagai mara bahaya, seperti pencuri², perampok, binatang² liar dan ular², belum lagi kekurangan makanan dan minuman. Resiko epidemi penyakit dapat menyebar di antara para peziarah yang berjumlah sangat banyak yang berkumpul untuk sebuah perjalanan yang panjang. Waktu yang diperlukan untuk sebuah perjalanan haji dari suatu daerah yang jauh dapat mencapai 12 sampai 16 bulan, suatu waktu yang sangat panjang memisahkan sang peziarah dengan keluarga dan pekerjaan²nya. Hal itu juga membebani dia sejumlah besar uang untuk biayanya dalam periode ini, karena ia tidak bekerja atau hidup dengan keluarganya. Ibadah Haji adalah beban biaya yang luarbiasa, ritual yang tidak masuk akal yang dapat menghancurkan keluarga dan kehidupan social dan ekonomi mereka yang menjalaninya dan membahayakan kesehatannya sendiri dan, barangkali, memakan jiwanya.

Muhammad dan sukunya yang tinggal di Mekah adalah satu²nya masyarakat yang diuntungkan dari ritual ibadah haji ke Mekah. Karena para peziarah membawa binatang² untuk di korbankan, semua daging ditinggalkan untuk para penduduk Mekah. Banyak kambing dan domba ditinggalkan, belum termasuk uang yang dibawa para peziarah, atau perdagangan yang mereka lakukan. Kenyataannya, peribadahan haji yang dilakukan setiap muslim paling sedikit sekali dalam hidupnya, diperintahkan oleh Muhammad agar kaum muslim lain dapat membawa kekayaan bagi sukunya sendiri, Quraish. Karena sukar dan mahalnya perjalanan naik haji yang harus dilakukan, maka kaum miskin tidak mampu melakukannya.

Mekah merupakan bagian dari sebuah ibadah haji klenik, yang disebut Umra’

Kita telah melihat bahwa masa sebelum Islam, Mekah tidak pernah menjadi salah satu kota yang menyelenggarakan kegiatan ziarah besar yang disebut sebagai ibadah Haji, meskipun umat Muslim mengatakan Mekah merupakan kota utama ibadah Haji.

Kita akan melihat bahwa Mekah merupakan bagian dari Umra, sebuah ibadah haji klenik kecil, yang dapat dilaksanakan setiap saat sepanjang tahun. Dalam masa sebelum Islam, ibadah haji ini berhubungan dengan pemujaan klenik di jazirah Arab. Peziarahan dimulai dari tempat dua patung Kahin, bernama Safa dan Naelah. Kahin adalah pendeta² dalam pemujaan jin di jazirah Arab. Patung² para Kahin ini ditempatkan pada lokasi Hajar Aswad di Ka’bah di Mekah. Peziarah² lainnya memulai ibadah haji dari patung yang sama Safa dan Naelah yang berlokasi di pantai dekat Mekah. Ibadah haji kemudian dilanjutkan ke bukit² Safa dan Marwa, di mana terletak patung² Safa dan Marwa. Dalam sejarahnya, Safa dan Marwa adalah pusat bagi agama klenik jin. Muhammad memasukkan kegiatan ibadah haji ke dalam Islam.

TAHAPAN² IBADAH HAJI BESAR DAN MAKNA PAGAN MEREKA DAN ASAL USULNYA

Ibadah haji menuju bukit Arafah

Ibadah Haji, juga disebut “ziarah besar”, dimulai pada tahun ke-7 dari Du al-Hijjah, bulan ziarah. Di Mekah, para peziarah mendengarkan khotbah² mengenai ziarah naik Haji, tetapi tidak ada ritual² yang dilakukan di sana yang membuktikan Mekah sebagai bagian sesungguhnya dari kegiatan naik Haji tersebut.

Pada hari kedua, hari kedelapan dari Du al-hijjah, peziarah² menuju bukit Arafah, berlokasi di Timur Mekah. Dibutuhkan lebih dari empat jam untuk mencapai bukit ini dengan unta. Di tengah perjalanan menuju Arafah, ada sebuah tempat yang disebut Muna, sekarang dikenal sebagai Mina’, di mana mereka bersembahyang untuk sholat pada tengah hari. Muna adalah tempat yang penting dalam ibadah haji. Kedua kata Muna dan Manat memiliki kesamaan dalam bahasa Arab yang berarti ”berharap atau menginginkan”. Manat adalah anak perempuan Allah. Ini mengindikasikan Muna diperuntukkan bagi pemujaan Manat. Setelah ini, aku akan mendiskusikan ritual² ibadah haji yang dilakukan di Muna dalam perjalanan pulang mereka ke Mekah.

Pada hari ketiga, hari kesembilan dari Du al-Hijjah, peziarah meneruskan ke bukit yang disebut Arafah. Mereka semua mengenakan pakaian putih, menunjukkan mereka berada dalam suatu kondisi khusyuk, menurut kepercayaan. Mereka berdiri pada suatu dataran dekat sebuah gunung yang disebut “jabal Al-Rahman,” yang berarti “gunung pengampunan”, dan mereka berteriak dengan suara yang keras dari tengah hari sampai matahari terbenam “Labeik Allahumma Labeik.” Allahumma berarti “Allah, adalah mereka,” jadi mereka teriakan mereka diterjemahkan,”Allah adalah mereka, Aku ada di sini.”

Teriakan “Allah adalah mereka, Aku ada di sini,” dan penggunaannya dalam pemujaan pagan di jazirah Arab.

Arti dari teriakan ini memiliki nilai penting yang khusus, karena para pemuja Keluarga Dewa Bintang Arabia akan melafalkan kalimat ini di hadapan setiap anggota dalam Keluarga Dewa Bintang untuk menunjukkan kepercayaan mereka bahwa setiap anggota Keluarga Dewa Bintang pantas dimuliakan. Muhammad memasukkan teriakan ini ke dalam Islam, seperti juga dia memasukkan ziarah ibadah haji ke dalam Islam.

Kita juga menemukan bahwa para pemuja Hubal, tempat pemujaan utama kuil di Mekah, akan membacakan kalimat ini. [16] “Hubal” adalah sebuah symbol bagi dewa bulan. [17] Banyak sejarawan berpendapat bahwa Hubal adalah Allah, sebelum planet, Venus, menggantikannya dengan gelar Allah.
[16] Ibn Habib, Kitab al-Muhabbar, hal. 315
[17] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, 328

Teriakan yang sama disuarakan orang Arab di depan Manat. Mereka berkata:

Allah adalah mereka, Aku ada di sini. Tanpa memohon yang datang lebih dahulu sebelum engkau, orang2 kan gagal dan meninggalkanmu, tetapi mereka masih datang kepadamu dalam setiap peziarahan setelah yang lainnya. [18]
[18] Ibn Habib, Kitab al-Muhabbar, hal. 313

Teriakan ini diserukan di hadapan Manat, putri Allah, dan menunjukkan bahwa tatacara ibadah bagi Keluarga Dewa Bintang Arabia ini dilakukan ketika umat melakukan ibadah Haji di tempat suci yang dibangun bagi dewa² anggota Keluarga Dewa Bintang. Manat punya tempat sendiri di mana umatnya akan datang dan menyerukan teriakan yang sama dan melakukan ritual lain, seperti menggunduli kepala. [19] Muhammad memasukkan ritual teriakan dan pemotongan rambut di Muna ke dalam ibadah Haji Islam. Quraish dan Khuzaa’h, suku yang membangun Mekah, adalah termasuk masyarakat yang memuja Manat dan pergi ke sana untuk berziarah. [20]
[19] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, 14; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan 8, 169; Azruqi, Akhbar Mecca, I, 73
[20] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, hal.s 13, 15; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan 8, hal. 169

Semua kejadian dalam sejarah ini menunjukkan alasan mengapa para peziarah terbiasa menyerukan teriakan yang sama di atas bukit Arafah saat matahari terbenam, “Allah adalah mereka, aku ada di sini.” Arafah adalah tempat menyembah Ellat, sang dewi matahari, sampai saat matahari terbenam. Suami Ellat adalah Allah, sang dewa bulan, dan putrinya adalah Manat dan al-‘Uzza, dan mereka semua disembah dengan hormat dan menerima seruan teriakan yang sama.

Muhammad telah melarang para pengikutnya untuk berdoa di bukit Arafah setelah matahari terbenam, [21] yang merupakan kebiasaan masyarakat Arab pagan ketika mereka beribadah haji di bukit Arafah. Mereka terus memuja dan berteriak di hadapan matahari sampai ia terbenam.
[21] Al- Bukhari, 2, hal. 166

Istilah,”Allah adalah mereka,” diadopsi suku Quraish, suku asal Muhammad, sebelum ia mengaku sebagai nabi. Quraish biasanya memulai tulisan² atau perjanjian² “dalam nama Allah adalah mereka.” [22] Muhammad berasal dari suku Bani Hasyim yang memulai dengan istilah yang sama,”dalam namamu Allah adalah mereka.” Dokumen Quraish melarang anggota² mereka untuk melakukan hubungan apapun dengan Bani Hasyim karena Bani Hasyim menolak untuk menyerahkan Muhammad kepada Quraish supaya dapat diadili. Dokumen yang mereka tulis dimulai dengan frase,”dalam namamu Allah adalah mereka.” [23] Suku pagan ini biasanya menggunakan rumusan ini karena mereka menghormati setiap anggota dari Keluarga Dewa Bintang jazirah Arab.
[22] Tarikh al-Tabari, I, hal. 553
[23] Tarikh al-Tabari, I, hal. 553

Suhail Bin Amru, salah seorang ketua suku Quraish, mempertimbangkan pembuatan perjanjian damai antara suku Quraish dan Muhammad. Dalam menulis perjanjian itu, Muhammad ingin memulai dengan kata²,”Dalam nama Allah sang Rahman al-Rahim.” Kata ini awalnya dikarang di hadapan Muhammad oleh Musaylimeh Bin Habib, orang yang mengklaim sebagai seorang nabi, yang punya ikatan dengan para jin/setan. Quraish menentang Musaylimeh. Juru bicara suku tersebut, Suhail, keberatan dengan kalimat,”Dalam nama Allah, sang Rahman al-Rahim.” Suhail berkata pada Muhammad:

“Aku tidak mengenal siapa itu ‘Rahman’, sebaliknya, tulislah dengan cara ini,’Dalam nama Allah adalah mereka,’ sebagaimana engkau biasanya menulis.” [24]
[24] Bukhari, 3, hal. 181

Hal ini menunjukkan bahwa ketika Muhammad menulis perjanjian damai, atau dokumen penting, dia menggunakan kata² yang sama yang digunakan sukunya dalam memuliakan anggota² Keluarga Dewa Bintang Arab.

Agama Jin-setan di jazirah Arab menyebarkan ajaran pagan melalui kepercayaan yang menyembah banyak dewa. Hal itu bertentangan dengan seruan Alkitab untuk menyembah satu Tuhan saja.

Umayya bin abi al-Salt adalah sepupu Muhammad dari pihak ibu. Umayya juga menganut kepercayaan jin-setan yang mengajarkannya banyak hal, salah satunya kalimat, ”Dalam namamu, Allah adalah mereka.” [25] Umayya mengatakan dua ekor burung telah membuka dadanya dan mengambil “al-a’laka’ hitam” dari hatinya. Menurut konsep agnostic, “al-a’laka’ hitam” adalah unsur gelap dalam tubuh manusia yang menyebabkan manusia berdosa. Setelah itu diambil, Umayya menjadi tanpa dosa. Muhammad mencontek pernyataan Umayya, tetapi Muhammad mengganti sedikit dengan mengatakan bahwa dua malaikat yang membuka dadanya dan mengambil “al-a’laka’ hitam” yang membuatnya tanpa dosa.
[25] Al-Aghani, oleh Al Asfahani, 4, hal. 122- 195

Muhammad seringkali duduk bersama Fari’ah, saudara Umayya, karena Muhammad menyukai kecantikannya. Dia biasanya membacakan banyak puisi yang ditulis saudaranya, Umayya. Muhammad memasukkan banyak puisi² tersebut ke dalam Qur’an. Muhammad, seperti Umayya, juga mencontek kalimat , ”Dalam namamu, Allah adalah mereka” yang diajarkan para jin-setan pada Umayya.

Jin-setan Arab menyebarkan pesan bahwa semua dewa Arab dan berhala harus dihormati dan dimuliakan. Dengan cara ini Jin-setan menarik kaum Arab pada dewa² mereka. Istilah ”Dalam namamu, Allah adalah mereka” mengungkapkan tujuan gelap mereka untuk bersaing dengan konsep Alkitab tentang ketuhanan yang melarang siapapun memuliakan tuhan manapun kecuali Trinitas.

Ibadah Haji Dilanjutkan ke Muzdalifah di mana Peziarah Pagan Menyembah Bulan

Aku akan kembali pada diskusi kita mengenai apa yang terjadi dalam bulan ibadah haji. Telah aku sebutkan bahwa pada hari kesembilan dalam bulan peribadahan yang disebut Du al-Hijjah, para peziarah berada pada bukit Arafah sampai dengan matahari terbenam, meneriakan “Allah adalah mereka, aku berada di sini.” Setelah matahari terbenam, para peziarah memulai sebuah perjalanan ke sebuah tempat yang disebut al-Muzdalifah, di mana mereka akan bermalam dan melakukan sembahyang malam. Hari kedua, hari kesepuluh bulan peribadahan Du al-hijjah, mereka melakukan Waqfa sebelum matahari terbit, yang berarti mereka berdiri dan berseru kepada Allah.

Ketika kami mempelajari buku² yang berisi Hadits Muhammad dan mendapatkan penjelasan mengenai kehidupannya, kami menemukan Muzdalifah adalah sebuah tempat di mana orang² Arab pagan dari area sekitar Mekah dan Medina sering datang untuk bersembahyang. Mereka bersembahyang dari saat bulan terbit sampai menghilang. Buku² al-Bukhari dan Sahih Muslim adalah dua buku yang dapat dipercaya yang berisi hadits Muhammad. Mereka mengutip kata² Abdulah, pembantu Asmaa, saudari Aishah, istri termuda Muhammad:

Asmaa pergi ke Muzdalifah, dan mulai bersembahyang. Dia melakukannya selama satu jam, kemudian dia berkata,”Anakku, apakah bulan telah hilang?” Aku menjawab”tidak.” Kemudian dia bersembahyang selama satu jam dan berkata,”Apakah bulan telah menghilang?” Aku berkata “ya”, dan dia berkata “ayo pergi,” maka kami pergi dari sana. [26]
[26] Sahih Muslim 9, hal. 39; Bukhari, 2, hal. 178

Muhammad, dalam salah satu haditsnya, juga mengatakan mengenai bersembahyang di Muzdalifah sampai bulan menghilang. [27] Kata2 ini memberitahu kita bahwa Muzdalifah berlokasi di sebuah tempat di mana para peziarah Keluarga Dewa Bintang Arab dimuliakan dan penyembahan bulan. Oleh karena itu, Asmaa bersembahyang di Muzdalifah selagi bulan sedang terbit di langit, dan dia tidak dapat berhenti sembahyang selagi bulan masih tampak. Dia baru berhenti setelah mengetahui bahwa bulan telah menghilang. Sudah jelas bahwa Muzdalifah merupakan tempat di mana bulan berada di fase yang tepat untuk mulai disembah di saat ibadah haji. Fakta bahwa peziarah harus meninggalkan Arafa setelah matahari terbenam, menunjukkan bahwa mereka telah memenuhi kewajiban mereka kepada matahari pada tingkatan ini dalam ibadah haji, dan bahwa mereka tidak perlu tidur di Arafah, lokasi yang dipersembahkan kepada matahari dalam ibadah haji. Barangkali, bahkan sebelum ibadah haji diadakan, mereka mencapai Muzdalifah pada malam hari ketika bulan disembah.
[27] Bukhari, 2, hal. 178

Pembahasan ibadah haji dan akar pagan Arabnya di bagian ini merupakan usaha untuk membantu para teman Muslim untuk mengerti makna Arab sebenarnya dari ritual haji dan agar mereka sadar bahwa ini bukan ibadah bagi Tuhan yang sebenarnya. Bahkan sekalipun Muhammad membubuhi penyembahan berhala para kakek moyangnya dengan banyak pembualan di sana sini, hal itu tidak membuat ibadah penyembahan ini sebagai hal yang benar.

Kita telah melihat pusat² ibadah haji yang berlokasi dekat Mekah. Pada masa sebelum ibadah haji Islam, setiap tempat ibadah mempunyai tempat khusus untuk menyembah setiap anggota dewa² Keluarga Dewa Bintang Arab. Kita telah mempelajari bahwa peziarah berhenti untuk menyembah matahari di Arafah dan mereka menyembah bulan di Muzdalifah. Aku akan meneruskan penjelasan mengenai tahapan² dalam upacara ibadah haji.

Berbagai suku yang berbeda lebih memilih lokasi ibadah haji tertentu dibandingkan lokasi lain. Pada masa lalu, kita anggap saja bahwa lokasi² ini tidak berhubungan. Sebuah suku akan mempersembahkan sebuah tempat khusus bagi satu anggota Keluarga Dewa Bintang jazirah Arab. Pada akhirnya, mereka menyatukan dan mengkoordinasikan semua tempat² penyembahan ini, menjadi satu dalam peribadahan haji agung, diterima oleh semua suku yang sebelumnya menghormati individu dewa bintang tertentu yang lebih mereka sukai.

Waqfa adalah sebuah sikap berhenti dan berdiri di hadapan Allah dalam ibadah haji. Para peziarah melakukan waqfa di Muzdalifah. Mereka selalu berhenti di Muzdalifah sebelum matahari terbit. Ini mengkonfirmasi bahwa, sebelum mereka menyatukan ritual², Muzdalifah adalah sebuah tempat yang dipersembahkan secara eksklusif untuk menyembah bulan, dan hanya dalam beberapa jam pada malam harinya sebelum matahari terbit diberikan para pemuja kesempatan dengan bulan jazirah Arab sebelum menghilang. Mereka melakukan sedikitnya dua kali waqfa, sekali pada malam harinya dan yang berikutnya sebelum matahari terbit, sebelum bulan menghilang.

Di Muna, atau Mina, mereka mempunyai sebuah pusat peribadahan dalam ibadah haji yang dipersembahkan untuk menyembah Manat, salah satu dari dua putri Allah.

Para peziarah mengunjungi Muna sebelum matahari terbit untuk melaksanakan ritual² khusus. Pertama-tama, mereka melemparkan tujuh buah kerikil atau bebatuan kecil, pada sebuah gunung mini; kedua, mereka mengorbankan binatang; dan ketiga, mereka memotong rambut mereka, secara resmi menyelesaikan ibadahan haji. Ritual² yang dilakukan umat Muslim ini sama dengan ritual² yang dilakukan orang² Arab ketika melakukan ibadah penyembahan dan persembahan pada Manat, salah satu dari dua putri Allah.

Muna, atau Mina’, adalah sebuah tempat penting dalam peribadahan. Kita melihat ini melalui cara peziarah melemparkan tujuh buah bebatuan. Mekah berada pada sisi kiri mereka dan Muna berada pada sisi kanan. [28] Dalam pikiran orang² Arab, meletakkan Mekah pada sisi kiri berarti Mekah mempunyai arti yang kurang penting daripada Muna di mana mereka memuliakan Manat, salah satu dari dua putri Allah, dan seorang dewi khusus dalam Keluarga Dewa Bintang. Nama2 untuk Muna dan Manat, putri² Allah, mempunyai arti yang sama, yaitu “harapan” (Muna), atau “cita²” (Manat). Manat banyak disembah di berbagai lokasi di dalam dan di sekitar Mekah dan Medina. Medina adalah kota di mana Muhammad hijrah. Salah satu tempat penyembahan adalah Mashlal, tujuh mil dari Medina. [29] Juga ada banyak tempat untuk menyembah Manat di antara Mekah dan Medina; salah satunya adalah Khadid, [30] dan lain²nya di sepanjang pesisir pantai. [31] Kami asumsikan bahwa Muna, atau Mina’, adalah lokasi utama dalam peribadahan untuk menyembah Manat, karena Muna diberi nama mengikuti Manat.
[28] Sahih Muslim 9, hal. 42 and 43
[29] Taj Al Aruss 10, hal. 351; Tafsir al-Tabari 27
[30] Al-Tabarsi al-Fadl ibn al-Hasan, Majma’ al-Bayan fi tafsir al-Qur’an, 9, hal. 176; Yaqut al-Hamawi, Mujam Al Buldan 2: 944; Jawad Ali, vi, hal. 246
[31] Al-Ya’akubi, I, hal. 312

Menurut banyak sejarawan Arab yang menulis mengenai masa jazirah Arab sebelum Islam, seperti Ibn al- Kalbi, masyarakat suku Khazraj dan Oas lebih terikat pada Manat. [32] Kedua suku ini membantu Muhammad mengobarkan perang melawan orang² Arab untuk menundukkan mereka di bawah Islam. Itulah salah satu alasan Muhammad memasukkan perayaan² ibadah haji ke Muna ke dalam peribadahan haji Islam. Dalam rangka Muhammad menyenangkan Khazraj dan Oas, dia mengadopsi banyak hukum2 keagamaan dan perayaan mereka. Dia mengambil hari Jum’at yang merupakan hari di mana kedua suku bersembahyang, dan meneruskan peribadahan di antara kedua batu Safa dan Marwa, ritual yang biasa dilakukan oleh kedua suku ini.
[32] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, 14 ; juga lihat Yaqut al-Hamawi, Mujam Al Buldan 8, hal. 169

Mashlal adalah tempat yang berjarak tujuh mil dari Medina di mana Khazraj dan Oas tinggal. Ada sebuah kuil di sana, dibangun disekeliling sebuah batu yang melambangkan Manat. Kuil itu memiliki suatu Sidneh, atau pelayanan, seperti yang dilakukan dalam kuil di Mekah. [33] Kuil lainnya untuk Manat adalah di Khadid. Di antara suku² yang menyembahnya adalah Khuzaa’h, suku yang membangun Mekah. [34]
[33] Tafsir al-Tabari 27, hal. 35
[34] Tafsir al-Tabari 27, hal. 35

Manat adalah dewi hujan dan orang² Arab berdoa meminta hujan kepadanya. Pada akhir ibadah haji mereka, mereka mempersembahkan korban binatang kepada Manat.

Manat, awalnya adalah sebuah planet, yang dilambangkan dengan sebuah batu, dan pada batu inilah korban binatang diletakkan sebagai persembahan kepada berbagai dewa saat upacara ibadah haji. Menurut berbagai sumber, hal ini dilakukan karena dua hal yang berhubungan dengan Manat. Pertama, kata Mana berarti “untuk menumpahkan darah,” yang menyiratkan bahwa batu Manat diberi nama begitu karena semua binatang korban disembelih di atas batu itu. [35] Kedua, karena Manat berarti “harapan atau cita²,” dan pada batu inilah berbagai suku datang untuk mempersembahkan kurban binatang mereka, sebagai lambang harapan mereka sendiri dan permohonan akan hujan. [36] Keterangan ini adalah untuk menjelaskan asal-usul dan motivasi kegiatan naik haji jaman dulu, dan masih dilakukan Muslim jaman sekarang. Perhatikan bahwa penyembelihan binatang hanya terjadi di tempat Muna saja. Suku² lain di wilayah yang sama mempersembahkan korban binatang pada dewa² mereka di atas batu Manat.
[35]Tafsir al-Tabari 27, hal. 32
[36]Tafsir al-Tabari 27: 32; Al Zamkhari al- Khawarismi, Al Kashaf , 3, hal. 144

Kita juga melihat bahwa salah satu tujuan dari peribadahan haji dalam masa sebelum Islam adalah memohon hujan kepada dewa². Itu sebabnya mereka mempersembahkan korban² binatang mereka dan menyelesaikan ibadah haji di tempat Manat disembah karena Manat adalah dewa dengan siapa mereka mohon hujan. Kekeringan dan hujan adalah masalah yang serius bagi orang² Arab. Kelihatannya bahwa ketika musim hujan berakhir selama beberapa bulan, suku² Arab di area sekitar Mekah dan Medina menyiapkan suatu retreat khusus ke bukit², untuk memohon anggota² Keluarga Dewa Bintang Arab menurunkan hujan. Permohonan selesai ketika mereka mempersembahkan korban mereka kepada Manat, dewi yang mereka pikir mampu mengabulkan harapan mereka akan hujan.

Ibadah haji Islam sama dengan ibadah haji yang dilakukan oleh suku² Arab pagan dalam memohon kepada dewa² untuk memberikan mereka hujan. Setelah Islam muncul, Mekah ditambahkan ke dalam ritual ibadah haji ini, dan perayaan² lain juga diselenggarakan.

Ibn al-Kalbi, yang menulis mengenai tradisi orang² Arab sebelum Islam, menyebutkan sebuah peribadahan yang suku² Khazraj dan Oas, bersama-sama dengan suku² Ozd dan Ghassan, laksanakan di al-Mashlal, sebuah tempat yang berjarak tujuh mil dari Medina dan dipersembahkan untuk menyembah Manat. Dia berkata:

Mereka biasanya melaksanakan sebuah peribadahan berziarah dan melakukan “waqfa,” suatu sikap berhenti, di beberapa tempat. Mereka tidak akan memotong rambut mereka. Ketika mereka menyelesaikan kunjungan pada berbagai tempat peribadahan haji, mereka akan mendatangi Manat, di mana mereka memotong rambut mereka. Mereka tidak menganggap peribadahan mereka lengkap tanpa melakukan ini. [37]
[37] Al Azruqi, Akhbar Mecca, 1, hal. 73; Al Kalbi, Alasnam, hal. 14; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 8, hal. 169

Hal ini persis terjadi kini dalam peribadahan haji Islam. Setelah peziarah mengunjungi beberapa tempat berbeda, mereka berhenti di bukit Arafah, di mana orang² Arab melakukan “waqfa” untuk menyembah matahari. Mereka meneruskan ke Muzdalifah, di mana mereka berhenti untuk menyembah bulan, kemudian menyelesaikannya di Muna, di mana mereka mempersembahkan korban dan memotong rambut mereka. Ritual haji Islam mencerminkan ritual pagan yang sama seperti yang dilakukan pada masa sebelum Islam. Orang² pagan Arab bersatu dan berusaha keras untuk memohon dewa² mereka, khususnya matahari, bulan dan Manat, tiga dari empat anggota² Keluarga Dewa Bintang. Hal ini terjadi sebelum akhirnya planet Venus menggantikan bulan sebagai penyandang gelar Allah. Peribadahan haji, seperti yang aku sebutkan, kemungkinan besar bertujuan memohon hujan. Karena persembahan korban dan pemotongan rambut mereka merupakan tahap akhir dari ibadah haji orang pagan Arab, kita mengetahui bahwa peribadahan haji berakhir secara resmi di Muna. Segala sesuatu yang muncul belakangan, dan dilakukan dalam Islam kini, merupakan penambahan pada perayaan² kuno dari peribadahan haji yang dilakukan sebelum Islam.

Muhammad menambahkan beberapa hal pada peribadahan haji pagan, misalnya para haji Muslim harus kembali ke Mekah. Orang² mengelilingi Kaabah di Mekah sebanyak tujuh kali. Mereka yang tidak melaksanakan Umra, atau haji kecil, harus menjalani rute di antara dua bebatuan Safa dan Marwa tujuh kali sebelum kembali lagi ke Manat di mana kondisi khusuk. Yang disebut Ihram, selesai. Para peziarah memasuki kondisi penghiburan dan kesenangan dalam masa hari ke 11,12 dan 13 Du al-Hijjah, bulan haji. Para peziarah diperintahkan untuk melempar batu2 ke semua arah. Mereka meminum air dari sumur Zamzam dan mengunjungi makam Muhammad.

Berikutnya, tiga suku kembali ke Mekah setelah melaksanakan peribadahan haji ke Manat. Beberapa perayaan telah ditambahkan pada peribadahan haji aslinya.

Perayaan pertama adalah kembali dari Muna atau Mina, ke Mekah. Kami menemukan kunci ke perayaan ini dalam narasi² penulis Arab yang menulis mengenai peziarahan dan tradisi keagamaan suku² di jazirah Arab tengah bagian barat. Mereka memberitahu kita bahwa suku² Khuzaa’h, Oas dan Khazraj memuliakan Manat di Mashlal, sekitar tujuh mil dari Medina. Itu adalah tempat utama di mana Manat disembah, dan dari Manat mereka kembali berbaris di sekitar Kaabah Mekah. [38]
[38] Tafsir Ibn al-Kathir 4, hal. 252

Dari hal ini kita melihat bahwa suku Khuzaa’h, yang pertama kali membangun Mekah pada masa abad keempat Masehi, akan pergi ke batu Manat untuk mempersembahkan korban mereka, memohon hujan. Bagi Khuzaa’h, kembali untuk mengelilingi Kaabah dapat dimengerti, karena Kaabah tersebut adalah kuil mereka, dibangun bagi mereka oleh pemimpin Himyarite, Abu Karb Asa’d, ketika dia menduduki Mekah. Dia memerintah di Yaman dari tahun 410 ~ 435 Masehi. Dewa utama bagi Khuzaa’h adalah Venus, yang disebut “Allah”, gelar yang diambil alih dari bulan. Bagi Khuzaa’h, memuliakan Manat, putri Allah, dan memohon kepadanya untuk hujan tanpa kembali kepada ayahnya, Allah, di rumahnya di Ka’bah di Mekah, berarti bersikap tidak setia kepada pimpinan Keluarga Dewa Bintang Arab. Maka mereka diperintahkan untuk kembali ke Ka’bah dan mengelilinginya. Bukanlah Quraish,suku Muhammad, yang menduduki Mekah dan mengusir Khuzaa’h. Quraish tidak masuk daftar dengan ketiga suku yang kembali dari batu Manat untuk mengelilingi Kaabah.

Muhammad menambahkan Mekah ke dalam peribadahan Haji, mengikutkan tradisi okultis Oas dan Khazraj dalam peribadahan haji mereka yang disebut Umra’, yang dilakukan kepada dua tugu pendeta kuno agama jinn Mekah.

Kedua suku lainnya, yang biasa mengunjungi Manat dan kembali ke Mekah, adalah Oas dan Khazraj. Inilah kedua suku yang membantu Muhammad menundukkan orang² Arab dan membuat mereka memeluk Islam melalui ancaman pedang. Ketika kita mempelajari sejarah keagamaan dan ritual suku² ini, kita mengerti mengapa Oas dan Khazraj akan kembali ke Mekah setelah melaksanakan sebuah peribadahan haji kepada Manat. Kedua suku ini melakukan sebuah peribadahan haji khusus kepada dua tugu yang, menurut tradisi, adalah dua pendeta agama jin-setan. Kedua pendeta tersebut adalah Isaf, seorang pria dan Naila, seorang wanita. Orang² Arab di sekitar Mekah dan Medina mempercayai bahwa kedua pendeta ini berzinah dalam Kaabah, dan diubah menjadi batu² oleh para dewa. Batu² ini dimuliakan dan disebut Rukun yang terletak di Kaabah di Mekah. Karena batu² tersebut ditempatkan di mana dewa utama berdiri di dalam kuil Ka’bah, kita dapat mengerti nilai penting Isaf dan Naila dalam system pemujaan Mekah.

Oas dan Khazraj, seperti juga para pemuja² lainnya yang memuliakan pendeta² kuno agama jin-setan, Isaf dan Naila , mempunyai sebuah peribadahan haji khusus yang disebut Umra’. Mereka memulai Umra dengan menciumi kedua patung Isaf dan Naila di Mekah. Tetapi suku² Oas dan Khazraj, tidak menciumi patung yang asli, tapi replika patung² tersebut yang ditempatkan di pantai di arah yang berhadapan dengan Mekah. Kemudian mereka pergi ke sebuah bukit dekat Mekah ke dua batu yang disebut Safa dan Marwa, di atas mana ditempatkan patung² lain dari Isaf dan Naila . Mereka berjalan bolak balik tujuh kali di antara kedua batu ini, kemudian kembali ke Mekah untuk mencium kedua patung Isaf dan Naila . Kedua batu Safa dan Marwa berhubungan dengan pemujaan okultis.

Pada Umra ini, atau peribadahan haji kecil, ditambahkan kegiatan meminum air dari sumur Zamzam, di mana patung² lain Isaf dan Naila , pendeta2 kuno agama jin-setan, ditempatkan. Muhammad memasukkan ibadah haji kecil ke dalam ibadah haji besar. Hanya tiga suku yang kembali ke Mekah setelah menyelesaikan ibadah haji besar di Muna. Mereka adalah Khuzaa’h, pendiri Mekah, dan Khazraj dan Oas, kedua suku dari Medina.

Aku menyebutkan bahwa masyarakat Khuzaa’h kembali ke Mekah setelah mengunjungi Manat, untuk memuliakan dewa mereka, Allah, atau Venus. Oas dan Khazraj kembali ke Mekah untuk memenuhi sumpah mereka untuk menyembah Isaf dan Naila , patung² para pendeta terkenal agama jin-setan, sebelum mereka melanjutkan ibadah haji dengan pergi ke Safa dan Marwa, di mana kedua patung Isaf dan Naila ditempatkan. [39] Kemudian mereka melanjutkan ke sumur Zamzam, yang hanya memiliki Isaf dan Naila . Perjalanan keliling di sekitar patung² Isaf dan Naila ini adalah sebuah indikasi yang jelas bahwa pendeta² agama jin merupakan subyek ibadah Umra yang diadakan untuk menghormati mereka.
[39] Al Shahrastani, Al Milal Wa Al Nah’el, hal. 578

Patung² Isaf dan Naila ditempatkan di dekat sumur Zamzam oleh Abdul Mutaleb, kakek Muhammad, orang yang pertama kali menggali sumur tersebut. Abdul Mutaleb adalah seorang penganut agama jin Arab yang mengekeramatkan Isaf dan Naila , sehingga dia menempatkan patung² mereka di atas sumur yang dia gali.

Kini, kita telah melihat melalui sebuah studi mengenai sejarah, bahwa Muhammad memasukkan ibadah haji kecil atau Umra yang mana adalah, dalam masa sebelum Islam, bagian dari agama Jin Arab, ke dalam ibadah haji besar. Dia melakukan itu untuk menyenangkan kedua suku Khazraj dan Oas, yang menerima dia sebagai pemimpin mereka, dan menerima agendanya untuk menundukkan orang² Arab dan di bawah Islam melalui banyak peperangan. Tetapi jauh sebelum masa sebelum Islam, Mekah tidak berhubungan apapun dengan peribadahan haji yang disebut peribadahan haji besar Islam. Sebaliknya, Mekah melakukan Umra’, ibadah okultisme haji agama jin Arab.

Aku ingin mengajukan pertanyaan penting bagi teman² Muslim. Apakah agama okultis kedua suku yang membantu Muhammad memaksa orang² Arab menjadi Islam dan tradisi pagan meminta hujan pada dewa² mereka, merupakan ibadah yang layak dijaga dan diimani oleh pikiran dan hati ketika engkau rindu akan kebenaran Tuhan ?

“Ibadah haji besar” yang dimasukkan ke dalam Islam, adalah sebuah ibadah ziarah yang diciptakan oleh beberapa suku lokal pagan di daerah sekitar Mekah dan Medina.

Aku sebelumnya telah menyebutkan bahwa hanya tiga suku yang kembali ke Mekah untuk mengelilingi Ka’bah setelah melakukan ibadah haji ke Manat, yang berlokasi dekat Medina. Suku2 tersebut adalah Khuzaa’h, Oas dan Khazraj. Hal ini memberitahu kita bahwa Mekah mempunyai arti penting khusus bagi suku² ini secara istimewa, tetapi menyelesaikan ibadah haji dengan kembali ke Mekah tidak dianggap sebagai bagian dari ibadah haji apapun bagi suku² Arab lainnya. Kebanyakan suku² yang terlibat dalam ibadah haji pagan aslinya di sekitar Arafah, Muna dan Muzdalifah, adalah suku² yang tinggal di wilayah di sekitar Mekah dan Medina. Ketiga lokasi ini, Arah, Muna dan Muzdalifah, menarik sejumlah kecil suku² lokal, yang mengindikasikan bahwa ibadah haji berasal dari sebuah perayaan lokal untuk penyembah matahari, bulan dan Manat, putri Allah. Tidak satupun suku² Arab bagian timur, utara maupun selatan yang terlibat dalam ibadah haji ini, walaupun mereka termasuk di antara suku² terkuat di jazirah Arab.

Kita mengetahui suku² mana yang memulai ibadah haji sebelum munculnya Islam dengan menguji jenis² perayaan yang dilakukan setiap suku pada seiap pusat ibadah haji. Setiap suku menghormati dewa2 favoritnya sendiri di antara anggota2 Keluarga Dewa Bintang. Quraish, suku asal Muhammad, menjadikan Muzdalifah sebagai pusat lokasi peribadahan haji. Muzdalifah adalah sebuah tempat khusus untuk menghormati dan menyembah bulan dalam perayaan ibadah haji. Aisyah, istri termuda dan yang paling disayangi Muhammad, melaporkan banyak hadits Muhammad dan menjelaskan tradisi² Jahiliyah. Aishah mengatakan:

Quraish, dan semua yang mengikuti agama Quraish, disebut Hummas, biasa melakukan waqfa, atau saat berhenti dalam ibadah haji di Muzdalifah, sementara yang lainnya berhenti di Arafah. Ketika Islam muncul, Allah memerintahkan nabinya untuk datang ke Arafah dan menjadikannya tahap berhenti ibadah sebelum melanjutkan ke lokasi lain dalam ibadah haji, seperti Muzdalifah dan Mina. [40]
[40] Sahih al-Bukhari, 5, hal. 158

Quraish ingin menghormati bulan, yang merupakan pimpinan Keluarga Dewa Bintang, maka mereka membuat sebuah ibadah haji yang didisain untuk kembali ke Mina’ untuk memohon hujan kepada Manat, putri Allah. Kelompok yang lain memilih Arafah sebagai waqfa mereka, atau penghentian utama. Mereka melakukannya untuk menekankan pentingnya Ellat, yaitu matahari, dan dewa favorit mereka di antara Keluarga Dewa Bintang. Kita melihat bahwa, sebelum Islam, Arafah, yang terletak di antara bukit² di mana suku² Arab melakukan ibadah haji, merupakan tempat di mana matahari dimuliakan dan disembah.
Sebelum Islam, persaingan di antara penyembah Matahari dan penyembah Bulan sangatlah jelas dalam ibadah haji. Umar Bin al-Khattab, Khalifah kedua Muhammad, dan salah satu dari mertua Muhammad, mengatakan:

Kaum pagan tidak melangkah setelah waqfa mereka sendiri, kecuali kalau matahari telah terbit. Muhammad telah menentang tradisi mereka, memulai langkahnya sebelum matahari terbit.[41]
[41] Sahih al-Bukhari, 4, hal. 235

Kita bisa mengerti adanya pertentangan diantara ritual² haji pagan ketika menyadari bahwa Ellat, matahari, merupakan dewa utama bagi banyak suku² Arab di wilayah tersebut. Mereka tidak dapat meninggalkan waqfa sebelum matahari terbit. Karena Bani Hasyim, suku kerabat Muhammad, adalah bagian dari suku Quraish, yang lebih terikat pada bulan, maka mereka tidak mempunyai masalah untuk mengabaikan matahari terbit. Dalam tradisi mereka, bulan lebih dihormati daripada matahari. Muhammad mengaku bahwa bulan menatap kepadanya dengan lembut dan kasih ketika dia masih kanak². Muhammad berkata bahwa dia mendengar suara bulan ketika ia bersujud di depan singgasana Allah [42]
[42] Halabieh, I, 127 and 128

Suku Sufa melakukan perayaan keagamaan mereka dari Arafah ke Muna. Di Muna mereka melakukan pelemparan batu² (jumroh). Seorang Sufa secara khusus ditugaskan untuk melempar batu pertama. Tidak seorangpun boleh melempar batu sebelum dia melakukannya. [43] Hal ini menunjukkan bahwa Sufa memulai ibadah haji pertama, atau peribadahan ziarah, yag dimulai di Arafah, dan dilanjutkan ke Muna. Tampaknya merekalah yang pertama menciptakan hukum² awal dan ritual², dan mengarahkan ibadah haji kedua lokasi. Pertama, mereka menghormati matahari di Arafah; kemudian mereka melanjutkan ke Muna, di mana mereka memohon hujan dalam perayaan² yang dilakukan bagi Manat, pemotongan rambut, dan pelemparan batu². Semua ini dimulai oleh suku Sufa dan dilakukan di Muna.
[43] Ibn Hisham, I, hal. 100; Tarikh al-Tabari, I, hal. 507

Qusayy Bin Kilab, kakek moyang Muhammad generasi ke-8, mendorong dilaksanakannya ibadah haji lokal setelah dia menduduki Mekah, walaupun dia maupun anggota tak menciptakan aturan upacaranya.

Sampai masa Qusayy’, Sufa memimpin upacara ibadah haji. Qusayy, pendahulu kedelapan Muhammad, juga orang yang mengumpulkan banyak keluarga untuk bersama-sama membentuk persekutuan yang kemudian menjadi Quraish, dan menduduki Mekah, mengusir suku Khuzaa’h yang mendirikan kota tersebut. Qusayy kemudian memerangi suku Sufa, yang mengembangkan peribadahan haji yang memasukkan Arafah dan Mina.[44] Ketika Qusayy Bin Kilab menemukan sejumlah orang2 Arab pagan melakukan ibadah haji sebagai bagian dari tradisi pagan mereka, dia mendorong mereka untuk meneruskan ritual² ini. [45]
[44] Tarikh al-Tabari, I, hal. 507
[45] Tarikh al-Tabari, I, hal. 508

Qusayy berasal dari Yaman, yang berarti bahwa tidak seorangpun dari kakek moyangnya yang pernah mengambil bagian dalam peribadahan haji. Bahkan setelah Qusayy menduduki Mekah, tidak seorangpun dalam keluarganya memimpin perayaan² dalam peribadahan haji. Faktanya, kita diberitahu dalam Tabari bahwa, setelah Sufa diusir, klan al-Safwan mengambil alih tanggungjawab untuk peribadahan haji. [46] Semua fakta² sejarah ini menunjukkan kepada kita bahwa Quraish, suku dari mana Muhammad berasal, tidak berhubungan apapun dengan peribadahan haji. Maka, ngotot mengaku bahwa Quraish adalah suku yang religius yang sudah ada sejak jaman Ismael, dan merupakan pemimpin agama dalam perayaan² keagamaan di jazirah Arab, adalah tidak sesuai sejarah dan menggelikan.
[46] Tarikh al-Tabari, I, hal. 508

Pada awalnya, ibadah haji dilakukan oleh dua kelompok; yang satu menyembah matahari, dan yang lain menyembah bulan. Kemudian, kedua upacara agama itu digabung dalam satu ibadah haji.

Udwan adalah suku lain yang memulai peribadahan haji berdasarkan penyembahan bulan di Muzdalifah. Mereka melakukan waqfa keagamaan di Muzdalifah; kemudian mereka berjalan menuju Muna. [47] Jelaslah bahwa mereka utamanya menyembah bulan. Perbedaan di mana Sufa dan Udwan memulai peribadahan haji menunjukkan bawa ibadah haji pada masa sebelum Islam bukanlah sebuah perayaan yang disatukan, tetapi terpisah bagi kedua kelompok – penyembah matahari dan penyembah bulan. Meskipun terpisah, mereka mempunyai satu kemiripan. Perayaan² kedua group berakhir dengan sebuah kunjungan ke Mina’, lokasi terdekat di mana Manat, putri Allah dan dewi hujan, dimuliakan. Mereka keduanya mempunyai tujuan yang sama: memohon hujan.
[47] Ibn Hisham I, hal. 101

Quraish dan kelompok fanatik, Hummas, mengikuti Udwan dalam perayaan mereka untuk memohon hujan, dimulai di Muzdalifah dan diteruskan ke Muna. Kelompok lainnya mengikuti Sufa, dimulai di Arafah, di mana mereka menyembah matahari, dan menyelesaikannya di Muna di mana mereka memuliakan Manat, dewi hujan. Walaupun kedua perayaan tersebut kemudian disatukan, setiap kelompok meneruskan penghormatan pada dewa mereka sendiri, melakukan waqfa, atau perhentian, pada tempat² yang sama, dan pada bukit² yang sama. Ketika Muhammad meguasai wilayah tersebut, dia mencontek tradisi kuno yang dikembangkan suku Sufa dan mewajibkannya pada yang lain, membuat perhentian setiap orang di Arafah.

Muzdalifah, dan penyembahan Okultis di jazirah Arabia barat tengah

Sekarang mari kita telaah Muzdalifah, dan penyembahan okultis di jazirah Arab Barat bagian tengah. Perhentian ibadah haji yang disebut Muzdalifah telah disebutkan oleh pengarang Arab yang menulis tentang tradisi Arab sebelum Islam. Mereka mengatakan bahwa Muzdalifah adalah tempat yang memiliki sebuah gunung yang disebut Khazeh قزح , berasal dari nama setan. [48] Khazeh adalah sebuah berhala Arab yang terkenal, [49] dan hal ini menunjukkan bahwa penyembahan setan Khazeh, telah menyebar ke dalam jazirah Arab Barat bagian tengah, khususnya di sekitar Mekah dan Medina. Jawad Ali, seorang cendekiawan Irak, mempercayai bahwa berhala ini disembah di Muzdalifah. [50] Sejarawan Arab mengatakan bahwa sebelum Islam, orang yang memimpin upacara ibadah di Muzdalifah, berdiri di atas gunung Khazeh.[51]
[48] Taj Al Aruss 2, hal. 207
[49] ] Jawad Ali, al-Mufassal Fi Tarikh al-Arab Khabel al-Islam, vi, hal. 384
[50] Jawad Ali, al-Mufassal Fi Tarikh al-Arab Khabel al-Islam, vi, hal. 384
[51] Taj Al Aruss 2, hal. 207

Agama Jin-setan di jazirah Arab, dan penyembahan Bintang Arab, menjadi dua agama utama di jazirah Arab. Kaabah di jazirah Arab sering mempunyai Kahin imam agama jin yang menjadi pendeta²nya. Maka, banyak dari perayaan² kedua agama ini telah dicampuraduk atau disatukan. Orang² Arab menganggap jin-setan sebagai keluarga Allah. Ini memberitahu kita megapa Muzdalifah penting bagi orang² Arab pagan di jazirah Arab tengah sebelum Islam. Itu adalah sebuah tempat di mana kedua setan, Khazeh dan bulan disembah.

Muhammad menambahkan perayaan lain ke dalam peribadahan haji: Orang² wajib berjalan bolak-balik tujuh kali di antara dua batu, Safa dan Marwa. Muhammad melakukan ritual ini walaupun tidak disukai secara diam² oleh beberapa pengikutnya, yang melihatnya sebagai sebuah ritual pagan yang berhubungan dengan jaman Jahiliyah dan dilakukan dalam masa sebelum Islam.

Berjalan tujuh kali di antara kedua batu, Safa dan Marwa, merupakan tradisi jaman Jahiliyah, periode pagan sebelum Islam. Hal ini dibenarkan oleh penulis² biografi Muhammad dan perawai yang dapat dipercaya mengenai perkataan² dan kebiasaannya. Ibn Abbas, salah satu dari koresponden terpenting Muhammad mengkonfirmasikan bahwa berjalan di antara Safa dan Marwa adalah tradisi masa Jahiliyah. [52] Perawai penting lainnya dari hadits Muhammad adalah Uns Bin Malek, yang mengatakan:
[52] Sahih al-Bukhari, 4, hal. 238

Asem memberitahu kami dengan mengatakan”Aku mengatakan kepada Uns Bin Malek, engkau biasanya membenci untuk berjalan dalam melakukan peribadahan ziarah di antara Safa dan Marwa.” Dia menjawab, “ya,” karena itu berasal dari ritual² pagan pada masa Jahiliyah sampai Allah menginspirasikan hal itu” Safa dan Marwa berasal dari ritual² Allah, dia yang melakukan ibadah haji ke kuil, atau ibadah haji Umra’, tidak berdosa jika dia melintasi di sekitar mereka,” [53] mengutip Q 2:158.
[53] Sahih al-Bukhari, 2 , hal. 171

Alasan mengapa beberapa orang muslim pengikut Muhammad membenci peribadahan yang melibatkan Safa dan Marwa adalah karena karena ibadah itu berasal dari ritual² pagan dari masa Jahiliyah. Mereka sangat sadar akan hubungannya dengan penyembahan okultis. Sahih Muslim, kitab² hadits terpercaya lainnya, mengungkapkan bahwa mayoritas kaum muslim menentang kecenderungan beberapa orang muslim yang menganggap Safa dan Marwa sebagai bagian dari peribadahan haji. Mereka yang menolak untuk berada di hadapan Safa dan Marwa dipersenjatai dengan pengetahuan bahwa pemujaan demikian berasal dari pagan Jahiliyah. [54]
[54] Sahih Muslim 9, hal. 23

Tetapi Muhammad mengklaim bahwa dia diberi wahyu untuk menulis sebuah ayat baru Qur’an. QS 2:158 menyatakan:
Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. (2:158)
Dengan cara ini ritual Safa dan Marwa menjadi sebuah ritual Allah.

Peribadahan haji pagan ini, terbatas pada beberapa suku Arab di sekitar Mekah dan Medina, menjadi salah satu dari pilar² utama Islam, seperti Jihad. Muhammad mencoba menarik orang² Arab pagan dengan mengadopsi ritual² mereka dan ibadah haji mereka ke Arafah, Muzdalifah dan Mina, di mana mereka menyembah ketiga anggota dari Keluarga Dewa Bintang Arab. Dengan begitu, mereka jadi terlibat penyembahan okultis di Muzdalifah, di mana perayaan² bagi setan Khazeh dilakukan.

Walaupun kita mengetahui nama suku² pagan yang menciptakan peribadahan haji ini, tradisi Islam lalu mengaitkan ritual² ini kepada Abraham, walaupun ia tidak pernah menginjakkan kakinya di jazirah Arab Barat bagian tengah. Menghubungkan perayaan² pagan ini dengan Abraham dapat menipu mereka yang hanya menerima pernyataan² Islam tanpa membandingkan dengan fakta sejarah.

ASAL USUL PERAYAAN² IBADAH HAJI

Bulan di mana ibadah haji dilakukan disebut Du al-Hijjah. Ibahad haji, atau ziarah keagamaan, adalah tradisi yang dipraktekkan oleh orang² Arab pagan, dalam mana mereka melakukan perjalanan untuk mengunjungi dewa² mereka dan kuil²nya. Bulan di mana ibadah haji Islam dilaksanakan adalah sama dengan bulan orang² Arab pagan melakukan ibadah haji mereka. Di antara tulisan yang ditemukan di jazirah Arab, istilah “Du Hajjinin,” yang mana berarti “Du al-Hijjah,” merupakan bulan yang sama orang² Arab pagan melaksanakan ibadah ziarah haji mereka. [55]
[55] D.Nielsen, Die Altarabischen Mondreligion (Strassburg, 1904), S. 86; Jawad Ali, al-Mufassal Fi Tarikh al-Arab Khabel al-Islam, vi, hal. 348

Masyarakat Arab Utara memiliki bulan tertentu di mana mereka mengunjungi kuil² mereka dan memuliakan dewa² mereka. Epiphanius membicarakan mengenai bulan ini di mana masyarakat Arab pagan melaksanakan ritual² ibadah haji mereka. [56] Kaum muslim di jaman sekarang juga melaksanakan ibadah haji pada bulan yang sama, yakni di bulan Du al-Hijjah. Sementara sejarawan² kuno juga menulis mengenai bulan² suci bagi orang² Arab, Photius menulis mengenai bulan2 yang dianggap “Haram”, yang berarti masyarakat Arab setuju untuk tidak berperang di bulan² tersebut. Sejarawan Winekler, telah menjelaskan bahwa bulan² itu adalah bulan² yang sama ketika orang² Arab melaksanakan ibadah haji, dengan tambahan puasa, yang mereka sebut bulan Ramadan. [57] Dalam masa bulan Du al-Hajjeh, setiap orang Arab pergi ke kuilnya, atau bukit khusus, untuk menyembah dewanya sendiri. Ada banyak tempat di mana orang2 Arab biasa melaksanakan peribadahan haji.[58]
[56] Shorter Encyc.of Islam, hal. 124; dikutip oleh Jawad Ali, vi, hal. 348
[57] Winekler, ALF., II, Reihe, Ibd., S.336; dikutip oleh Jawad Ali,vi, hal. 349
[58] Wellhausen, Reste, Arabischen Heidentums, Berlin, 1927, hal. 84; dikutip oleh Jawad Ali, vi, hal. 351

Hal ini membantu kita untuk melihat bahwa peribadahan haji di sekitar Mekah dilakukan terpisah oleh dua kelompok dalam masa bulan yang sama dengan peribadahan haji. Satu kelompok pergi ke Arafah untuk menyembah Matahari, kelompok lainnya pergi ke Muzdalifah untuk menyembah bulan. Setelah melakukan perhentian2 keagamaan mereka untuk memuliakan dewa2 mereka sendiri, kedua kelompok melakukan perhentian2 untuk menghormati Manat dan memohon hujan. Ritual2 peribadahan haji dan Du al-Hijjah, bulan peribadahan ziarah, diketahui luas di antara orang2 Arab pagan, sebuah fakta yang diakui sejarawan2 dan penulis2 Islam. [59]
[59] Al Masudi, Muruj Al Thahab, II, hal. 212, 213

Ritual Lempar Batu ke Bukit (Jumroh)

Kami telah menyebutkan bahwa di Muna, atau Mina’, peziarah melemparkan tujuh buah batu ke sebuah bukit. Tradisi Islam mengklaim lokasi ini adalah di mana Abraham bertemu dengan setan dan melemparkan batu² padanya. Sejarah memberitahu kita bahwa Abraham tidak pernah mengunjungi Mekah, karena Mekah belum dibangun di jaman Abraham. Mekah baru muncul di abad ke-4 M. Arabia barat tengah, di mana Mekah kemudian berada, tidak berpenghuni pada masa kehidupan Abraham yang hidup pada abad ke-21 SM. Daerah Mekah saat itu hanya berupa sebuah gurun pasir, tidak dikenal oleh para penghuni Mesopotamia, di mana Abraham lahir, dan tidak dikenal oleh daerah Kanaan, di mana Abraham lalu tinggal.

Kota² jazirah Arab utara, seperti Dedan dan Qedar, dibangun sekitar abad ke-9 SM. Kota Yathrib dibangun setelah rute antara Yaman dan daerah bulan sabit berkembang, di sekitar abad ke-6 SM, tetapi rute di sepanjang Laut Merah di antara kota² utara jazirah Arab dan Yaman tidak dibangun sampai abad ke-3SM seperti yang dijelaskan oleh para geografer Yunani. Walaupun para sejarawan dan geografer kuno menjelaskan munculnya beberapa tempat perhentian, daerah di mana Mekah kelak dibangun tidak berpenghuni sampai setelah masa Kristen. Jadi, bagaimana mungkin Abraham yang telah meninggalkan tempat tinggalnya di Tanah Kanaan, bisa datang ke gurun pasir yang tak berpenghuni?

Lebih jauh, menyerang setan dengan batu² adalah sebuah mitos yang tak masuk akal karena setan berwujud roh, tidak tersentuh ketika barang² materi dilemparkan kepadanya. Setan tidak mempunyai sebuah tubuh jasmaniah yang bisa dilukai batu². Hal yang sama ketika bintang² (meteor?) dilemparkan kepada mereka. Qur’an mengklaim bahwa meteor adalah bintang² yang Allah gunakan untuk menyerang para setan. Terlebih lagi, pelemparan batu pada setan adalah perayaan pagan yang dipraktekkan oleh berbagai sekte2 pagan di Timur Tengah. [60] Pelemparan batu2 merupakan sebuah ritual yang dimulai di Muna oleh suku Sufa yang memimpin perayaan² di bukit Arafah. Suku Sufa tidak mengizinkan siapapun untuk melangkah dari Arafah ke perhentian peribadahan haji berikutnya sebelum semua suku selesai melakukannya. Tidak seorangpun diizinkan melempar batu sebelum mereka melakukannya. [61] Ini menunjukkan bahwa Sufa memulai pelemparan batu sebagai bagian dari ritual ibadah haji mereka di Arab, dan membuatnya menjadi bagian dari tradisi mereka.
[60] Alessandro Bausani, L’Islam, Garzanti Milano, 1980, hal. 61
[61] Tarikh al-Tabari, I, hal. 508; Ibin Hisham, I, hal. 100

Ritual Zoroastria Melempar Kerikil dan Tradisi Persia lain yang Berpengaruh dalam Ibadah Haji Arab

Penganut Zoroastria juga melempar batu² ke dalam air dan air kencing sapi jantan. Air dan air kencing tersebut dipersiapkan untuk pencucian dan pembersihan tubuh dan barang². Sekali mereka melempar, batu² atau kerikil² akan tertanam dalam lubang² di dalam tanah, sebagai usaha menyerang serangga² atau ulat² di dalam tanah yang dianggap sebagai setan² oleh umat Zoroastria. Keterangan mengenai perayaan ini tertulis dalam banyak bab Surat Manuskihar, bagian dari Teks Pahlavi, literature tradisional bagi tafsir Avesta, yang merupakan tulisan² suci Zoroastrianisme.[62]
[62] Epistles of Manuskihar, Epistle I, Bab VII, 16, Pahlavi Texts, Bagian II, Diterjemahkan oleh E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, Diterbitkan oleh Motilal Banarsidass, hal. 308; Epistles of Manuskihar, Epistle II, Chapter III, 12, ; Epistles of Manuskihar, Epistle I , Chapter IX , 6 ; Appendix- The Bareshnum Ceremony, Pahlavi Texts, Part II, Translated by E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, Diterbitkan oleh Motilal Banarsidass, hal. 447

Tujuan mencuci tubuh dalam Zoroastrianisme adalah untuk mengusir atau menolak setan dari tubuh. Dalam kitab² penganut Zoroastria, seperti Vendidad, bagian dari Zenda Avesta, dijelaskan bahwa setan diusir keluar dari tubuh setelah bagian itu dicuci dengan air campur kencing tersebut. Setan akan lari ke bagian dalam, tapi jika air mencapai jari² kaki, maka setan akan terusir. [63] Konsep yang sama tercantum dalam Teks Pahlavi, di bagian “Perayaan Bareshnum”. [64] Juga dalam Shayast La-Shayast, Bab XX, yang menjelaskan bahwa supaya setan dapat lari dari tubuh, orang harus melakukan pencucian dalam air dan air kencing sapi jantan sebelum matahari terbit.[65] Air dalam Zoroastria adalah seorang dewa yang membersihkan jiwa dan melepaskan noda dan efek dari sang setan. Qur’an berisi ajaran yang sama mengenai arti penting air: untuk membersihkan jiwa orang dan mengusir setan dan nodanya dari tubuh. Kita membaca dalam QS 8:11:

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (8:11)
[62] Epistles of Manuskihar, Epistle I, Chapter VII, 16, Pahlavi Texts, Part II, Diterjemahkan oleh E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, diterbitkan oleh Motilal Banarsidass, hal. 308; Epistles of Manuskihar, Epistle II, Chapter III, 12, ; Epistles of Manuskihar, Epistle I , Chapter IX , 6 ; Appendix- The Bareshnum Ceremony, Pahlavi Texts, Part II, Diterjemahkan oleh E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, Diterbitkan oleh Motilal Banarsidass, hal. 447
[63] Vendidad, Fargard VIII :41-71, diterjemahkan oleh James Darmesteter, The Zenda –Avesta part I , The Sacred Books of the East, Volume IV, hal. 105-110

Para penganut Zoroastria percaya kekuatan air kencing sapi jantan dalam membersihkan dan menyembuhkan. Dalam kitab Zoroastria yang disebut Surat Manuskihar, Surat I, Bab VII, air kencing tersebut digambarkan sebagai “tindakan penyembuhan yang tepat”. [66] Dalam Vendidad, para penganut Zoroastria menyatakan bahwa Ahura Mazda, dewa utama Zoroastrianisme, menganjurkan untuk meminum susu dan air kencing sapi jantan untuk menyembuhkan penyakit. [67] Muhammad mencontek teknik penyembuhan ini dari penganut Zoroastria, tetapi ia mengubah air kencing sapi jantan menjadi air kencing unta betina. Dia mengatakan bahwa air kencing unta betina dapat menyembuhkan semua penyakit. Orang yang datang kepadanya dengan penyakit² diperintahkan oleh Muhammad untuk meminum air kencing unta betina. [68] Orang² Muslim biasa meminum air kencing Muhammad di depannya, dan dia suka akan hal itu dan berkata bahwa air kencingnya suatu pengobatan untuk penyakit2. [69] Kita mengetahui betapa berbahaya dan resiko air kencing, apakah dari unta atau manusia, karena kuman² yang keluarkan oleh tubuh melalui air kencing, di samping senyawa asam berbahaya lainnya dan material yang dikeluarkan oleh tubuh.
[66] Epistles of Manuskihar, Epistle I, Chapter VII, 17, Pahlavi Texts, Part II, The Sacred Books of the East, Volume 18, Published by Motilal Banarsidass, hal. 309
[67] Vendidad, Fargard VII:66
[68] Sahih al-Bukhari, 5, hal. 64 and 70
[69] Halabiah, I, hal. 86

Masih ada ritual² lain di masa sebelum ibadah haji Islam yang berasal dari Zoroastrianisme. Salah satu dewa² penganut Zoroastria Persia adalah api. Qusayy, pendahulu kedelapan Muhammad, datang dari Yaman dan menduduki Mekah. Dia menyalakan api di Muzdalifah, tempat di mana bulan disembah dalam masa sebelum peribadahan haji Islam. Al-Tabari menulis bahwa api ini terus berkobar pada masa Muhammad, dan tiga khalifah yang datang sesudah dia. [70] Kita dapat mengerti bagaimana peribadahan keagamaan Persia menjadi bagian dari peribadahan haji, saat kita mengerti pengaruh orang² Persia terhadap orang² Yaman dan wilayah selatan jazirah Arab. Di Yaman, ada api yang terus menerus berkobar bertahun-tahun menurut kepercayaan Persia. [71]
[70] Tarikh al-Tabari, I, hal. 512
[71] Al-Nuwayri, Nihayat al-arab fi funun al-adab, I, hal. 109; Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma’rifat ahwal al-arab, 2, hal. 102

Ajaran Zoroastria lain memerintahkan pengikutnya untuk melakukan kegiatan² yang baik dan praktek² keagamaan demi kepentingan kerabat dan teman² yang telah meninggal.[72] Kita menemukan bahwa Muhammad juga mencontek ritual yang sama. Dalam sebuah hadits, dilaporkan oleh al-Bukhari, Muhammad menasehati seorang wanita untuk melaksanakan ibadah haji bagi ibunya yang telah meninggal.[73]
[72] Dadistan-I Dinik, Chapter VIII, 1, Pahlavi Texts, Part II, Diterjemahkan oleh E.W. West, The Sacred Books of the East, Volume 18, Published by Motilal Banarsidass, hal. 26
[73] Sahih al-Bukhari, 8, hal. 150

Tahap² perubahan penampakkan bulan mempengaruhi penyembahan di Timur Tengah, khususnya di jazirah Arab. Cara bagaimana bulan disembah di Muzdalifah dalam masa sebelum Islam mengingatkan kita pada kebiasaan orang² Persia menyembah bulan. Kitab suci Zoroastria bernama Nyayis menjelaskan bahwa umatnya harus menghadap bulan tiga kali dalam waktu sebulan: pertama, saat bulan muncul pertama kalinya; kedua, ketika purnama; dan akhirnya, ketika mulai menghilang. [74] Hal itu mengingatkan kita mengenai bagaimana orang2 Arab menyembah bulan di Muzdalifah sampai bulan menghilang. Mereka menyelesaikannya dengan berpuasa, kemudian makan ketika bulan sabit muncul kembali. Faktanya, permulaan Ramadan dimulai ketika bulan sabit muncul kembali. Bulan memainkan peranan yang penting dalam Islam kini, seperti yang kita lihat dari bulan sabit yang merupakan symbol identitas Islam.
[74] Komentar pada Nyayis, The Zenda –Avesta part II, Diterjemahkan oleh James Darmesteter, The Sacred Books of the East, Volume 23, hal. 349

Ritual2 yang berhubungan dengan bulan dan penyembahannya juga berakar dalam agama Arya. Di kitab suci Arya bernama Apastamba, dijelaskan bahwa sebuah pesta dimulai ketika bulan sabit muncul. Di saat itu, umat Arya tidak boleh belajar atau melakukan apapun selama dua malam [75]. Ritual ini juga diterapkan dalam Ramadan. Setelah satu bulan berpuasa, kaum muslim berpesta ketika mereka melihat bulan sabit muncul di langit.
[75] Apastamba, Prasna I, Patala 3, Khanda 9, 28, Sacred Laws of the Aryas, Part I, Translated by Georg Buhler, The Sacred Books of the East, Volume 2, Published by Motilal Banarsidass, Delhi, hal. 35
[76] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, 18; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 1, hal. 341

Perayaan Ramadan awalnya berasal dari ibadah agama orang² Harran yang bertempat di kota Harran, di perbatasan antara Syria, Irak dan Asia Minor (Turki sekarang). Orang² Harran berpuasa selama satu bulan, dimulai minggu pertama atau kedua dalam bulan Maret, sama dengan aturan bulan Ramadan. Puasa ini dilakukan bagi Sin, dewa bulan. Beberapa sejarawan Arab mengidentifikasi puasa orang2 Harran identik dengan puasa Ramadan. Ketika bulan sabit muncul, orang2 Harran mengakhiri puasa mereka dan memulai suatu festival, cara yang sama dengan orang2 Aran merayakan Ramadan setiap tahun. Kita mengasumsikan perayaan Ramadan ditransfer dari Harran ke jazirah Arab pada masa abad keenam SM ketika Nabonidus, Raja Harran dari Babylonia, menduduki jazirah Arab Utara dari tahun 556~539 SM. Pembahasan lebih jauh tentang Ramadan terdapat di bagian V, sub bab 3.

Ritual ketiga Ibadah Haji adalah Potong Rambut

Pemotongan rambut adalah sebuah kebiasaan yang dipraktekkan oleh beberapa suku Arab setelah melakukan ibadah ziarah untuk menghormati dewa² mereka. Salah satu dari dewa mereka adalah sebuah berhala bernama al-akyaser الأقيصر. Mereka ber ziarah ke berhala dan memotong rambut mereka, dicampur dengan tepung dan melemparkannya ke udara.[76] Perayaan yang sama juga dilakukan oleh banyak suku pagan Yaman. [77] Suku² yang beremigrasi ke Medina, dan area sekitar Mekah, datang dari Yaman setelah hancurnya bendungan di Ma’rib, sekitar tahun 150 M. Hal ini membantu kita memahami mengapa pemotongan rambut adalah ritual yang mengakhiri peribadahan haji.
[76] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah, Cairo-Egypt, 1925, 18; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 1, hal. 341
[77] Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 1, hal. 341

Aku telah menyebutkan sebelumnya bahwa beberapa suku Yaman memuliakan Manat, putri Allah. Manat dilambangkan dengan sebuah batu, ke mana suku2 ini pergi dalam peribadahan haji mereka. Pada akhir peribadahan haji, mereka memotong rambut mereka. Ibn al-Kalbi, al-Azruki, dan lainnya menulis mengenai tradisi² jazirah Arab. Mereka memberitahu kita bahwa suku2, seperti Oas, Khazraj, Oz, dan Ghassan merupakan suku² yang seluruhnya berasal dari Yaman yang melakukan ibadah haji ke Manat. Di banyak tempat, mereka melakukan perhentian² keagamaan untuk memuliakan dewa² mereka tanpa memotong rambut mereka sampai mereka tiba di Manat, di mana mereka mengakhiri ibadah haji dengan pemotongan rambut mereka. Mereka menganggap ibadah haji tidaklah lengkap tanpa acara potong rambut. [78]
[78] Azruqi, Akhbar Mecca, I, hal. 73; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 8, 169; al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah ( Cairo, Egypt, 1925), 14

Anda mungkin ingat bahwa Manat adalah dewi yang diharapkan masyarakat pagan Arab untuk mendatangkan hujan. Setelah mereka melakukan peribadahan haji kepada dewa² mereka, mereka akan datang kepada Manat, memotong rambut mereka dan mempersembahkan korban binatang mereka. Perhentian² sebelum masa peribadahan haji Islam mencakup Arafah, tempat di mana mereka akan berhenti untuk menyembah matahari, dan Muzdalifah, di mana mereka akan berhenti untuk menyembah bulan. Kemudian ibadah haji akan selesai di Mina, disebut Muna, tempat yang didedikasikan kepada Manat, di mana mereka memotong rambut mereka dan mempersembahkan korban binatang mereka. Pada masa Muhammad, ritual ibadah haji yang sama dimasukkan kedalam Islam, termasuk ritual pemotongan rambut di Manat.

Ritual Berteriak dalam Ibadah Haji

Ritual lain yang dilakukan dalam masa peribadahan haji besar adalah meneriakkan dua hal: “Allah adalah mereka, Aku ada disini” dan “Allah Maha Besar.” Al-Ya’akubi, sejarawan Arab, menulis bahwa setiap orang² Arab akan berhenti dihadapan berhalanya dan meneriakkan “Allah adalah mereka, Aku ada di sini.”[79]
[79] Al-Ya’akubi, I, hal. 225

Ketika Islam mencontek ritual ibadah haji pagan, ucapan keagaam yang sama masih dipertahankan dan dipraktekkan. Ketika umat Muslim datang ke tempat untuk menyembah bulan, mereka meneriakkan “Allahu Akbar,” yang berarti “Allah Maha Besar”. Hal ini karena bulan, yang merupakan Allah dilihat sebagai pimpinan Keluarga Dewa Bintang dan lebih besar daripada anggota² dewa lainnya, misalnya Ellat, si matahari, dan Manat dan al-‘Uzza, kedua planet. Teriakan “Allahu Akbar” bukanlah teriakan Islam tetapi, lebih, suatu teriakan pagan di mana umat penyembah Keluarga Dewa Bintang biasa berteriak. Syair2 masa sebelum Islam di jazirah Arab seringkali memuliakan anggota2 Keluarga Dewa Bintang dengan menekankan Allah sebagai pimpinan Keluarga Dewa Bintang melalui pengulangan ucapan “Allahu Akbar.” Sebagai contohnya, Loas Bin Hagar, penyair Arab masa Jahiliyah, yang merupakan periode sebelum Islam, mengatakan:

Aku bersumpah demi Ellat dan al-‘Uzza dan semua yang mengikuti agama mereka, dan dalam Allah, Allah lebih besar daripada mereka. [80]
[80] al-Kalbi, al-Asnam, Dar al-Kutub al-Masriyah (Cairo, Egypt, 1925), hal. 11

Abdel Mutaleb, kakek Muhammad, yang bukan seorang muslim tetapi adalah seorang penyembah Keluarga Dewa Bintang jazirah Arab juga terikat pada agama jin jazirah Arab, biasa meneriakkan teriakkan yang sama,” Allahu Akbar.” [81] Mereka melakukan teriakan yang sama dengan semua penyembah anggota² Keluarga Dewa Bintang. Ini menjelaskan mengapa kita menemukan teriakan ini dalam ritual peribadahan haji, yang awalnya diperuntukkan bagi ketiga anggota Keluarga Dewa Bintang: bulan, matahari, dan Manat, putri Allah dan dewi hujan.
[81] Ibn Hisham I, hal. 118

Tampaknya ketika ibadah haji diselenggarakan untuk pertama kalinya, bulan masih menikmati gelar Allah sebelum gelar tersebut diambil alih Venus. Ketika orang2 Arab pagan sebelum Islam melihat bulan sabit, mereka akan meneriakan dengan keras “Allahu Akbar.” Dari masa kuno, bulan adalah “ Allah” bagi banyak suku2 Arab dan, seperti itulah, dewa mereka terlihat. Bulan dalam bentuk bulan sabit, setelah itu menghilang untuk satu periode waktu, dan ini memancing keinginan mereka untuk meneriakkan penyembahan dan memanggilnya.

Teriakan dan pemujaan bulan ketika bulan sabit muncul, masih berpengaruh pada ritual² Islam kini. Saat ini, Anda akan melihat ketika kaum muslim melhat bulan sabit muncul, mereka mengakhiri puasa mereka dan memulai makan Ramadan, persis seperti ritual kuno penyembah bulan. Bagi mereka, bulan adalah dewa dan pusat ibadah, dan kepada bulan juga mereka memulai puasa Ramadan.

Kesimpulan

Sejarawan Arab bernama Al-Shahrastani menulis tentang masyarakat pagan Jahiliyah. Dia mengatakan bahwa mereka seringkali melakukan ibadah haji dalam bulan yang lain dari Du al-Hijjah, tetapi dengan ritual² yang sama seperti ibadah haji Islam, dan berhubungan dengan hari² dalam bulan tersebut. Mereka menetapkan hari kesepuluh untuk korban binatang, persis sama dengan kaum Muslim kini melaksanakan korban pada hari kesepuluh dalam bulan Du al-Hijjah. Dengan kata lain, kadang² mereka memilih bulan lain, tetapi mengikuti ritual² yang sama pada tempat² yang sama. [82] Dengan bukti ini, kita menyimpulkan bahwa ibadah haji Islam telah dipraktekkan oleh suku² pagan Arab. Peribadahan haji dimulai pertama kalinya oleh beberapa suku untuk dewa² mereka sendiri. Kemudian, beragam elemen peribadahan haji dikonsolidasikan. Kini, ibadah haji Islam menampilkan ritual² yang dulu dipraktekkan suku² pagan di sekitar Mekah dan Medina, didirikan oleh suku² yang beremigrasi dari Yaman, dan melaksanakan ritual² ini kepada dewa² mereka.
[82] Al Shahrastani, Al Milal Wal Nahel, hal. 590

Walaupun kaum muslim mengklaim bahwa ibadah haji berhubungan dengan Abraham, ibadah haji ini sama sekali tidak berhubungan dengan Abraham.

Tidak satupun dari suku2 tersebut pernah mengatakan adanya hubungan antara ibadah haji pagan mereka dengan Abraham atau Ismael, sebagaimana pengakuan nabi dan umat Islam. Tidak ada satupun syair2 masyarakat Arab jaman Jahiliyah yang menghubungkan ibadah haji mereka kepada Abraham atau Ismael. Awalnya ibadah haji dilaksanakan demi memuja Keluarga Dewa Bintang jazirah Arab, dan hanya dihubungkan dengan Abraham oleh Muhammad setelah Islam muncul.

Kegiatan umat Muslim dalam beribadah haji seperti suku² pagan Arab jaman dulu tidak akan pernah menghubungkan mereka dengan Tuhan yang Benar. Ritual ini sama dengan berbagai ritual yang dilaksanakan oleh berbagai masyarakat pagan di Timur Tengah dan Asia. Menghubungkan nama Abraham pada ritual pagan Arab di sekitar Mekah dan Medina tidak akan pernah mengubah asal usul ritual pagan mereka. Kaum muslim seharusnya perlu mempelajari kepercayaan Abraham seperti yang dikisahkan dalam Alkitab. Abraham tidak pernah berpuasa ketika bulan menghilang, maupun meneriakan dan makan ketika bulan sabit muncul. Dia tidak pernah menghubungkan penyembahannya dengan pergerakan benda² apapun dalam tata surya, atau dengan bintang atau batu. Dia juga tidak melemparkan bebatuan pada setan, atau memotong rambut di depan sebuah batu.

Kita hidup dalam masyarakat toleran dimana setiap orang bebas untuk mempercayai apa yang mereka inginkan, dan memiliki kebebasan berbicara untuk berubah keyakinan. Umat Muslim berusaha memualafkan non-Muslim melalui penyebaran ajaran palsu, dan banyak non-Muslim dan Muslim yang tertipu akan Islam. Banyak orang berasumsi bahwa Allah dan Tuhan adalah sama, dan tidaklah penting agama mana yang kita anut. Tetapi, sekarang kita telah mempelajari bahwa Tuhan dan Allah tidaklah sama. Doktrin Allah dalam Islam merupakan hasil campur-aduk berbagai bentuk kepercayaan dan ritual pagan selama bertahun-tahun. Islam dibentuk dari penyembahan bulan di satu pihak, dan penyembahan Venus di pihak lain.

This entry was posted in BAGIAN 5. Bookmark the permalink.

9 Responses to Bagian V Haji, Okultisme Umra’, dan Ramadan

  1. harun says:

    artikel ini dibaca sebagai pengetahuan, tapi aku pengin tahu yang nulis ini muslim atau non muslim? manusia intinya kepingin damai terutama setelah tua bangka merenungi apa yang telah diperbuat, dengan berbagai macam cara mau menghibur diri. ingat ketika yang satu dan yang lain saling memakan baik secara halus atau kasar demi perut. banyak kepentingan. apa yang terucap belum tentu sama dengan apa yang ada dihati. shalat hanyalah ritual formal. moral disana sini bejad. mungkin siti jenar benar tuhan adalah kita sendiri..

  2. Budi says:

    Dari zaman Adam sesungguhnya sudah menyembah Allah. Ibadahnya pun memuja allah. Jadi seungguhnya kalo ada agama pagan mirip dengan ajaran Adam ini sudah tidak aneh karena awalnya datang dari par aNabis juga tapi kemudian dilencengkan. Islam kemudian meluruskan ajaran ini.
    Tulisannya menyuruh toleransi tapi kenyataannya sendirinya juga menolak toleransi dan menghormati agama lain.

  3. rafly says:

    ini lah orang tolol yang menulis tanpa dasar…
    menulis tanpa pengetahuan…
    bicara tanpa dasar..
    subhanllah…

  4. Tirta Nata says:

    Kita yang hidup di masa kini, sesungguhnya hanya melaksanakan ajaran apa yang diturunkan kepada kita, dan umumnya ajaran dibumbui dengan doktrin wajb, misal, kalau gak begini bid’ ah, kafir, haram, dosa dsb,dsb. Itu yang kita tahu. Sehingga ketika ada pendapat yang sedikit agak berbeda, kita menganggap pendapat itu salahlah apa lagi ada yang menhujat, dan mencaci-maki, padahal kita sendiri tidak mampu menjelaskan secara detail. Karena pendapat tersebut berbeda dengan ajaran/doktrin yang kita sendiri juga tidak tau kebenarannya lantas menganggap yang berpendapat bodohlah, kafir lah dsb. Itukah yang diajarkan oleh para nenek moyang kita? Tidak. Nenek moyang kita mengajarkan bahwa perbedaan kalau diolah, di mened dapat menciptakan keindahan dan kenikmatan, Misal ada doktrin alat musik ini haram, ini bukan menunjukkan agamis dsb. Tetapi diolah oleh musisi handal jadi indah dan bagus. Jadi marilah kita menghargai setiap pendapat yang berbeda dari sudut pandang yang berbeda pula namun menjadi semakin mantap bila dicerna dalam hati. Coba sekarang jelaskan mengapa kita beribadah harus ke tempat yang jauh dan memerlukan dana yang besar? Kalau ziarah itu masuk akal karena ziarah berarti mendatangi tempat di mana seseorang yang kita tokohkan pernah hidup, tinggal dan dimakamkan di tempat tersebut. Tetapi ziarah tidak dapat dimasukkan ke dalam ibadah, tetapi dalam ziarah dapat dilakukan kegiatan yang berhubungan dengan ibadah. Pendapat netral tanpa unsur pembelaan terhadap pendapat tertentu.Mohon kalau ingin menjelaskan, sampaikan dengan jelas, gamblang, jangan menhujat, dan mencaci-maki. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s