Bagian V Bab 3 Ramadan dan Asal-Usulnya

Ramadan memiliki Akar Pagan di India dan Timur Tengah

Ramadan, bulan ke-9 kalender Islam, dan ibadah puasa selama 30 hari di pagi dan siang hari, memiliki akar pagan di India dan Timur Tengah. Kebiasaan puasa untuk menghormati bulan, dan berhenti puasa saat bulan sabit muncul, telah dilakukan di berbagai ritual oleh bangsa Timur yang menyembah bulan. Ibn al-Nadim dan Shahrastani memberitahu kita tentang al-Jandrikinieh, sekte India yang mulai puasa saat bulan menghilang, dan mengakhiri puasa dengan perayaan besar saat bulan sabit muncul kembali. [152]
[152] Ibn Al Nadim, Al-Fahrisit, hal. 348

Bangsa Sabi, yang merupakan bangsa pagan Timur Tengah, dikenal dalam dua kelompok, yakni Sabi Mandaia, dan Sabi Harrania. Kaum Mandaia hidup di Iraq di abad ke-2 SM. Sama seperti yang masih mereka lakukan sampai sekarang, mereka menyembah berbagai dewa, atau “sosok² terang.” Dewa² mereka terbagi dalam empat kategori: “kehidupan pertama,” “kehidupan kedua,” “kehidupan ketiga” dan kehidupan keempat.” Dewa² kuno termasuk dalam kategori “kehidupan pertama.” Mereka memanggil dewa² yang lalu menciptakan dewa² “kehidupan kedua” dan seterusnya.

Kaum Harrania menyembah Sin, dewa bulan, sebagai dewa utama, tapi mereka juga menyembah planet² dan berbagai dewa lainnya. Bangsa Sabi berhubungan dengan Ahnaf/Hanif, kelompok orang² Arab yang diikuti Muhammad sebelum dia akhirnya mengaku sebagai nabi. Ahnaf mencari pengetahuan dengan cara pergi ke Iraq utara, tempat tinggal masyarakat Mandaia. Mereka juga mengunjungi kota Harran di daerah al-Jazirah di Syria utara, dekat perbatasan antara Syria, Iraq, dan Asia Minor.

Di Mekah, kelompok Ahnaf/Hanif disebut sebagai bangsa Sabi karena kepercayaan yang mereka anut. Setelah Muhammad mengaku sebagai nabi, dia disebut sebagai orang Sabi oleh masyarakat Mekah karena mereka melihat dia melakukan banyak ritual Sabi, termasuk sholat lima waktu; melakukan gerakan² sembahyang yang sama dengan orang² Mandaia dan Harrania; dan juga berwudhu sebelum sembahyang. Di Qur’an, Muhammad menyebut orang² Sabi sebagai “para ahli kitab,” sama seperti orang² Yahudi dan Kristen.

Ramadan adalah upacara pagan yang dilakukan oleh orang² Sabi, baik Sabi Harrania maupun Mandaia. Dari tulisan Abu Zanad, penulis Arab dari Iraq yang hidup sekitar tahun 747 M, kita menyimpulkan setidaknya terdapat satu masyarakat Mandaia yang hidup di Iraq utara yang melakukan upacara Ramadan. [153]
[153] Abdel Allah ibn Zakwan Abi al-Zanad. Lihat Ibn Qutaybah, op. cit.hal. 204; Dikutip oleh Sinasi Gunduz, The Knowledge of Life, Oxford University, 1994, hal. 25

Asal-usul Ramadan bermula dari Ritual Tahunan yang dilakukan di kota Harran. Persamaan antara Ramadan Harran dan Ramadan Islam.

Meskipun puasa Ramadan sudah dilakukan sebelum jaman Islam oleh orang² pagan Jahiliyah, upcara ini awalnya diperkenalkan di Arabia oleh orang² Harrania. Kota Harran terletak di perbatasan antara Syria dan Iraq, sangat dekat ke Asia Minor, yang sekarang adalah Turki. Dewa utama mereka adalah dewa Bulan, dan sewaktu menyembah bulan, mereka berpuasa besar yang berlangsung selama 30 hari. Puasa ini dimulai di tanggal 8 Maret, dan biasanya selesai di tanggal 8 April. Sejarawan Arab, Ibn Hazm, menyatakan puasa ini sebagai puasa Ramadan. [154]
[154] Ibn Hazm, I, hal. 34; dikutip oleh Sinasi Gunduz, hal. 167-168

Ibn al-Nadim menulis dalam bukunya, al-Fahrisit, tentang berbagai sekte agama di Timur Tengah. Dia berkata di bulan di mana kaum Harrania puasa selama 30 hari, mereka menyembah dewa Sin, yakni sang bulan. Al-Nadim menjelaskan tentang perayaan yang mereka selenggarakan dan korban² yang dipersembahkan pada sang bulan. [155] Sejarawan lain, Ibn Abi Zinah, juga menjelaskan tentang kaum Harrania, dan mengatakan bahwa mereka puasa selama 30 hari, mereka menghadap Yemen saat sholat lima kali sehari. [156] Kita juga tahu bahwa umat Muslim sholat lima kali sehari. Kaum Harrania puasa sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam, sama seperti yang dilakukan Muslim di bulan Ramadan. [157] Sejarawan lainnya, Ibn al-Juzi, menjelaskan kaum Harrania puasa di bulan ini. Dia berkata mereka mengakhiri puasa dengan memotong hewan kurban dan berzakat bagi kaum miskin. [158] Hal serupa juga dilakukan umat Muslim setelah selesai puasa.
[155] Ibn Al-Nadim, Al-Fahrisit, hal. 324-325
[156] Dikutip oleh Rushdi Ilia’n, Al Saebiun Harraniyen Wa Mandaeyn, Bagdad, 1976, hal. 33
[157] Dikutip dari sejarawan Arabia oleh M.A. Al Hamed, Saebat Harran Wa Ikhwan Al Safa, Damascus, 1998, hal. 57
[158] Ibn Al Juzi , Talbis Iblis , dipersiapkan oleh M. Ali, Kher, hal. 84; Kutipan oleh M.A. Al Hamed, Saebat Harran Wa Ikhwan Al Safa, Damascus, 1998, hal. 57

Akar mithologi akan perayaan Harran bagi bulan dijelaskan dengan menghilangnya bulan setelah bergabung dengan kelompok bintang Pleiades, dalam kumpulan bintang Taurus yang muncul di minggu ketiga bulan Maret. Orang² tersebut sembahyang pada sang bulan, memohon agar bulan kembali muncul di kota Harran, tapi bulan menolak kembali. Hal inilah yang membuat mereka lalu berpuasa di bulan itu. Sang bulan tidak berjanji untuk kembali ke Harran, tapi berjanji untuk kembali ke Deyr Kadi, daerah keramat dekat salah satu pintu gerbang kota Harran. Maka setelah satu bulan, para penyembah dewa bulan Sin, pergi ke Deyr Kadi untuk merayakan kemunculan kembali sang bulan. [159] Menurut Ibn al-Nadim, kaum Harrania menyebut perayaan ini sebagai al-Fitri الفطر , yakni nama yang sama bagi perayaan umat Muslim setelah puasa Ramadan. [160] Selain puasa Ramadan, kaum Harrania juga bersholat lima kali sehari. Sebelum sholat, mereka melakukan wudhu. [161] Hal ini pula yang diserap Muhammad ke dalam Islam.
[159] Dodge, B., The Sabians of Harran, hal. 78
[160] Ibn Al Nadim, al-Fahrisit, hal. 319
[161] Ibn Al Nadim, al-Fahrisit, hal. 319

Kebiasaan puasa Ramadan menyebar dari kaum Harrania kepada masyarakat Arabia. Hal ini kemungkinan mulai terjadi setelah Nabonidus, raja Babylonia, menjajah Arabia utara di sekitar tahun 552 SM, sewaktu dia tinggal di kota Teima. Nabonidus berasal dari kota Harran. Dia adalah penyembah fanatik dewa bulan Sin, dan ibunya bahkan pendeta agama Sin. Nabonidus tak sepaham dengan para pendeta Babylonia yang menganggap dewa Marduk sebagai kepala para dewa Babylonia. Nabonidus bertekad menyebarkan kepercayaan bahwa Sin sang dewa bulan adalah kepala para dewa. Karena itulah dia menyuruh putranya mengurus Babylonia dan dia lalu hidup di Teima, Arabia Utara.

Di jaman pra-Islam, Ramadan menjadi ritual Arab pagan dan dipraktekkan oleh bangsa Arab pagan, dengan tatacara upacara dan sifat yang sama seperti Ramadan Islam.

Ramadan dikenal dan dipraktekkan oleh bangsa Arab pagan sebelum jaman Islam. Al-Masudi mengatakan bahwa nama Ramadan berasal dari panasnya udara di bulan tersebut. [162]
[162] Masudi, Muruj Al-Thaheb, 2, hal. 213

Di jaman pra-Islam, Jahiliyah, bangsa pagan Arab telah berpuasa dengan cara yang sama seperti Muslim berpuasa, seperti yang diperintahkan Muhammad. Cara Arab pagan puasa termasuk tidak menelan makanan, minuman, dan tidak melakukan hubungan sexual – sama seperti Islam. Mereka berpuasa dengan berdiam diri, tidak berbicara, baik dalam waktu sehari maupun seminggu, atau lebih lama lagi. [163] Qur’an menunjukkan puasa dengan cara yang sama di Sura 19, ketika Allah memerintahkan perawan Maria berkata dia berpuasa bagi tuhan, yang berarti dia tak bicara dengan siapapun. [164] Kebiasaan bangsa Arab yang bersikap diam saat puasa tampak jelas pengaruhnya dalam Qur’an. Tertulis bahwa Abu Bakr mendekati seorang wanita diantara umat pagan di Medina. Dia mendapatkan wanita itu sedang berpuasa, termasuk puasa bicara. [165] Puasa adalah hal yang serius bagi bangsa Arab, diperkuat dengan aturan resmi yang menetapkan hukuman bagi siapapun yang gagal puasa bicara. Ramadan dalam Islam merupakan kelanjutan dari puasa jenis ini.
[163] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 342
[164] al-Allusi, Ruh’ al-Maani 16; hal. 56 ; Tafsir al-Tabari, 16, hal. 56
[165] Qastallani Ahmad ibn Muhammed, Irshad al-Sari, 6: 175; Ibn Hagar, al-Isabah 4:315

Muhammad memasukkan berbagai ritual agama dari dua suku Medina yang mendukungnya menaklukkan bangsa Arab di bawah Islam. Salah satu ritual tersebut adalah Ramadan.

Tampaknya Ramadan dipraktekkan di berbagai kota di Arabia utara di mana Nabonidus, raja Harran dari Babylonia, berkuasa. Salah satu kota yang dikuasainya adalah Yathrib, yang kemudian berganti nama menjadi al-Medina. Muhammad memerintahkan puasa Ramadan, juga ritual sholat menghadap Mekah dan bukannya Yerusalem, setelah dia hijrah ke al-Medina, di mana suku² Arab disitu juga terbiasa sholat menghadap Mekah dan juga berpuasa Ramadan. [166] Muhammad menyesuaikan aturan Islamnya agar sesuai dengan ritual dan kebiasaan agama suku² Aws dan Khazraj, kedua suku Medina yang mendukung Muhammad mengobarkan perang melawan bangsa Arab. Salah satu upacara mereka adalah berkumpul untuk sembahyang di hari Jum’at. Muhammad menetapkan Jum’at sebagai hari Islam.
[166] Al Masudi, Muruj Al-Thaheb, 2, hal. 295

Muslim Tidak Akan Mendapatkan Karunia Tuhan dari Praktek Ritual Ramadan

Ramadan itu bukan puasa sesungguhnya, karena pelaku puasa masih makan makanan di malam hari. Karena ritual ini memperbolehkan mereka untuk makan di malam hari, ini berarti mereka makan besar di malam hari dan bangun di waktu subuh untuk makan besar lagi. Dengan kata lain, mereka hanya mengganti jam makan dari siang hari ke malam gelap.

Kemunafikan pelaku puasa terus berlangsung selama Ramadan melalui jenis makanan yang mereka pilih. Bukannya makan sederhana saja, tapi mereka malahan membuat makanan yang mewah, menghabiskan uang jauh lebih banyak untuk membeli makanan selama Ramadan dibandingkan bulan² lainnya. Tentu saja ini bukanlah puasa yang benar, tapi hanyalah alasan saja untuk makan lebih banyak di bulan itu, sambil mengaku mereka berpuasa.

Hubungan dengan Tuhan tidak berdasarkan praktek² agama yang berat dan sulit. Hubungan dengan Tuhan tidak terbentuk melalui praktek² agama. Seorang kriminal yang diadili di pengadilan tidak akan mendapatkan simpati hakim dengan melakukan ritual² agama. Bersikap relijius tidak berarti membatalkan tindakan kriminal yang telah dilakukannya. Hal ini berlaku pula bagi orang yang berdosa. Dia tak akan mendapatkan simpati Tuhan dengan cara melakukan ritual² agama seperti sembahyang atau puasa. Dia tidak akan dapat menghindari hukuman Tuhan yang menunggunya akibat perbuatan dosanya.

This entry was posted in BAGIAN 5. Bookmark the permalink.

9 Responses to Bagian V Bab 3 Ramadan dan Asal-Usulnya

  1. dd says:

    sejarah lo berasal dari orang yahudi dan nasrani yang ingin menghancurkan islam….
    Fitnah yang sangat keji…..

  2. arifachri says:

    Seharusnya bangsa yahudi dan nasrani itu mengikuti aturan dari utusan nabi musa dan nabi isya dan mengikuti syariat nabi ibrahim yaitu sholat 5 kali sehari, hal itu sdhdiaturr semenjak nabi adam alaihissalam. Nabi muhammad hanya menyampaikan apa2 yg tlh disampaikan nabi2 terdahulu dan tdk merubah sama sekali perintah Tuhan. Kaum hanif berasal dari kata hanif artinyyg berasal berserah diri (hanif yaitu istilah berserah diri pada masa nabi ibrahim) sesuai dgn islam yg berarti aslama artinya berserah diri (pula). Adapun sholat 5 waktu dlm sehari ini tidak dikhiraukan oleh kebanyakan umat terdahulu dari bani israil dan saudara kita dari kaum nasrani (krn informasi Ritual ibadah tdk tersampaikan atau sebagian saja diterima seperti kaum harran yg menganggap sholat sbg penghormatan thd dewa sin (bulan). Bisa dilihat juga gerakan ibadah pendeta yahudi ortodoks dan kalangan nasrani ortodoks gerakan ibadahnya sama seperti gerakan sholat (silahkan dicari di youtube). Sholat itu adalah ibadahnya umat manusia yg diperintahkan Tuhan (Allah SWT) melaluui nabi dan rosulNya semenjak Nabi Adam ‘Alaihis salam. Salam damai dan keselamatan utk semua.

  3. BARRI FROM PONTIANAK says:

    Sampean iri ya dengan puasanya orang muslim,,
    jadi ngaranglah lah sampean yang seolah-olah benar,
    ilsam adalah agama yang sangat sempurna
    kamu iriya, jadi menghubung-hubungkan puasa ramadhan dengan dongengan belaka…
    kami umat islam tidak terpengaruh…

  4. Hadeh … ini tulisan di apain ya harusnya. Dia mau menggunakan budaya untuk menghancurkan agama di tambah karangan-karangan yang cuma di ada-adakan saja … bahkan sang penulis ini ga pernah sekalipun membalas komen2 yang di lontarkan oleh pembaca. Ga da bedanya sama maling.

  5. jo says:

    Penulis ini menulis ada sumber2 referensi dri penulis2 islam sendiri, kalian cuma berkoar2 tanpa ada dalil/referensi sejarah…omdo kalian…

  6. adi cahyono says:

    Nanti dipelajari dengan seksama bukti sejarahnya benar, tidak, Atau belajarlah dgn seksama sejarah pra islam. betul, perlu bicara dengan referensi yang jelas….

  7. felly says:

    << mulai belajar puasa ramadhan

  8. Nolastname says:

    F***
    Kalo klen ngerasa agama klen yg paling baguss,, entah apa maksud klen untuk melecehkan agama lain..
    Tiap manusia pasti punya celah untuk menghina yg lain..
    Pada saatnya tiba nanti, akhiratlah yg menentukan kalian akan kemana
    Jadi, telan aja agama yg sudah kalian anut sedari orok..
    Surat AL-IKHLAS tetap jadi pegangan kami..
    ALLAH tidak beranak ataupun di peranakkan.
    ALLAHU AKBAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s