Bagian 2 – 3. Sejarah dan Arkeologi Arabia

3. Sejarah dan Arkeologi Arabia Menunjukkan bahwa Mekah Tidak Ada Sebelum Jaman Kristen

Terdapat banyak sekali penemuan arkeologi dan prasasti2 di berbagai daerah Arabia.

Islam menyatakan bahwa Mekah adalah kota kuno yang telah ada jauh sebelum jaman Kristus, bahkan sampai jaman Abraham. Bantahan yang kuat akan pernyataan ini ditunjukkan dengan tiadanya bukti keterangan apapun dalam bentuk monumen atau penemuan2 arkeologi. Kerajaan2 dan kota2 kuno Arabia memiliki sejarah yang kaya yang masih ada sampai jaman sekarang melalui monumen2, prasasti2, dan dokumen2 arkeologi. Semua keterangan sejarah ini memberikan para arkeologis keterangan yang lengkap tentang raja2 yang berkuasa atas kota2 dan kerajaan2 Arabia. Dalam banyak kasus, prasasti dan monumen berbagai kota – terutama di daerah Arabia barat dan barat laut – bahkan memberikan nama2 para pembantu raja2. Meskipun begitu, keterangan kaya sejarah dan seluruh arkeologi ini tidak menyebut apapun tentang Mekah.

Berkenaan dengan banyaknya penemuan2 arkeologi Arabia, Montgomery berkata bahwa prasasti Assyria tidak menunjukkan keterangan selengkap prasasti2 Arabia. [67]
[67] James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 131

Jika Mekah sudah ada sejak jaman kuno, maka seharusnya Mekah akan mewariskan penemuan arkeologi lebih banyak daripada daerah2 selatan dan utara Mekah yang keterangan sejarahnya tertulis lengkap melalui berbagai prasasti.

Tiadanya keterangan tentang Mekah adalah menarik karena Mekah dibangun pada jalur kafilah dagang antar berbagai kerajaan Arabia, dan kerajaan2 ini tercatat dalam sejarah sebelum jaman Kristus. Bahkan Mekah dibangun di atas jalur komersial terkenal antara kota2 Arabia selatan dan utara yakni Qedar dan Dedan. Selain itu, Mekah juga dibangun di dekat jalur dagang Laut Merah.

Para arkeologis menjelaskan bahwa masyarakat Sabaea di Arabia barat laut telah memiliki keahlian menulis sejak abad ke-10 SM. [68] Prasasti2 batu di Yemen barat laut merupakan salah satu penemuan arkeologi terkaya diantara kebudayaan Timur Tengah. Ribuan prasasti kuno ini masih ada sampai sekarang. Kebanyakan dari prasasti itu tetap utuh dan tidak rusak, karena hujan jarang turun di Arabia.
[68] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 135

Di daerah2 Arabia utara, beberapa ratus mil utara di mana Mekah kelak dibangun, banyak kota yang memiliki berbagai prasasti yang dipahat di batu, dan prasasti2 ini menyatakan berbagai nama dinasti yang berkuasa di kota2 tersebut. Dedan dan Teima adalah kota2 yang terletak di jalur2 dagang terkenal. Monumen dan prasasti2 batu dari kota ini cukup lengkap untuk menjelaskan sejarah mereka sejak abad ke-8 dan 7 SM.

Bagaimana dengan Mekah? Mekah dibangun di daerah yang memiliki berbagai masyarakat yang punya sejarah tertulis lengkap (masyarakat Sabaea, Dedan, dan Qedar), tapi semua masyarakat kuno ini tidak memiliki keterangan apapun tentang Mekah. Jika Mekah sudah ada sejak jaman masyarakat Dedan dan Qedar, tentunya Mekah juga punya berbagai prasasti sejarah tentang masyarakat mereka sendiri, bahkan kemungkinan prasastinya lebih banyak daripada daerah lain, misalnya Yemen. Daerah Mekah lebih kering dibandingkan daerah2 lain Arabia. Daerah Yemen menerima hujan sepuluh kali lebih banyak daripada daerah Mekah. Juga kota2 Arabia utara lebih banyak menerima hujan daripada kota Mekah. Jika Mekah sudah ada beberapa abad sebelum jaman Kristen, tentunya prasasti2 batunya lebih lengkap daripada ribuan prasasti yang masih ada di berbagai kota di sebelah selatan dan utaranya.

Selama bertahun-tahun, para sejarawan dan arkeologis telah mencatat banyak penguasa dan raja bagi setiap kerajaan Arabia sebelum abad ke-7 SM sampai jaman seterusnya. Berdasarkan prasasti2 dan penemuan arkeologi, para sejarawan dapat menyusun daftar nama penguasa dan kerajaan mereka. Kita temukan daftar seperti ini dari para sejarawan K.A. Kitchen, Von Wissmann, dll.

Sekarang akan kita amati sejarah setiap kerajaan dan kota yang ada di milenia pertama sebelum Kristus (1000 tahun sebelum Kristus) dan tahun2 setelah itu. Meskipun ada nama2 yang tak dikenal, dari lokasinya kita bisa dengan mudah menelusuri nama pemimpin dan kota2 mereka.

Arabia Baratlaut Tercatat dalam Arkeologi

Kota2 Qedar, Dedan dan Tema

Pertama-tama, kita tinjau Arabia baratlaut dan kota2 Qedar, Dedan dan Tema. Rangkaian penguasa di beberapa kota Arabia barat daya, seperti Qedar, paling lengkap tercatat sejak abad ke-9 SM. Keterangan lengkap ini karena kota2 para raja tersebut punya hubungan dagang dengan berbagai raja Assyria dan Babylonia. Kadangkala raja2 Assyria dan Babylonia itu menundukkan kota2 Arabia melalui peperangan. Sebagian raja2 Mesopotamia yang menguasai kota2 Qedar dan Dedan punya prasasti negara yang mengandung keterangan lengkap. Contohnya, dari Prasasti Nabonidus kita ketahui bahwa raja Babylonia Nabonidus menguasai Arabia utara dan tinggal di kota Tema selama sepuluh tahun, 550-540 SM.

Keterangan2 sejarah lain dipahat di berbagai mangkok. Kita memiliki sebuah mangkok perak yang dipersembahkan bagi dewa Han Ilat, dan di mangkok itu tercantum nama Raja Qaynu dari Kedar, yang berkuasa di tahun 430-410 SM. [69] Catatan sejarah lain berwujud grafiti, tulisan2 di dinding, seperti Grafiti Niran di Dedan, di al-Ula, yang menyebut tentang Gashmu I, putra Raja Qedar bernama Sharh I. [70] Hal ini sesuai dengan keterangan Alkitab di Nehemiah 6:6 tentang raja yang menentang Nehemiah dalam usaha membangun kembali kota Yerusalem, setelah pengasingan di Babylonia. Alkitab menyebut nama raja ini yakni Gesham, variasi nama Gashmu, yang berkuasa di kota Arab Qedar tahun 450-430 SM, [71] di waktu yang sama Nehemiah kembali dari pengasingan di Babylonia untuk membangun kembali tembok2 kota Yerusalem. Kita tahu bahwa Nehemiah membawa sekelompok kecil orang Yahudi dan kembali ke Kanaan sekitar tahun 445 SM. Ini merupakan satu dari ratusan bukti sejarah tentang kebenaran keterangan Alkitab.
[69] Rabinowitz, Journal of Near Eastern Studies 15 (1956),1-9, pls.6-7, dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 169
[70] Reed, Ancient Records from North Arabia, Toronto, 1970, 50 f., 115-117 dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994), hal. 169
[71] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Bab I, Liverpool University Press, 1994, hal. 237

Jika kita susun berbagai keterangan, maka kita dapatkan nama2 empatbelas raja2 dan ratu2 yang berkuasa di Arabia utara. Meskipun para sejarawan tidak tahu pasti tentang periode tahun 644-580 SM, tiada daftar yang hilang akan urutan daftar para penguasa dari tahun 870-410 SM.

Ketepatan prasasti yang ditemukan di penggalian arkeologi El-Ula, di kota kuno Dedan, ditulis dalam bahasa Minaea. Hal ini menunjukkan bahwa kota itu dikuasai oleh Raja2 Main. Banyak keterangan prasasti yang menyebut raja2 ini, dan keterangan ini serupa dengan prasasti Minaea di Yemen. [72]
[72] James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal.138

Reruntuhan tua kota Tema mengandung banyak prasasti yang menunjukkan berbagai nama tuhan mereka, peperangan antar kota dan suku daerah itu, termasuk perang2 melawan kota Dedan. Lambang bulan kota Tema berbentuk bulan sabit. [73] Di berbagai prasasti Tema disebut nama dewa Lame’h yang berwujud bintang bersinar cemerlang. Salah satu gelar dewa2 mereka adalah Rahim, yang tampaknya adalah dewa bintang Lame’h. [74] Gelar ini juga dipakai Muhammad di Qur’an sebagai gelar Allah, dan hal ini menunjukkan akar Islam dari agama pagan Arabia kuno.
[73] F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hal. 104
[74] F.V. Winnett and W.L. Reed, Ancient Records from North Arabia, hal. 103

Suku2 Arabia Utara Thamud, Lihyan, dan Nabasia Tercatat Lengkap pada Penemuan Arkeologi

Sekarang kita bahas suku Thamud di Arabia utara, yang muncul pertama kali di abad ke-8 SM dan terus ada sampai abad ke-5 M. Terdapat ratusan batu dan prasasti berbahasa Thamud di berbagai tempat di Arabia utara yang menjelaskan kehidupan suku, dewa2 dan peperangan mereka.

Image
Bangunan peninggalan kerajaan Lihyan.

Image
Patung² peninggalan budaya Arab Lihyan.

Tempat kedua yang perlu kita amati adalah kerajaan Lihyan di Arabia utara. Kita memiliki keterangan berlimpah-ruah akan kerajaan ini. Kecuali keterangan tentang pendiri budaya Lihyanit, kita punya dokumentasi lengkap tentang penguasa dan periode kekuasaan; prasasti dan tawarikh kejadian² sejarah penting mengenai pemerintahan dan tuhan² mereka. Sebagian catatan sejarah ini tercantum di monumen² kerajaan, patung², prasasti di batu makam, tulisan² di bangunan makam, tulisan² yang dipahat di bebatuan, dan grafiti.

Pendiri kerajaan Lihyan berkuasa kira² dari tahun 330-320 SM. Keterangan tentang raja² berikutnya tertulis lengkap. Raja Shahru II berkuasa di tahun 320-305 SM. Daftar kekuasaan berakhir di raja ke sepuluh yakni Mas’udu, yang berkuasa di tahun 120-100 SM. Tak ada keterangan yang hilang dari urutan raja² tersebut. [75]
[75] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 237

Image
Prasasti Nabasia yang dipahat di batu.

Kerajaan ketiga yang kita telaah adalah Kerajaan Nabasia, yang daerah kekuasaannya mencakup banyak daerah² Hijaz. Kerajaan ini memiliki sejarah istimewa karena berhubungna dengan Arabia utara yang mengontrol jalur jalanan bagi perdagangan rempah² yang menghubungkan Arabia selatan dengan Syria dan negara² Mediterania lainnya. Jalur ini juga melalui daerah di manak Mekah dibangun di abad ke-4 M. Catatan² tentang Kerajaan Nabasia sangatlah lengkap, dari dalam maupun luar kerajaan. Catatan diluar kerajaan disusun oleh para sejarawan. Beberapa literatur Yahudi menulis tentang Nabasia, dan penemuan arkeologi di luar daerah Nabasia juga mencatat keterangan kerajaan ini. Dari dalam negeri, keterangan tentang berbagai raja tercantum dalam keping² mata uang logam, bangunan² ibadah, patung² raja, monumen² pribadi dan kerajaan, dan prasasti² di makam² kuburan, yang semuanya mengandung keterangan sejarah. Prasasti² di berbagai kuburan sangatlah banyak dan ditemukan di berbagai daerah, misalnya Petra, Madain Salih, dll. Berdasarkan catatan sejarah ini, para sejarawan mengerti urutan para raja Kerajaan Nabasia yang berkuasa setelah 175 SM. Para penguasa sebelum jaman itu masih belum diketahui, meskipun banyak keterangan tertulis tentang kerajaan terseubt sejak tahap pertama dibentuk. Kecuali penguasa kedua sejak tahun 175 SM, penguasa² lain diketahui, dari mulai Aretas I yang berkuasa di tahun 75-150 SM sampai pemimpin keduabelas (terakhir), yakni Rabbel II, yang berkuasa di tahun 70-106 M. [76]
[76] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Bab I, hal. 170-175;238

Setelah mempelajari semua catatan tentang kerajaan² dan kota² yang terletak di kota Mekah, kami menyimpulkan bahwa kekuasaan kebanyakan para raja ternyata tercatat dengan baik. Kita tahu tentang peperangan yang mereka alami, dan nama para dewa mereka. Akan tetapi tak ada keterangan tentang Mekah. Meskipun umat Muslim mengatakan Mekah sudah ada di jaman Abraham, tak ada satu pun keterangan sejarah Arabia yang menyatakan keberadaannya di jaman sebelum Kristus.

Tidaklah mungkin untuk mengatakan kota Mekah sebagai kota tertua di Arabia tanpa menunjukkan bukti sejarahnya. Seluruh sejarah daerah sekitar Mekah tercatat dengan baik, bahkan kota² yang baru berusia beberapa abad saja. Tapi tak ada satu pun keterangan tentang kota Mekah.

Apakah para pembaca menyadari bahwa tak ada satu pun kerajaan di sebelah utara Mekah yang telah ada sebelum abad ke-10 SM? Sebagian dari kerajaan² itu, seperti kerajaan Lihyanit, muncul pertama kali di abad ke-4 SM dan lalu menghilang di akhir abad ke-2 SM. Beberapa kota punya peranan terbatas dalam sejarah Arabia. Banyak kota yang muncul setelah abad ke-10 SM dan hilang sekitar awal abad ke-4 SM. Semua kota² dan kerajaan² tersebut punya banyak catatan sejarah tentang keberadaan mereka, tapi tak satu pun keterangan tentang Mekah.

Jika pernyataan Muslim bahwa Mekah telah ada sejak jaman Abraham, yang hidup di sekitar 2080 SM, maka tentunya akan terdapat banyak sekali peninggalan arkeologi Mekah, lebih banyak daripada kerajaan² yang telah disebut. Faktanya, tiada catatan atau peninggalan sejarah apapun tentang Mekah, meskipun daerah itu jarang menerima hujan, sehingga seharusnya peninggalan prasasti atau monumen akan tetap utuh dan tidak dirusak air. Daerah Mekah yang kering seharusnya menyimpan peninggalan budaya kuno yang lebih banyak daripada daerah² yang sering menerima hujan. Hanya sedikit saja daerah Eropa yang punya catatan sejarah lengkap akan para penguasa mereka di milenia (1000 tahun) pertama SM. Salah satu alasannya adalah karena kondisi cuaca. Hujan lebat Eropa seringkali merusak prasasti kuno yang berharga. Hal ini sangat berbeda dengan daerah² kering Arabia di sekitar Mekah. Dengan kriteria ini, tidaklah mungkin menyatakan Mekah telah ada di Arabia sejak jaman kuno, tanpa menunjukkan bukti peninggalan sejarah apapun di daerah itu. Sejarah asli Arabia tercantum di berbagai peninggalan yang sangat banyak dan lengkap. Tidaklah mungkin sejarah selengkap itu luput menyebut tentang kota Mekah.

Menurut Muslim, Mekah merupakan kota tertua di Arabia, dan sudah ada sejak abad ke-21 SM, sampai ke jaman Kristen. Ini berarti Mekah sudah ada, tanpa keterangan sejarah apapun, di daerah di mana kota² yang berumur pendek sekalipun tercatat dalam berbagai catatan sejarah daerah itu. Setiap kota di suatu daerah punya banyak peninggalan sejarah, sedangkan Mekah tak punya. Muslim bisa saja dengan mudah menyatakan tanggal keberadaan Mekah, tapi mereka hendaknya menyelidiki apakah tanggal itu benar atau salah.

Kerajaan² dan Kota² di Selatan Mekah Memiliki Banyak Catatan Sejarah

Sebelumnya kita telah menelaah berbagai kerajaan dan kota di sebelah utara letak Mekah kelak dibangun. Kerajaan² tersebut jauhnya 500 sampai 600 mil dan mereka memiliki banyak catatan sejarah. Bagaimana dengan kerajaan² dan kota² di sebelah selatan letak Mekah kelak dibangun? Bagian baratdaya Arabia ternyata memiliki lebih banyak lagi catatan sejarah dibandingkan kerajaan² utara. Di beberapa kasus, ribuan tulisan, kebanyakan adalah prasasti di batu, telah ditemukan. Ini menyebabkan daerah baratdaya Arabia merupakan salah satu daerah yang mengandung peninggalan arkeologi terbanyak di dunia. Selain prasasti batu, tulisan² juga ditemukan di berbagai bangunan pemerintah atau pribadi, tulisan² di berbagai dinding, kuil, dan tugu peringatan. Berdasarkan keterangan tersebut, para sejarawan dan arkeologis mengetahui urutan penguasa setiap kerajaan dan kota. Pada umumnya, silsilah berbagai penguasa dapat diketahui dengan lengkap tanpa ada kronologi yang terputus.

Para Penguasa Kerajaan Main

Urutan penguasa kerajaan Main di Arabia selatan dimulai dari Raja Abkarib I, yang berkuasa tahun 430-415 SM. Dia memulai urutan tak terputus 26 penguasa, yang berakhir dengan Raja Ilyara’ Yashur II yang berkuasa dari 65-55 SM. Catatan sejarah mereka termasuk nama² para saudara laki dan putra raja² yang berkuasa. Dengan begitu kita mengetahui dengan pasti para penguasa kerajaan Main di tahun 430-55 SM. [77]
[77] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, pages 175-180; 238

Kerajaan² kecil di sebelah selatan di mana Mekah kelak dibangun tercatat dengan sangat tepat dalam sejarah kuno Arabia, tanpa menyebut kota Mekah sama sekali.
Banyak kerajaan² kecil di dekat kerajaan Main yang juga memiliki catatan silsilah raja yang cukup lengkap. Sebagian kerajaan kecil ini terletak dekat lokasi di mana Mekah kelak dibangun. Kerajaan² kecil ini sudah ada ratusan tahun sebelum jaman Yesus. Meskipun mereka kecil, tapi catatan sejarah dan arkeologinya cukup lengkap untuk menjelaskan keberadaan dan silsilah raja² mereka.

Semua catatan ini merupakan tantangan jelas bagi pernyataan Muslim bahwa Mekah sudah ada ratusan tahun sebelum jaman Yesus – karena tak ada satu pun peninggalan sejarah kuno di Mekah. Karena tiadanya masalah air hujan yang tinggi, maka setiap kerajaan, baik besar atau kecil, memiliki banyak peninggalan prasasti yang menjelaskan budaya, silsilah raja, peperangan, dan berbagai kejadian penting di setiap kerajaan.

Mari kita lihat kerajaan kecil pertama yakni Haram, yang urutan penguasanya dimulai dari Raja Yaharil di 600 SM, [78] dan berakhir pada Raja Maadikarib Raydan yang berkuasa di tahun 190-175 SM. [79] Kerajaan berikut adalah Inaba. Penguasanya yang terpenting adalah raja Waqahil Yafush yang berkuasa di tahun 550-530 SM. [80] Kerajaan Kaminahu dimulai dari Raja Ammiyitha, yang berkuasa di tahun 585-570 SM. [81] Urutan selanjutnya adalah delapan raja² yang berakhir dengan Raja Ilisami II Nabat, yang berkuasa di tahun 495-475 SM. [82] Catatan sejarah menunjukkan bahwa kerajaan ini berkembang pesat di bawah pemerintahan Wahbu, putra Mas’ud, di tahun 160-140 SM. Kerajaan lainnya adalah Nashan, dengan penguasa pertamanya Raja Ab’amar Saqid yang berkuasa sekitar 760 SM. [83] Tiga raja setelah itu berkuasa diantara tahun 520-480 SM. Raja terakhir dari ketiga raja tersebut adalah Yadi’ab Amir, yang berkuasa pada tahun 500-480 SM. [84]
[78] C.Robin, Inventair des Inscriptions Sudarabiques, 1ff. Paris/Rome, 1992 ff.1, 67-68, Haram 3 & 4; Repertoire d’Epigraphie Semitique, esp.V-VIII, Paris, 1929-1968, 2751/M.15; quoted by K.A. Kitchen, hal. 180
[79] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, hal. 181; 239
[80] C.Robin, Inventair des Inscriptions Sudarabiques, 1ff. Paris/Rome, 1992 ff.,1, 5-6, pls.2b,3a; Inabba; dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, page 181; juga lihat K.A. Kitchen, hal. 239
[81] Private building-dedication, al-Harashif 3 (C.Robin, Inventair des Inscriptions Sudarabiques,1ff. Paris/Rome, 1992 ff., 1, 200-201, pl.59b); dikutip oleh K.A. Kitchen, hal. 182
[82] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 181, 182; juga lihat K.A. Kitchen, hal. 239
[83] Comptes-rendus de l’académie des Inscriptions et Belleslettres, 1992, 68; cf.C.Robin in Robin(ed.), L’Arabie Antique de Karib’il à Mahomet, Aix-en-Provence, 1993,55,128, fig.20; dikutip oleh K.A. Kitchen, hal. 183
[84] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, pages 181, 182; juga lihat K.A. Kitchen, hal. 240

Berdasarkan peninggalan sejarah tersebut, kita memiliki dokumen cukup lengkap akan kronologi kerajaan² ini, meskipun ukurannya kecil dan tak punya banyak pengaruh dibandingkan kerajaan² utama lainnya. Hal ini membuktikan bahwa kerajaan kecil dekat Mekah sekali pun memiliki catatan sejarah kuno yang lengkap. Hadis Islam menyatakan Mekah merupakan kota agama yang utama dan maju di sepanjang sejarah Arabia, yang sudah ada sejak jaman Abraham. Tapi tidak seperti kerajaan² atau kota² kuno Arabia lainnya, tak ada catatan sejarah kuno tentang Mekah.

Kita Memiliki Catatan Sejarah yang Sangat Banyak akan Kerajaan Qataban

Penelitian kita berlanjut ke kerajaan Qataban, yang semakin membuktikan bahwa Mekah belum ada sebelum jaman Yesus. Kerajaan ini terletak di baratdaya Arabia, dan memiliki peninggalan sangat banyak tentang sekuens kejadian dan nama para penguasanya. Terdapat urutan 31 penguasa yang dimulai dari tahun 330 SM dan terus berlangsung sampai penguasa terakhir, Raja Marthadum, yang berkuasa di jaman akhir Kerajaan Qataban (150-160 M). Para sejarawan berhasil mencatat 31 penguasa, kecuali raja nomer 2 dan 27. Ini menunjukkan lengkapnya prasasti dan catatan sejarah Kerajaan Qataban. [85]
[85] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, hal. 181, 182; see also K.A. Kitchen, hal. 183-188

SABA DAN HIMYAR

Saba dan Himyar meninggalkan keterangan tentang 102 raja² yang berkuasa sejak abad ke-9 SM dan berakhir di abad ke-6 M. Ini membuktikan Mekah tak ada di jaman kuno. Jika Mekah sudah ada, maka tentunya kota itu memiliki bukti² peninggalan sejarah kuno.

Kerajaan Saba dan kerajaan penggantinya yakni Himyar meninggalkan catatan sejarah lengkap yang sangat mengagumkan. Kerajaan² ini memiliki berbagai peninggalan arkeologi yang menyebutkan nama² para penguasa mereka, dimulai dari Karibil A., yang berkuasa sekitar 860 SM. Urutan nama penguasa ini terdiri dari 31 Makrab. Makrab adalah raja² yang berkuasa di Saba dan daerah sekitarnya. Makrab terakhir adalah raja Yitha’a Amar Bayyin II, yang berkuasa di tahun 360-350 SM. Saba lalu kehilangan kekuasaan atas daerah sekitarnya, dan para raja Saba tidak lagi bergelar Makrab, tapi hanya disebut sebagai raja saja.

Setelah para Makrab, urutan raja terus berlanjut dengan raja nomer 32, yakni Yadi’ubil Bayyin, yang berkuasa tahun 350-335 SM. Urutannya terus berlanjut ke nomer 55, raja Saba bernama Yada’il Dharih IV yang berkuasa di tahun 0-15 M. Raja² Saba dan Dhu-Radydan merupakan urutan penguasa seterusnya.

Raja Dhamar’alay Warar Yahan’ifm merupakan penguasa nomer 56. Urutan berlangsung sampai penguasa nomer 79, yakni raja Saba terakhir yang bernama Dhamar’alay Warar Yahan’ifm, yang berkuasa di tahun 260-275 M.

Setelah itu urutan penguasa beralih ke raja pertama kekaisaran Himyar, yakni Yasir Yuhan’im I, yang berkuasa di tahun 275-285 M. Raja² Himyar berkuasa atas kerajaan² Saba, Himyar, dan negara² bagian lainnya. Urutan raja Himyar berakhir dengan raja Maadikarib III yang berkuasa tahun 575-577 M. Maadikarib adalah pemimpin nomer 102 di urutan panjang para raja yang berkuasa selama jenjang waktu 1.437 tahun, dimulai dari abad ke-9 SM, hanya beberapa puluh tahun sebelum Ratu Saba mengunjungi Salomo, dan berakhir di abad ke-6 M. [86]
[86] Lihat K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, hal. 181, 182; juga lihat K.A. Kitchen, hal. 90-222

Keterangan para raja ini memberitahu kita bahwa daerah Arabia selatan dan barat merupakan salah satu daerah di dunia yang memiliki catatan sejarah jaman kuno yang terlengkap. Kita tak bisa menemukan keterangan lengkap silsilah raja² manapun di negara Eropa di jaman 1000 tahun SM. Tapi di Arabia bisa kita temukan urutan raja² di Yemen sejak abad ke-9 SM, terutama pada kerajaan Saba dan Himyar. Dengan demikian, pernyataan Muslim bahwa Mekah adalah pusat agama sejak jaman kuno adalah salah dan tak terbukti.

Kerajaan Kinda, Sebelah Timur Mekah, dan Peninggalan Sejarahnya

Kita telah menelaah daerah utara dan selatan, sekarang kita tinjau daerah sebelah timur Mekah. Ibu kota daerah ini adalah Dhu-Kahilum, yang di jaman sekarang dikenal sebagai Qaryat al-Fau, dekat kota tua Yamama, sekitar 500 mil dari Mekah. Kota kuno Dhu-Kahilum mengandung banyak peninggalan arkologi yang menerangkan siapa raja² dan peperangan² mereka. Raja pertama adalah Rabi’a yang berkuasa di tahun 205-203 M. Namanya disebut dalam prasasti Sabaia sebagai “Raja Kinda dan Kahtan.” [87] Dari prasastinya, kita bisa mengetahui keterangan tentang Kinda. Contohnya, di tahun 290 M, Kinda kehilangan kekuasaan karena dikalahkan kerajaan Saba. Prasasti Sabaia dari Mahram Bilqis–Ma’rib menyatakan tentang seorang raja Sabaia: “Saadta Iab Yatlaf, keturunan Gadanum, pemimpin bangsa Arab dan Raja Saba dan Kindat …” [88]
[87] A.Jamme, W.F., Sabaean Inscriptions from Mahram Bilqis (Ma’rib), the Johns Hopkins Press,Baltimore, 1962, Volume III, hal. 137
[88] A.Jamme, W.F., Sabaean Inscriptions from Mahram Bilqis (Ma’rib), the Johns Hopkins Press, Baltimore, 1962, Volume III, hal. 169

Tidaklah mungkin untuk menyatakan bahwa Mekah sudah ada selama 2.400 tahun tanpa bukti apapun sedangkan setiap kerajaan lain di daerah itu punya berbagai bukti peninggalan jaman kuno.

Kita telah lihat bahwa kota² terdekat ke Mekah, di sebelah utara, selatan, atau timur, semuanya punya catatan sejarah lengkap dalam bentuk penemuan arkeologi yang memungkinkan kita untuk mengetahui sejarah daerah itu dan nama² para pemimpinnya. Dengan catatan selengkap itu tentang kerajaan² yang berjarak kurang dari 500 mil dari Mekah, kita ketahui bahwa tak mungkin ada kota di daerah itu yang tak punya catatan sejarah kuno apapun. Tidak hanya para sejarawan dan geografer Yunani dan Romawi yang tidak menyebut Mekah, tapi juga peninggalan² arkeologi kuno Arabia tidak menyatakan keberadaan kota itu sebelum abad ke-4 M. Dengan begitu, tidaklah mungkin untuk bisa memasukkan nama Abraham dan monotheisme di Mekah, tidak untuk sesaat saja, apalagi untuk seluruh jaman Arabia. Meskipun begitu, Muslim di seluruh dunia tetap percaya bahwa Abraham dan putranya Ishmael membangun Ka’bah di Mekah. Tiada seorang pun yang bisa menulis ulang sejarah, sebagai usaha mencoga meyakinkan manusia tentang sejarah masa lalu suatu daerah, jika sejarah daerah itu sudah terlebih dahulu dicatat oleh berbagai sejarawan dan diselidiki oleh para arkeologis.

Arkeologi Arabia Timur Menyangkal Keterangan Mekah Sudah Ada Sejak Jaman Dahulu

Sejarah kota² kuno di Arabia timur dan barat yang telah ada ribuan tahun sebelum jaman Kristus, dan bahkan sejak jaman Abraham, memiliki berbagai peninggalan arkeologi yang mengungkapkan sejarah kota² tersebut. Peninggalan² kuno ini juga membuktikan bahwa Mekah, yang tanpa bukti sejarah kuno apapun, tidak mungkin ada di jaman Abraham.

Arabia timur memiliki peninggalan sejarah yang cukup lengkap, dan daerah ini berhubungan dengan Mesopotamia kuno, yang sekarang adalah Iraq. Sejarah Arabia timur, termasuk daerah pantai Teluk Persia, tidak berhubungan dengan Arabia barat, karena daerah barat dan timur dipisahkan oleh dua gurun pasir besar: Ar’ Rub’ al-khali di selatan dan An Nafud di utara. Sejarah kuno tak menunjukkan adanya komunikasi apapun antara Arabia timur dan barat. Kita memiliki banyak peninggalan arkeologi daerah Teluk Persia yang membantu kita untuk mengetahui sejarah Arabia timur dan hubungannya dengan dinasti² Mesopotami, yang telah berlangsung beberapa ribu tahun sebelum jaman Kristus. Dari peninggalan² itu, diketahui bahwa daerah timur Arabia memiliki jaman kejayaan dan kekuasaan sendiri. Untuk menentukan tanggal penemuan² arkeologi di Arabia timur, kita bisa memeriksa kronologi kejadian² di Mesopotamia.

Dilmun

Salah satu kerajaan kuno paling penting di Arabia timur adalah Dilmun, yang menguasai daerah yang sekarang menjadi negara Bahrain. Dalam banyak jaman, kekuasaan Dilmun berkembang mencapai sebagian besar daerah Teluk Persia. Dilmun telah berkembang sejak tahun 3000 SM, karena perdagangannya dengan Lembah Indus (India dan Pakistan di jaman sekarang) dan Mesopotamia.

Penemuan² arkeologi, seperti barang² tembikar dan perabotan lainnya, menunjukkan bahwa kebudayaan Arabia kuno ternyata sama tuanya dengan kebudayaan Mesopotamia. Kontak antara Dilmun dan Mesopotamia tercatat sejak milenia ke-4 sampai ke-3 SM. Prasasti² Sumeria dan Akkad juga menyebut tentang Dilmun di seluruh sejarah awal mereka. [89] Kerajaan Dilmun memiliki banyak lahan² arkeologi yang menunjukkan sejarah mereka, seperti urutan raja² Dilmun yang dimulai dari tahun 1800 SM. Meskipun raja pertama tidak bernama, terdapat tiga raja yang berkuasa di tahun 1470-1320 SM. Setelah itu urutan raja mulai lagi di tahun 720 SM dengan Raja Uperi dan berlanjut dengan raja² berikutnya sampai kerajaan Dilmun dikuasai Raja Nabonidus dari Babylonia. Nabonidus menunjuk seorang gubernur atas Dilmun di tahun 550-540 SM.
[89] R.W. Ehrich, Chronologies in Old World Archaeology, 3rd Edition, I-II, Chicago, 1992, I, hal. 67-68; juga lihat D.T. Potts, Dilmun, New Studies in the Archaeology and Early History of Bahrain, (BBVO2), Berlin, 1983, dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, hal. 145

Keterangan bahwa Dilmun dikuasai oleh kerajaan² Assyria, Babylonia, Yunani dan Persia tercantum di berbagai peninggalan arkeologi, dan juga prasasti dari luar kerajaan² yang menjajahnya.

Magan

Kerajaan timur Arabia lainnya yang penting adalah Magan, yang lokasinya adalah di daerah Oman di jaman modern. Dari kota Ur di Sumeria, kita mendapatkan prasasti yang berkenaan dengan Magan, dari tahun 2800-2500 SM. Kita juga punya prasasti² tentang Magan dari periode Akkadic yang dimulai dengan raja Sargon yang menaklukkan negara² Sumeria di Iraq. Dia mendirikan kekaisaran Akkad di sekitar tahun 2340 SM. Prasasti² Raja Sargon menyebutkan bahwa Sargon “menyebabkan kapal² layar dari Meluhha (Pakistan), Magan dan Dilmun merapat ke pangkalan pelabuhan Agade.” [90]
[90] J.B. Pritchard, Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, Princeton, 268

Kekuasaan Magan mencakup daerah Oman, menyeberangi Selat Hormuz, ke daerah Iran, sampai ke daerah utara yang sekarang adalah negara United Arab Emirats (UAE) di Teluk Persia. Banyak lahan² arkeologi di Oman dan UAE yang menunjukkan berbagai keterangan penting tentang kerajaan Magan, misalnya tentang tiga raja Magan. Raja pertama adalah Raja Manitan, yang berkuasa di sekitar tahun 2240 SM, 150 tahun sebelum jaman Abraham. Yang kedua adalah raja tak bernama yang berkuasa di sekitar tahun 2060 SM, dan yang ketiga adalah Raja Nabudeli, yang berkuasa di sekitar tahun 2043 SM. Aku menyebut ketiga raja ini karena mereka hidup di jaman Abraham dan putra²nya. Ini merupakan penemuan penting yang menunjukkan kebudayaan kuno Arabia, di jaman Abraham dan bahkan sebelumnya, dan para raja ini benar² pernah ada. Peninggalan mereka merupakan bukti keberadaan mereka di Arabia timur, sama seperti kebudayaan lain di daerah Mesopotamia. Peninggalan ini membuktikan bahwa mereka sudah ada ribuan tahun sebelum jaman Abraham, sama seperti kebudayaan Dilmun dan Magan.

Kita lihat bahwa nama² para raja di jaman sangat kuno ini tercatat dengan baik. Mekah tidak punya catatan kuno arkeologi apapun, meskipun Muslim mengatakan Mekah sudah ada sejak jaman Abraham.

Arkeologi Mesopotamia dan Arabia timur menunjukkan bahwa Arabia barat tidak dikenal masyarakat Mesopotamia dan Arabia timur. Dengan begitu, bagaimana mungkin Abraham, penduduk kota Ur di Iraq, bisa menuju ke tempat yang tak dikenal pada jamannya?

Dari kerajaan Dilmun di Arabia timur, kita temukan berbagai catatan arkeologi raja² dan kejadian sejauh milenia ke-3 SM (3000 SM), sampai jaman penjajahan Islam di abad ke-7 M. Akan tetapi di Arabia tengah barat, di mana Mekah kelak dibangun, tiada catatan kebudayaan apapun sampai beberapa abad setelah jaman Kristus, sebagaimana yang telah dibahas dari tulisan² para geografer dan sejarawan kuno. Fakta menunjukkan bahwa tak ada peninggalan sejarah budaya apapun di Arabia barat di jaman Abraham. Padang pasir sangat luas yang memisahkan Arabia timur dan barat tidaklah dapat disebrangi oleh manusia di jaman Abraham. Hal ini menyebabkan Arabia barat tidak terjamah oleh penduduk Arabia timur dan Mesopotamia pada waktu itu. Hal ini sama juga seperti bangsa Eropa melihat Samudra Atlantik sebelum jaman Penjelajahan Columbus.

Daerah Arabia barat tak dikenal masyarakat Arabia timur dan juga masyarakat Mesopotamia di jaman Abraham. Kita bisa membaca keterangan Alkitab yang menyatakan Mesopotamia adalah tempat di mana Abraham hidup sebelum dia dipanggil Tuhan untuk pergi ke Tanah Perjanjian.

Kita punya banyak prasasti sejarah Mesopotamia tentang daerah timur Teluk Persia, termasuk periode Sumeria dan Akkadik dan kekuasaan mereka atas tempat tinggal Abraham, yakni kota Ur di Iraq. Tapi kita tidak menemukan catatan apapun dari Mesopotamia tentang Arabia tengah barat, di mana Mekah kelak dibangun. Catatan sejarah pertama yang menyebut daerah Arabia barat adalah tentang Yaman, yang terletak di baratdaya Arabia. Keterangan tentang Yaman telah ditemukan di prasasati² Mesir di abad ke-14 SM, yang merupakan tujuh abad setelah jaman Abraham. Prasasti² arkeologi di Mesopotamia, termasuk kota Ur, kotanya Abraham, tidak menyebutkan tentang Yaman sampai di abad ke-8 SM. Lalu prasasti² Assyria menyebut raja Saba-Yaman, yang menyerahkan upeti kepada raja Assyria yakni Sargon II. Hal ini menunjukkan bahwa Yaman, yang merupakan kebudayaan tertua baratdaya Arabia, tidak dikenal masyarakat Mesopotamia di jaman Abraham. Tak ada keterangan Mesopotamia apapun di jaman kuno tentang Arabia tengah barat di sepanjang jalur Laut Merah. Mengapa begitu? Hal ini karena daerah itu tak berpenghuni sampai di abad ke-3 SM, ketika jalur dagang dari Yaman di daerah Laut Merah mulai berkembang. Arabia barat di jaman Abraham adalah daerah kosong dan tak berpenghuni.

Selain peninggalan sejarah, juga terdapat sebuah novel yang ditulis di jaman itu. Buku The Epic of Gilgamesh ditulis di kota Uruk di Mesopotamia, sekitar 2000 SM, yakni 100 tahun setelah Abraham hidup di Ur, kota utama Mesopotamia. Tempat² kejadian The Epic of Gilgamesh menerangkan pada kita tentang kehidupan kuno di Mesopotamia. Sejarawan Hommel memberi komentar tentang bagian ke-9 syair panjang buku itu:

Kita diberitahu bagaimana Gilgamesh pergi ke tanah Mashu di Arabia tengah, yang merupakan pintu gerbang yang dijaga oleh orang² yang mirip kalajengking; karena itulah julukan “tanah kegelapan” diterapkan pada daerah Arabia di jaman tarikh awal Ibrani. 

Selama 12 mil sang pahlawan harus berjalan melalui kegelapan pekat. Akhirnya dia tiba di daerah sempit dekat pantai yang dihuni dewi perawan Sabitu, yang mengatakan padanya bahwa, “sejak jaman jaman dahulu, tiada seorang pun bisa mengarungi lautan untuk menyelamatkan Shamash, sang pahlawan. Penyeberangan sangat sukar dan berbahaya, dan jalan masuk ke air kematian tertutup dengan baut. Bagaimana, wahai kau Gilgamesh, bisa melampaui lautan?”

[91]
[91] Hommel, Ancient Hebrew Tradition, pages 35-39, dikutip oleh Wilfred Schoff tentang komentarnya akan The Periplus of the Erythraean Sea, Munshiram Manoharial Publishers Pvt Ltd., 1995, hal. 134

Kisah ini ditulis di jaman Abraham dan kebudayaan Mesopotamia, di mana orang tidak bisa masuk ke Arabia tengah karena “pintu gerbangnya dijaga manusia yang mirip kalajengking,” dan tiada seorang pun yang berhasil mengarungi lautan ke Arabia baratdaya. Dengan begitu sudah jelas bahwa masyarakat Uruk dan Ur (kota tempat tinggal Abraham) menganggap Arabia tengah sebagai daerah yang misterius. Jika yang dimaksud buku itu adalah Yaman, yang terletak di baratdaya Arabia, maka tentunya daerah tengah barat Arabia di mana Mekah kelak dibangun akan terlebih asing lagi bagi masyarakat Mesopotamia.

Jika daerah Mashu di Arabia tengah merupakan daerah tak dikenal oleh masyarakat Mesopotamia dan tiada seorang pun yang pernah melalui daerah ini, maka terlebih lagi daerah Arabia barat bagi masyarakat Mesopotamia. Bagaimana mungkin orang seperti Abraham, yang berasal dari kota Ur (yang merupakan salah satu kota yang paling berkembang di Mesopotamia yang subur) meninggalkan Palestina untuk pergi ke gurun pasir Arabia, lalu membangun kuil Ka’bah di tempat yang tak berpenghuni di jamannya? Hal ini seperti membayangkan Napoleon pergi ke Kutub Utara untuk membangun gereja sebelum orang bisa mencapai Kutub Utara. Atau seperti membayangkan Napoleon mendaki puncak Himalaya untuk membangun kuil, sedangkan Napoleon sendiri belum tahu tentang puncak Himalaya. Pernyataan bahwa kebudayaan Yaman telah berhubungan dengan kerajaan² Palestina di jaman Abraham adalah salah dan tak terbukti. Kerajaan pertama Yaman baru dibangun di abad ke-14 SM, atau tujuh abad setelah jaman Abraham. Kota² Yaman di jalur dagang dekat Laut Merah menunju ke Arabia tengah barat belumlah ada di jaman Abraham. Kota² baru muncul setelah Yaman mulai berdagang dengan Israel dan Syria. Selain itu, kota Mekah nantinya akan dibangun oleh suku² asal Yaman, di beberapa abad setelah jaman Kristus.

Kehidupan Abraham, seperti yang ditulis Musa, menunjukkan minat Abraham untuk pergi ke Mesir di saat wabah kelaparan terjadi di Palestina, dan bukannya pergi ke daerah gurun pasir tak dikenal di jamannya seperti Arabia tengah.

Mari kita tinjau sejarah Abraham, seperti yang tercantum di Alkitab. Abraham adalah warga Ur dari Mesopotamia selatan, yang hidup di tanah yang tersubur dan paling berbudaya di abad ke-21 SM. Ketika wabah kelaparan melanda Kanaan/Palestina, Abraham melakukan apa yang dilakukan semua orang berakal. Dia tidak memilih pergi ke tanah asing tak dikenal olehnya yang lebih jelek keadaannya daripada tanah asalnya, tapi dia memilih pergi ke tanah Mesir. Mengapa? Karena di jaman itu, Mesir adalah satu² daerah beradab yang setara kualitasnya dengan negara asalnya Mesopotamia. Setelah wabah kelaparan berakhir, Abraham kembali lagi ke Kanaan, tanah indah yang disediakan tuhannya baginnya, dan tanah warisan bagi Ishak putranya. Abraham lebih memilih pergi sebentar ke Mesir, bahkan jikalau dia harus meninggalkan Kanaan untuk sementara. Dengan begitu, bagaimana mungkin dia bisa pergi ke gurun pasir tak dikenal seperti Arabia barat, letak Mekah kelak dibangun?

Para kepala keluarga yang hidup di sekitar Abraham tidak pernah menyebut Abraham melakukan perjalanan ke gurun pasir tak dikenal Arabia tengah di jamannya. Tiada nabi apapun di Alkitab dan literatur keturunan Abraham yang menyatakan perjalanan ke Arabia.

Guna menjelaskan hal ini, maka aku membuat pengandaian jika Abraham benar² memilih pergi ke Arabia barat. Jika benar begitu, mengapa keturunannya tidak pernah menulis tentang perjalanan bersejarah ke Arabia ini? Mereka mencatat semua kehidupan Abraham dengan terperinci, dari sejak dia mulai berangkat ke Tanah Perjanjian, tapi mengapa mereka lalu tidak mencatat perjalanan penting ke Arabia?

Kita tahu Musa mencatat kehidupan Abraham dengan penuh detail. Bagaimana mungkin Musa bisa luput mencatat perjalanan besar ke Arabia dan tidak menyertakan pengakuan Muslim bahwa Abraham membangun kuil Ka’bah di Mekah? Bagaimana mungkin semua nabi Israel diam saja tentang kejadian yang begitu penting, jika itu memang benar² terjadi? Mengapa kita tak menemukan satu pun keterangan perjalanan Abraham ke Arabia di seluruh catatan² kuno Ibrani? Jika Abraham memang mengunjungi gurun pasir Arabia, di tempat Mekah kelak dibangun di abad ke-4 M, maka dia tentunya adalah pionir pendiri kota itu. Keturunannya akan menyampaikan prestasi cemerlang ini ke berbagai nabi, sejarawan, dan penulis² lainnya. Kuil Ka’bah di Mekah akan jadi tempat ziarah bagi keturunan Ishak dan Yakub kerana pentingnya peranan Abraham sebagai bapak utama kepercayaan mereka. Tapi kita tidak melihat siapapun dari bani Israel, sejak jaman Musa sampai ke jaman berbagai nabi lainnya, pergi mencari tempat ibadah Ka’bah di Arabia atau naik haji ke Mekah.

Agar lebih jelas lagi, maka bayangkan jika orang² Alaska mengaku bahwa Shakespear hidup diantara mereka dan membangun kuil ibadah di Alaska. Untuk membenarkan pengakuan mereka, masyarakat Alaska harus bisa menunjukkan bukti sejarah, dan bukannya hanya bukti tulisan nabi mereka, atau kesaksian orang yang hidup raturan tahun setelah jaman Shakespear. Satu²nya sumber terpercaya adalah sejarah Inggris, karena tak ada sejarah apapun yang ditulis orang Alaska di jaman Shakespear tentang kedatangannya ke Alaska. Dengan begitu, kita bisa memeriksa bahwa sumber² sejarah asli Inggris tidak pernah menyebutkan Shakespear mengunjungi Alaska. Hal ini sama seperti membangun keterangan Abraham mengunjungi Arabia barat. Karena tiadanya bukti tulisan kuno Arabia apapun di jaman Abraham tentang kunjungan Abraham ke Mekah, maka satu²nya cara logis untuk memeriksa kebenaran ini hanyalah dari semua tulisan² keturunan Abraham di Israel sejak jaman Musa. Tiada satu pun keterangan mereka yang menyebut klaim Islam bahwa Abraham pernah mengunjungi Mekah dan membangun kuil di sana. Dengan begitu, kita bisa lihat bahwa klaim Islam bahwa Mekah sudah ada sejak abad ke-21 SM dan Abraham membangun Ka’bah di Mekah, adalah omong kosong semata dan kebohongan yang dijejalkan ke dalam sejarah Islam. Setelah mengamati semua bukti ini, tak ada seorang pun orang waras berakal yang bisa menerima klaim Islam tersebut.

Karena agamanya sudah terbukti salah dalam mengutarakan fakta sejarah, maka seharusnya Muslim meninggalkan Islam. Tiada orang waras yang mau menggantungkan semua nasib akhiratnya pada agama yang mengandung begitu banyak kesalahan sejarah.

About these ads
This entry was posted in BAGIAN 2. Bookmark the permalink.

6 Responses to Bagian 2 – 3. Sejarah dan Arkeologi Arabia

  1. senthir says:

    Salut betul atas buku ini. Mustinya para intelektual Indonesia kalau nulis buku spt ini. Menggunakan sumber dari berbagai pihak. Sayangnya, kita tak punya perpustakaan yang benar-benar lengkap. Perpustakaan di Vatican itu sulit ditandingi oleh perpustakaan manapun di Indonesia.

  2. asoy says:

    kitab suci adalah kebenaran, masalah mulai muncul di pengikut aka umat, karena keterbatasan pengetahuan atau goblok dan ilmu juga kurang dan ga mau minta penjelasan, jadi ngartiin firman jadi salah, bahasa kitab suci adalah bahasa tingkat tinggi, bahasa sastra, bahasa sloka, bahasa khiasan, bahasa makna, sebagian besar ayat2 nya adalah penuh makna bukan arti yang tertulis, butuh ilmu tinggi untuk menterjemahkannya, makanya mau belajar kitab suci harus orang2 yang cerdas, ilmu jangan nanggung kaya yang nulis nih blog, bisa sesat nanti nya dan menyesatkan orang lain, belajar dulu sana yang banyak baru nulis..tingkat pemahaman al qur’an aja ada sekitar 10 tingkat, orang goblok yang pelajarin hasilnya sesuai dengan kegoblokan nya, orang yang cerdas dan banyak ilmu pendukungnya terutama sastra dari bahasa redaksi nya hasilnya akan lebih bagus dari orang kebanyakan, itulah gunanya ilmu tafsir bukan ilmu terjemahan..
    yang nulis blog ini levelnya baru ilmu terjemahan aka kopi paste, belum level tafsir…kasihan sekali..sastra arab aja ga ngerti mau coba2 pelajarin al qur’an, ya hasilnya kelas kambing, bau busuk…kekekekkeke….

    • Adipati says:

      Menanggapi pendapat “asoys” yang kurang elegan tersebut, saya sangat menyayangkan pendapat semacam itu, yang terkesan agak “kampungan” atau “kurang beradab”. Jika memang Arabia tengah dahulu belum ada peradabannya atau sering disebut Masa Jahilliyah, ya memang harus kita akui dengan sportif. Tidak berarti, pendapat para ahli arkeologi tersebut bermaksud menjatuhkan Islam, tetapi memang benar adanya keadaan Arabia Tengah pada masa itu tidak berpenghuni. Tidak perlu mengungkit-ungkit tentang penafsiran Sastra Arab, ilmu tafsir, dan lain-lain, karena tidak ada sangkut-pautnya dengan peradaban manusia Arabia Tengah saat itu.

  3. andi says:

    trus yang bener apa mas?

  4. ryan says:

    Bismillahir-Rah maanir-
    Rahim … Belum lama ini,
    pemerintah Turki
    mengumumkan tentang
    penemuan Kitab Injil
    Asli Barnabas
    , salah satu murid
    pertama Yesus (Isa
    Almasih).
    Hal yang tentu saja
    mengejutkan banyak
    pihak, termasuk kubu
    Vatikan itu
    sendiri.Sebagaimana
    diberitakan oleh
    DailyMail, basijpress dan
    NationalTurk, bahwa Injil
    Barnabas asli tersebut
    ditemukan pada tahun
    2000 lalu di Turki, namun
    ditutupi oleh pemerintah
    Turki selama lebih dari 12
    tahun, dan baru
    sekarang di beberkan ke
    publik.Lembaran-
    lembaran kulit hewan itu
    ditulis dengan huruf
    Syriac dengan dialek
    bahasa Aram, bahasa
    yang sama seperti
    bahasa yang umum
    dipakai pada masa Yesus
    Isa Almasih.
    Pemerintah Turki
    menyakini bahwa kitab
    kulit hewan tersebut
    adalah Injil Barnabas
    orisinal.Hal yang menarik
    dari Kitab Injil Barnabas
    Asli asal Turki tersebut
    menyatakan bahwa
    YESUS TIDAK PERNAH DI
    SALIB, dan terdapatnya
    ayat-ayat yang
    menyatakan bahwa
    Islam adalah agama yang
    benar serta pengakuan
    tentang kehadiran Nabi
    Akhir Jaman,
    Muhammmad SAW.
    Pengakuan itu terdapat
    pada bab 41 dari Kitab
    Barnabas yang
    ditemukan di Turki
    tersebut. Berikut ini
    terjemahannya :”Allah
    telah menyembunyikan
    diriNya sebagai Malaikat
    Agung Michael berlari
    mereka (Adam dan
    Hawa) dari surga, (dan)
    ketika Adam berbalik, ia
    melihat bahwa di atas
    pintu gerbang ke surga
    tertulis “La Ela ELA Allah,
    Mohamad Rasul
    Allah”Kitab yang masih
    menjadi perdebatan
    tersebut disebutkan kini
    disimpan di Justice
    Palace, Ankara, Turki
    dengan pengawalan
    ketat polisi bersenjata
    lengkap dan keamanan
    maksimum.
    Pihak Iran lewat Basij
    Press menyatakan
    bahwa apa yang tertulis
    di kitab Barnabas asli
    tersebut adalah bukti
    tentang kebenaran Islam,

  5. adi cahyono says:

    ketinggalan loe, injil barnabas sudah disangkal oleh kaum intelektual muslim sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s